Program Terbaru: Bank QNB Indonesia bukukan aset Rp13,2 triliun pada 2025

Bank QNB Indonesia Catatkan Peningkatan Aset Rp13,2 Triliun di 2025

Dalam sebuah pernyataan resmi yang diterima di Jakarta, Sabtu, Direktur Utama PT Bank QNB Indonesia Tbk Nick Groene mengungkapkan bahwa perusahaan mencatatkan pertumbuhan aset sebesar 3 persen secara tahunan, mencapai total Rp13,2 triliun untuk tahun 2025. Peningkatan ini menunjukkan kemampuan perusahaan menjaga pertumbuhan yang terukur sekaligus memastikan kualitas aset dan likuiditas tetap stabil, meski menghadapi tantangan dari lingkungan ekonomi global dan domestik yang tidak pasti.

Kinerja yang Kuat dan Disiplin

Nick Groene menegaskan bahwa pencapaian tersebut mencerminkan ketangguhan model bisnis perusahaan serta kemajuan yang telah dicapai dalam memperkuat fondasi keuangan. Menurutnya, peningkatan aset tahunan ini menggambarkan komitmen bank dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas risiko.

“Kinerja bank di 2025 mencerminkan ketangguhan model bisnis kami serta kemajuan yang telah dicapai dalam memperkuat fundamental bank,” ujar Nick Groene.

Pertumbuhan Kredit dan Sektor Pendukung

Perusahaan juga mencatatkan peningkatan kredit bersih sebesar 18 persen secara tahunan hingga 31 Desember 2025, melebihi rata-rata pertumbuhan kredit di industri perbankan nasional yang mencapai 9,6 persen, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Peningkatan ini terutama didorong oleh sektor informasi dan komunikasi, industri manufaktur, serta layanan keuangan dan asuransi, yang menunjukkan kefokusan perusahaan dalam mendukung usaha-usaha strategis nasional.

Kredit Berbasis ESG dan Hasil Keuangan

Dalam upaya mencapai keberlanjutan, Bank QNB Indonesia sukses menyalurkan kredit pertama berbasis ESG. Capaian ini menjadi langkah penting dalam mengarahkan operasional perusahaan ke praktik bisnis yang lebih tanggung jawab dan ramah lingkungan. Selain itu, perusahaan juga menghasilkan laba sebelum pajak Rp50,8 miliar serta mencatatkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) hingga 11 persen.

Manajemen Risiko dan Kinerja Keuangan

Perusahaan juga berhasil menurunkan rasio kredit bermasalah (NPL) bruto menjadi 2,2 persen, dibandingkan 2,7 persen pada 2024. Penurunan ini disertai dengan pengurangan provisi, yang mencerminkan manajemen risiko yang lebih hati-hati dan pengendalian kualitas aset yang efektif. Kinerja positif ini mendukung daya tahan permodalan dan likuiditas, terlihat dari LCR mencapai 119,95 persen serta NSFR sebesar 140,40 persen, di atas ambang minimum regulator.

Prioritas untuk Tahun 2026

Nick Groene menambahkan bahwa perusahaan akan fokus pada pengembangan lini bisnis perbankan korporasi dan institusional. Tantangan dan peluang tahun depan akan ditangani dengan memperkuat kemampuan digital, memanfaatkan jaringan regional QNB Group, serta memperdalam hubungan dengan nasabah korporasi tier-1 dan klien konglomerasi.

“Di 2026, kami akan terus memanfaatkan peluang untuk mendukung lebih banyak transaksi dan investasi lintas negara. Didukung fundamental yang kuat serta strategi yang lebih terarah, kami optimis dapat menangkap kesempatan pertumbuhan dengan tetap memprioritaskan prinsip kehati-hatian,” tuturnya.