New Policy: Olahan salak naik kelas, BRI bawa SALAKU tembus pasar global di FHA 2026 di Singapura
Olahan Salak Naik Kelas, BRI Bawa SALAKU Tembus Pasar Global di FHA 2026 di Singapura
New Policy – Jakarta, 28 Mei 2025 – Inisiatif olahan berbasis komoditas lokal kini menunjukkan gelombang baru dalam kemampuan untuk berkembang dan menjangkau pasar internasional. Salah satu langkah paling mencolok adalah keikutsertaan PT Salaku Cara Enak Makan Salak (SALAKU) di acara Food & Hospitality Asia (FHA) 2026 yang digelar di Singapura. Ajang ini menjadi platform strategis bagi SALAKU untuk memperkenalkan inovasi unggulannya kepada para pengusaha, pelaku industri makanan, serta pembeli dari berbagai negara. Dukungan signifikan dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI melalui program pemberdayaan BRI UMKM EXPORT menjadi pendorong utama keberhasilan SALAKU dalam menggarap pasar global.
Proses Pemberdayaan yang Memperkuat Bisnis
SALAKU, usaha kecil menengah (UMKM) berbasis salak yang berdiri sejak 2016 di Bekasi, tidak hanya fokus pada kualitas produk tetapi juga pada konsep keberlanjutan. Melalui program BRI UMKM EXPORT, perusahaan ini mendapatkan pendampingan komprehensif yang mencakup pengembangan kemasan, optimasi proses produksi, serta kurasi produk untuk memastikan daya saing di tingkat internasional. Keterbatasan dalam produksi dan upaya membangun pemahaman pasar terhadap produk salak menjadi tantangan utama, namun dengan bantuan BRI, SALAKU mampu mengubah hambatan menjadi peluang.
“Perjalanan ini dimulai dari nol, dengan segala keterbatasan yang ada. Proses produksi dilakukan secara sederhana, eksperimen dilakukan berulang kali, dan kegagalan menjadi bagian yang tidak terpisahkan,” kata Shelly, pemilik SALAKU, dalam wawancara khusus. “Namun dari proses itulah kami menemukan kekuatan utama yaitu inovasi yang konsisten dan keberanian untuk berbeda. Kami tidak hanya ingin membuat produk yang enak, tetapi juga menciptakan nilai baik dari sisi kualitas, keberlanjutan, maupun dampak sosial bagi petani dan komunitas sekitar,” tambahnya.
“Perjalanan ini dimulai dari nol, dengan segala keterbatasan yang ada. Proses produksi dilakukan secara sederhana, eksperimen dilakukan berulang kali, dan kegagalan menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Namun dari proses itulah kami menemukan kekuatan utama yaitu inovasi yang konsisten dan keberanian untuk berbeda. Kami tidak hanya ingin membuat produk yang enak, tetapi juga menciptakan nilai baik dari sisi kualitas, keberlanjutan, maupun dampak sosial bagi petani dan komunitas sekitar.”
SALAKU, yang dikenal dengan produk unggul seperti Browker Ori dan Cheese Sagu, menghadirkan camilan sehat yang berbahan dasar salak dengan konsep zero waste. Inovasi ini menarik perhatian banyak konsumen lokal dan internasional, terutama karena keunikan rasa serta nilai lingkungan yang terkandung. Dukungan dari BRI tidak hanya berupa bantuan finansial tetapi juga pelatihan terkait standar internasional dan strategi penetrasi pasar. “Kami mempelajari seluk-beluk standar ekspor, cara menyusun strategi pemasaran yang efektif, serta cara membangun hubungan dengan pembeli di luar negeri,” jelas Shelly.
Kurasi Produk dan Siapnya Jaringan Pemasaran
Dalam FHA 2026, SALAKU memanfaatkan momentum untuk memperkenalkan produk secara lebih intensif. Aktivitas sampling, edukasi, serta penjajakan kerja sama menjadi bagian dari strategi promosi yang dilakukan. Interaksi langsung dengan buyer dan pelaku industri dari berbagai negara memberikan gambaran jelas tentang preferensi konsumen global. Selain itu, perusahaan ini juga menggandeng berbagai kanal pemasaran, mulai dari retail modern, toko oleh-oleh, marketplace, media sosial, hingga jaringan reseller. Pemanfaatan layanan transaksi digital BRI seperti EDC, QRIS, dan BRImo diterapkan untuk memudahkan proses penjualan dan meningkatkan akses ke pasar internasional.
Sekarang, SALAKU mampu memproduksi ribuan produk setiap bulan, dengan penekanan pada kualitas dan keberlanjutan. Konsep zero waste yang diusung oleh perusahaan ini tidak hanya mengurangi limbah tetapi juga menciptakan nilai tambah melalui penggunaan bahan yang lebih efisien. “Kami membangun nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar dengan mengolah salak secara utuh, mulai dari buah hingga kulitnya. Ini adalah langkah konkret untuk mendukung ekonomi lokal sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan,” ungkap Shelly.
“Selama pameran, kami merasakan langsung bagaimana produk olahan salak yang sebelumnya dianggap niche ternyata memiliki daya tarik kuat di pasar luar negeri, terutama karena keunikan rasa dan konsep zero waste yang kami usung. Interaksi dengan berbagai buyer, distributor, dan pelaku industri F&B dari berbagai negara juga memperkaya insight kami terhadap tren dan kebutuhan pasar global,” tambah Shelly.
Direktur Commercial Banking BRI, Alexander Dippo Paris Y.S., menilai keberhasilan SALAKU menembus pasar internasional melalui FHA 2026 adalah bukti nyata dari potensi UMKM dalam menciptakan produk bernilai tambah. “SALAKU menjadi contoh bagaimana UMKM dapat berkembang melalui inovasi yang konsisten dan relevan dengan kebutuhan pasar. Melalui proses kurasi dan pemberdayaan, BRI memastikan pelaku usaha tidak hanya siap dari sisi produk, tetapi juga memiliki kesiapan bisnis untuk masuk ke pasar internasional,” paparnya.
Program BRI UMKM EXPORT diharapkan mampu memperkuat kapasitas UMKM lokal untuk bersaing di tingkat global. BRI menggali potensi usaha dengan pendekatan holistik, mulai dari pengembangan produk hingga penguatan jaringan distribusi. “Ke depan, BRI akan terus memperkuat pemberdayaan UMKM agar mampu naik kelas dan memiliki daya saing di pasar global,” pungkas Alexander Dippo Paris Y.S. Dukungan ini memberikan harapan baru bagi UMKM lainnya yang ingin mengembangkan inovasi berbasis produk lokal.
Komitmen Ekspor dan Perspektif Global
Kehadiran SALAKU di FHA 2026 menunjukkan langkah berani dalam memasuki pasar global. Dukungan BRI bukan hanya sekadar finansial tetapi juga membantu mengakses pelaku industri yang memiliki kebutuhan khusus. “Kami ingin menunjukkan bahwa produk lokal seperti salak bisa menjadi bahan yang mampu menginspirasi inovasi di tingkat internasional,” kata Shelly. Hal ini sejalan dengan visi BRI dalam memperkuat ekspor UMKM dan menghadirkan solusi inovatif yang sesuai dengan standar global.
Dengan inovasi yang konsisten, SALAKU telah membuktikan bahwa produk berbasis salak bisa menjadi pilihan yang menarik bagi konsumen internasional. Selain itu, konsep zero waste yang diterapkan juga memberikan nilai tambah terhadap keberlanjutan lingkungan. Keberhasilan ini diharapkan menjadi motivasi bagi UMKM lainnya untuk menjajaki pasar ekspor dengan konsep serupa. BRI berperan sebagai mitra yang membantu UMKM membangun fondasi bisnis yang solid, serta membuka jalan untuk ekspansi yang lebih luas.
