Seringai Singgung Pemerkosaan 1998 di Soundrenaline 2026
Seringai Hadirkan Refleksi Sosial di Soundrenaline 2026 Seringai Singgung Pemerkosaan 1998 di Soundrenaline 2026 - Penampilan band heavy metal Jakarta

Seringai Hadirkan Refleksi Sosial di Soundrenaline 2026
Tempatdonasi.com – Penampilan band heavy metal Jakarta, Seringai, menjadi salah satu momen berkesan di hari pertama penyelenggaraan Soundrenaline Sana Sini tahun 2026. Konser yang berlangsung di Taman Kota Peruri Stage pada Sabtu, 18 Juli 2026, ini menghadirkan energi kuat dari musisi yang telah berdiri sejak tahun 2002 tersebut. Selama satu jam penuh, mulai pukul 18.00 WIB, mereka memukau penonton dengan setlist yang tidak hanya menampilkan lagu-lagu hits, tetapi juga menyisipkan pesan-pesan sosial yang mendalam.
Album IV: Anastasis dan Transformasi Band
Salah satu fokus utama penampilan adalah promosi album terbaru mereka yang berjudul IV: Anastasis. Vokalis Arian Arifin membuka sesi dengan menyampaikan salam hangat kepada seluruh penonton yang hadir.
«Selamat malam Soundrenaline! Terima kasih sudah beraku sopan, faktor umur kali ya. Tapi, sama saya juga. Tahun ini saya berusia 52 tahun. Kami baru saja merilis album IV: Anastasis.»
Menurut penjelasan Arian, album ini merupakan hasil dari perubahan komposisi band setelah kepergian Ricky Siahaan. Dua gitaris baru, yaitu Angga Kusuma dan Darma Respati, resmi bergabung dan membawa warna segar bagi Seringai. Sementara itu, Sammy Bramantyo tetap konsisten memegang posisi bass, dan Edy Khemod melanjutkan perannya sebagai drummer. Kombinasi ini menciptakan dinamika baru yang terlihat jelas dalam penampilan mereka di atas panggung.
Membungkam Sejarah dan Mengangkat Isu Sosial
Dua lagu dari album terbaru langsung dibawakan secara berurutan, yakni «Melunaskan Dendam» dan «Membungkam 98». Melalui «Membungkam 98», Arian menyampaikan kritik tajam terhadap kondisi politik saat ini. Ia menyoroti bagaimana rezim yang berkuasa saat ini dianggap berusaha menutupi sejarah, baik peristiwa tahun 1965 maupun tragedi pemerkosaan massal tahun 1998.
«Lagu ini tentang bagaimana rezim sekarang membungkam sejarah ’65 dulu dan kita dibungkam soal ’98 juga. Tapi gue yakin masih ada orang di sini yang meneruskan cerita ini. Lagu ini spesifik tentang pemerkosaan massal ’98 yang dianggap seorang menteri kejadian itu tak pernah ada.»
Penyampaian ini mendapat respons positif dari penonton yang mulai membentuk circle pit seiring dengan distorsi gitar yang berpadu dengan ketukan drum bertempo cepat. Suasana semakin hidup ketika Seringai membawakan lagu «Sejati» sebagai refleksi tentang pertemanan di usia yang semakin matang.
«Semakin dewasa lingkungan pertemanan kita, yang paling dekat, semakin kecil. Maka mari menormalisasikan tak lagi menemani orang-orang yang toxic.»
Kesehatan Mental dan Kekerasan Verbal
Sebelum memasuki lagu «Tragedi», Arian kembali menyinggung isu sosial yang sedang hangat. Ia mengkritik upaya menciptakan konflik horizontal di kalangan masyarakat sebagai strategi untuk mengalihkan perhatian dari kebobrokan pemerintahan. Narasi penyimpangan yang sering digunakan, menurutnya, bukanlah hal baru dan telah terjadi sejak lama.
Lagu «Pulang» kemudian menjadi momen reflektif ketika Arian berbagi pengalaman pribadinya tentang depresi yang tidak terlihat dari luar. Ia menyadari bahwa banyak orang merasakan hal serupa akibat tekanan lingkungan, sosial, maupun luka-luka masa lalu yang belum terselesaikan.
Penampilan berlanjut dengan lagu «Individu Merdeka» yang membuat penonton bernyanyi bersama, disusul oleh «Sang Lelaki». Arian menjelaskan bahwa lagu ini sebenarnya merupakan karya lama yang pernah dirilis dalam format vinyl 7 inci, dan mengangkat tema kekerasan verbal dalam hubungan manusia.
Acara ditutup dengan lagu populer «Dilarang di Bandung», namun Seringai tidak langsung berhenti. Mereka melanjutkan dengan «Selamanya» sebagai penutup yang sempurna untuk penampilan malam itu, meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh penonton yang hadir.
