Strategi Penting: Kemenkes soroti penanganan AIDS, TBC, dan malaria di Papua Pegunungan

Kemenkes Soroti Upaya Penanganan AIDS, TBC, dan Malaria di Papua Pegunungan

Dalam upaya mengatasi penyakit Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS), Tuberculosis (TBC), serta Malaria di Papua Pegunungan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia melalui Asosiasi Dinas Kesehatan (Adinkes) menyampaikan pentingnya penanganan yang komprehensif. Anggota Badan Eksekutif Adinkes Ferdinan J Laihad menegaskan bahwa perlu adanya peningkatan komitmen dari pemerintah daerah untuk memastikan program ini berjalan efektif.

“Penanganan penyakit ini harus optimal agar bisa teratasi. Kami harap pemerintah provinsi dan kabupaten bisa memberikan dukungan penuh agar tercapai sinkronisasi antara program pusat dan daerah,” ujarnya.

Menurut Ferdinan, pengendalian penyakit AIDS, TBC, dan Malaria tidak hanya bergantung pada Dinas Kesehatan, melainkan memerlukan partisipasi dari berbagai sektor. Ia menekankan bahwa kerja sama antara lembaga pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat lokal menjadi faktor kunci dalam menekan penyebaran penyakit tersebut.

“Dukungan lintas sektor, termasuk lembaga pemerintah dan non-pemerintah, serta keterlibatan masyarakat, akan membantu mengendalikan penyakit di wilayah Papua Pegunungan,” tambahnya.

Kemenkes fokus pada enam daerah di Papua Pegunungan yang selama ini mendapat bantuan dari Global Fund, dana internasional untuk pemberantasan penyakit menular. Daerah-daerah ini menjadi prioritas karena memiliki program yang sudah terbukti berhasil.

“Inisiatif yang diterapkan di enam kabupaten tersebut dapat diadopsi di daerah lain di seluruh Indonesia. Namun saat ini, Global Fund hanya memantau enam kabupaten,” jelas Ferdinan.

Selain itu, ia menyebutkan bahwa intervensi di Papua Pegunungan tetap fokus pada daerah yang sama. Namun, ada tantangan terkait keamanan yang membuat metode penanganan harus disesuaikan.

“Meski lokus intervensi tidak berubah, metode pelaksanaannya berbeda karena faktor keamanan. Hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko korban, dengan menggabungkan kegiatan di lokasi tertentu yang disetujui Adinkes pusat,” katanya.