Skip to content
Bisnis

Produsen Tarik Minyakita Berbau BBM dari Peredaran

Sari Setiawan - tempatdonasi.com 4 mins read

Produsen Minyakita Perbaiki Kualitas Setelah Tarik Produk Berbau BBM New Policy - PT Kusuma Mukti Remaja (KMR), produsen Minyakita, telah mengonfirmasi bahwa

Produsen Tarik Minyakita Berbau BBM dari Peredaran

Produsen Minyakita Perbaiki Kualitas Setelah Tarik Produk Berbau BBM

Tempatdonasi.com – PT Kusuma Mukti Remaja (KMR), produsen Minyakita, telah mengonfirmasi bahwa seluruh produk bantuan pangan yang terindikasi memiliki aroma bahan bakar minyak (BBM) telah ditarik dari distribusi. Perusahaan menjadi sorotan setelah masyarakat melaporkan keberadaan bau solar atau minyak tanah pada produk yang seharusnya berupa minyak goreng. Meski awalnya hanya ada keluhan terbatas, kini langkah penarikan telah mencapai 100 persen di daerah yang terkena dampak.

Kebijakan Penarikan Produk dan Dukungan Pihak Lain

Direktur PT KMR, Joko Mukti Wijaya, menjelaskan bahwa tindakan penarikan dilakukan terhadap semua produk dari batch yang diduga mengalami masalah, bukan hanya kemasan yang dikeluhkan. “Hari ini kami sudah menarik 100 persen. Minyak goreng yang bermasalah di Karanganyar, Klaten, dan Wonogiri sudah kita tarik semuanya,” tutur Joko dalam konferensi pers di pabrik KMR, Karanganyar, Jawa Tengah, Jumat, 26 Juni 2026.

“Kami menunggu hasil laboratorium agar tidak membuat kesimpulan yang keliru,” kata Joko.

Dalam proses ini, perusahaan mengakui kerja sama dengan Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) serta perangkat desa, sehingga penggantian produk bisa mencapai wilayah terpencil. Joko menegaskan bahwa tidak ada hambatan signifikan selama distribusi produk baru kepada masyarakat yang menerima bantuan pangan. Tindakan ini diambil sebagai langkah pencegahan, meski penyebab kontaminasi masih dalam investigasi.

Jumlah Produk yang Ditarik dan Penggunaan Alternatif

Menurut data internal KMR, total volume produk yang ditarik mencapai lebih dari 182.500 liter. Rinciannya, Karanganyar menyumbang 42.644 liter, Wonogiri sebanyak 68.288 liter, dan Klaten sekitar 71.648 liter. Semua produk yang terkena telah diganti dengan minyak goreng baru. Sementara itu, data penarikan di Kabupaten Tegal belum disampaikan karena masih dalam proses rekapitulasi.

Joko menyebutkan bahwa batch yang bermasalah dianggap sekitar 100 ton, tetapi perusahaan memutuskan menarik 300 ton untuk memastikan tidak ada risiko penyebaran. “Kalau satu batch bermasalah, kami tidak bisa pilih-pilih. Semuanya harus ditarik,” ujarnya. Produk yang ditarik tidak akan diedarkan kembali ke konsumen. Sebaliknya, minyak goreng tersebut akan dijual sebagai used cooking oil (UCO) atau minyak jelantah untuk bahan baku biosolar.

Potensi Penyebab Kontaminasi dan Skenario Selanjutnya

KMR masih menyelidiki akar masalah aroma solar atau minyak tanah pada produk. Dugaan sementara menunjukkan bahwa kontaminasi mungkin terjadi selama penyimpanan atau proses pengangkutan. Namun, perusahaan belum mengambil kesimpulan akhir sebelum hasil pengujian laboratorium terungkap dalam satu hingga dua minggu mendatang.

Perusahaan juga menyampaikan bahwa kejadian ini hanya terjadi pada produk yang diproduksi selama empat hari, yakni periode 2-5 Juni 2026. Seluruh produksi di luar rentang waktu tersebut dianggap aman dan tetap didistribusikan, termasuk ke Bulog Jawa Barat yang masih berjalan hingga kini. Joko menekankan bahwa batch yang bermasalah khusus untuk program bantuan pangan pemerintah, tidak terdapat di pasar komersial.

“Untuk pasar aman. Yang bermasalah itu hampir 100 persen memang produksi bantuan pangan,” tutur Joko.

Dalam menghadapi masalah ini, KMR berkomitmen untuk bertanggung jawab jika ditemukan masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan karena mengonsumsi produk yang bermasalah. Meski demikian, hingga saat ini perusahaan belum menerima laporan medis dari masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa langkah penarikan segera dilakukan sebagai upaya preventif.

Kemitraan dengan Bulog dan Pengalaman Sebelumnya

KMR telah bekerja sama dengan Bulog sejak dua hingga tiga tahun lalu, dengan total penyaluran lebih dari 10.000 ton. Dalam masa tersebut, kasus kualitas seperti ini dianggap pertama kalinya terjadi. Joko menjelaskan bahwa perusahaan memproduksi sekitar 5.000 ton minyak goreng per bulan, dan dari jumlah tersebut, hanya sekitar 20 ton yang diduga terdampak. Angka ini merupakan kurang dari dua persen dari total produksi bulanan.

Selain itu, perusahaan mengungkapkan telah memberikan keterangan kepada pihak kepolisian terkait kasus penanganan ini. Pemeriksaan fokus pada penyebab dugaan kontaminasi serta langkah yang diambil dalam menarik dan mengganti produk. Joko menyatakan bahwa KMR terus berupaya memperbaiki sistem pengawasan mutu (quality control) seiring masukan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Langkah Penguatan Sistem dan Proyeksi Masa Depan

Sebagai tindak lanjut, KMR berjanji memperketat proses pengawasan mutu guna menghindari kejadian serupa. Tindakan ini diambil setelah analisis menyebutkan adanya celah dalam pengelolaan produk bantuan. Direktur Joko juga menegaskan bahwa seluruh batch yang terkena dampak merupakan bagian dari program bantuan pangan, sehingga tidak mengganggu pasokan untuk konsumsi umum.

Kasus ini menunjukkan bahwa meski KMR telah menarik produk dari peredaran, pengawasan harus lebih ketat untuk memastikan keandalan produk. Selain itu, perusahaan memperkuat komitmen untuk mengganti produk secara cepat dan transparan. Joko meminta masyarakat untuk tetap tenang, karena langkah penarikan telah mencapai 100 persen di wilayah yang terdampak. “Kami sudah mengganti semua produk yang terkena, dan tidak ada masalah distribusi di sana,” kata Joko.

Di sisi lain, penggunaan UCO sebagai bahan baku biosolar menjadi solusi alternatif untuk meminimalkan pemborosan. Joko menjelaskan bahwa minyak goreng yang bermasalah akan diproses ulang agar tetap bermanfaat. Namun, produk tersebut tidak akan diberikan kembali kepada konsumen, sebagai langkah kehati-hatian.

Dengan penarikan produk yang mencapai 182.500 liter, KMR berharap dapat memperbaiki reputasi dan menjaga kepercayaan publik. Perusahaan juga menegaskan bahwa kejadian ini tidak mengganggu program bantuan pangan yang sedang berjalan, karena batch yang bermasalah hanya sebagian kecil dari total produksi. Dalam waktu dekat, hasil investigasi laboratorium akan menjadi bahan penilaian lebih lanjut untuk tindakan yang diperlukan.

Langkah ini menjadi contoh komitmen produsen dalam menjaga kualitas produk, terlepas dari kemungkinan kesalahan selama produksi. Dengan kerja sama instansi terkait, KMR berupaya mengurangi risiko kontaminasi dan memastikan keamanan makanan untuk masyarakat. Proses ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya mengambil tindakan segera, tetapi juga memperbaiki sistem untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.

Join the discussion