Skip to content
Travel

Tren Wisatawan Indonesia ke Korea, Tak Selalu tentang Seoul

Tegar Utami - tempatdonasi.com 4 mins read

latan, Mengintai Pengalaman yang Lebih Kaya Latest Program - Di tengah semakin populer-nya budaya Korea secara global, minat wisatawan Indonesia terhadap

Tren Wisatawan Indonesia ke Korea, Tak Selalu tentang Seoul

Tren Wisatawan Indonesia ke Korea Selatan, Mengintai Pengalaman yang Lebih Kaya

Tempatdonasi.com – Di tengah semakin populer-nya budaya Korea secara global, minat wisatawan Indonesia terhadap Negeri Ginseng kini mulai mengalami pergeseran. Bukan hanya kota besar seperti Seoul yang masih menjadi pusat utama, sejumlah destinasi lain di Korea Selatan mulai menarik perhatian dengan penawaran pengalaman budaya, sejarah, dan kuliner yang lebih autentik.

Survei Menyoroti Faktor Penentu Minat Wisatawan

Dalam laporan terbaru yang dirilis oleh Airbnb, berjudul *Korea Calling: How K-Culture Is Driving a New Generation of Travelers into Korea*, terungkap bahwa sebanyak 97 persen wisatawan Indonesia mengakui pengaruh budaya Korea sebagai penggerak utama dalam memutuskan perjalanan ke sana. Laporan ini bersumber dari survei yang melibatkan 4.500 responden di Australia, India, Indonesia, Jepang, Tiongkok, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Amerika Serikat, yang dilakukan bulan Maret 2026.

Menurut Amanpreet Bajaj, Country Head Airbnb untuk Asia Tenggara dan India, budaya Korea masih menjadi magnet utama bagi banyak wisatawan Indonesia. Namun, tren terbaru menunjukkan bahwa ketertarikan masyarakat mulai berubah. “Banyak wisatawan kini tidak hanya tertarik pada kota hiburan seperti Seoul, tetapi lebih memilih menjelajah daerah lain untuk mengakses keunikan budaya dan pengalaman yang lebih mendalam,” jelasnya dalam pernyataan tertulis, Senin, 22 Juni 2026.

Destinasi Populer di Luar Seoul

Dari hasil survei, ketertarikan wisatawan Indonesia tidak lagi terpusat pada satu titik. Saat ini, kota-kota seperti Busan, Pulau Jeju, Incheon, Gyeonggi, dan Daegu menjadi pilihan utama. Busan dan sekitarnya menduduki posisi pertama dengan 81 persen responden yang menyebutnya sebagai tujuan favorit. Pulau Jeju mengikuti dengan 58 persen, disusul Incheon dan Gyeonggi (47 persen), serta Daegu (39 persen).

Ketertarikan ini dipicu oleh berbagai aspek. Menurut survei, 66 persen responden menyebut keindahan alam dan pemandangan yang menarik sebagai alasan utama. Selain itu, 56 persen wisatawan terpikat oleh makanan lokal, 41 persen karena tradisi dan budaya yang khas, serta 40 persen lainnya terinspirasi oleh film atau drama Korea yang menceritakan kehidupan di tempat-tempat tersebut.

Ketersediaan Akomodasi Memengaruhi Pemilihan Tujuan

Ketersediaan tempat menginap juga menjadi faktor krusial dalam pergeseran ini. Dalam survei, 84 persen wisatawan mengaku siap mengunjungi daerah luar Seoul jika ada opsi penginapan yang sesuai. Homestay, khususnya, dianggap sebagai pilihan penting. Sebanyak 70 persen responden menilai keberadaan homestay meningkatkan kenyamanan perjalanan, sementara 68 persen menyebut penginapan lokal lebih praktis untuk durasi tinggal yang lama.

Homestay tidak hanya memudahkan akses, tetapi juga memperkaya interaksi dengan masyarakat setempat. Wisatawan bisa merasakan kehidupan sehari-hari penduduk, menyaksikan tradisi lokal, atau mencicipi masakan khas yang lebih terjangkau dibandingkan hotel biasa. Faktor ini menunjukkan bahwa perjalanan sekarang lebih menekankan kualitas pengalaman daripada kenyamanan fisik semata.

Perbedaan Minat Berdasarkan Generasi

Riset ini juga mengungkap perbedaan preferensi antargenerasi. Dalam survei, 6 persen generasi Z dan Milenial menyebut K-pop sebagai penyebab utama minat mereka terhadap Korea Selatan. Jumlah ini jauh lebih rendah dibandingkan kelompok usia dewasa yang mencapai 23 persen. Sebaliknya, wisatawan yang lebih tua cenderung tertarik pada warisan budaya (67 persen) dibandingkan Gen Z (46 persen).

Menariknya, makanan lokal tetap menjadi daya tarik universal yang menyatukan semua kalangan. Sebanyak 65 persen wisatawan, baik dari generasi mana pun, menganggap makanan autentik sebagai alasan utama kunjungan ke Korea Selatan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun minat berbeda berdasarkan usia, aspek kuliner tetap menjadi pengikat utama.

Pengalaman Wisata Berkelompok dan Biaya Perjalanan

Hasil survei juga menyebutkan bahwa wisatawan Indonesia cenderung bepergian secara berkelompok. Sebanyak 60 persen mengunjungi Korea Selatan bersama pasangan, 42 persen bersama keluarga, dan 22 persen dengan teman. Rata-rata durasi tinggal mencapai 5,5 malam, dengan anggaran pengeluaran per orang per perjalanan sebesar lebih dari Rp30 juta, di luar biaya tiket pesawat.

Pergeseran ini menunjukkan bahwa wisatawan Indonesia kini lebih mengutamakan keberlanjutan pengalaman. Mereka ingin merasakan nuansa yang lebih alami, bukan hanya kegiatan wisata yang diatur atau bertujuan foto-foto. Dengan mengunjungi daerah yang belum banyak diketahui, mereka bisa menjelajahi sisi Korea yang berbeda dari yang biasa dipromosikan.

Langkah Mendatang untuk Memperkaya Wisata

Amanpreet Bajaj menambahkan bahwa pengembangan akses ke akomodasi lokal dan pengalaman budaya di luar kota utama akan menjadi kunci utama dalam memastikan tren ini terus berkembang. “Ketika wisatawan memiliki pilihan penginapan yang memadai di daerah-daerah kecil, mereka lebih mungkin memperpanjang durasi tinggal dan mengeksplorasi lebih banyak tempat,” ujarnya.

Dengan meningkatnya jumlah homestay dan penginapan alternatif, diharapkan akan tercipta keseimbangan antara kemudahan akses dan kualitas pengalaman. Selain itu, pemerintah dan pengelola pariwisata Korea Selatan perlu terus mengembangkan promosi yang menyoroti keunikan wilayah non-pembangunan utama. Misalnya, menggali potensi Pulau Jeju sebagai destinasi alam yang menawarkan kehidupan sederhana, atau Busan sebagai pusat seni dan budaya yang khas.

Ketertarikan pada Keunikan Budaya

Pengalaman budaya menjadi inti dari perjalanan wisatawan Indonesia ke Korea Selatan. Tidak hanya atraksi wisata yang terkenal, mereka juga tertarik pada tradisi unik seperti upacara budaya, pertunjukan musik tradisional, atau festival lokal. Sejumlah responden menyebut pengalaman ini sebagai bagian penting dari tujuan liburan mereka, terutama untuk kelompok usia dewasa yang lebih memprioritaskan keakuratan budaya dibandingkan hiburan.

Ketertarikan ini juga seiring dengan kenaikan jumlah turis yang mengunjungi Korea Selatan dalam lima tahun ke depan. Sebanyak 89 persen responden menyatakan rencana kembali ke Negeri Ginseng, menunjukkan bahwa minat ini tidak hanya sekadar tren sementara. Dengan adanya infrastruktur akomodasi yang mendukung, diharapkan akan tercipta kesinambungan perjalanan yang lebih dalam dan menyeluruh.

“Kebiasaan masyarakat Indonesia berubah. Mereka tidak hanya ingin berfoto di tempat yang populer, tetapi juga ingin merasakan kehidupan sehari-hari penduduk Korea melalui penginapan lokal dan interaksi langsung,” ujar Amanpreet Bajaj.

Perubahan ini menegaskan bahwa budaya Korea tidak hanya berdampak pada industri musik dan

Join the discussion