Strategi Penting: Akademisi sebut program biodiesel efektif tekan impor BBM
Akademisi sebut program biodiesel efektif tekan impor BBM
Jakarta – Profesor di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Rhenald Kasali, menegaskan bahwa kebijakan biodiesel wajib memiliki kontribusi signifikan dalam mengurangi ketergantungan negara terhadap bahan bakar minyak (BBM) impor, terutama solar. Ia menekankan bahwa kebijakan ini berpotensi besar sebagai alternatif pengganti solar, apalagi dengan keberadaan bahan baku kelapa sawit yang melimpah serta kemajuan teknologi pemrosesan yang sudah cukup matang.
“Program biodiesel mampu mengurangi impor solar secara signifikan, sehingga berdampak positif pada neraca perdagangan energi. Dengan kebijakan ini, Indonesia bisa menghemat hingga 8-10 miliar dolar AS per tahun,” jelasnya dalam pernyataan di Jakarta, Selasa.
Program Biodiesel dan Dampak Ekonomi
Dalam rangka mendukung keberlanjutan program biodiesel, Rhenald menyoroti perlunya pengelolaan industri kelapa sawit yang baik. Hal ini mencakup upaya mencegah deforestasi, menjaga ekosistem, serta melindungi hak masyarakat adat. Ia juga menyoroti pentingnya mengatasi konflik antara kebutuhan pangan dan energi.
“Perlu diingat, sawit bukan produk seragam untuk energi. Peningkatan alokasi crude palm oil (CPO) ke sektor energi bisa mengurangi pasokan pangan, sehingga menyebabkan kelangkaan dan kenaikan harga minyak goreng,” tambahnya.
Direktur Eksekutif Institute Strategi Kebijakan Agribisnis Minyak Kelapa (PASPI), Tungkot Sipayung, menambahkan bahwa pengembangan bioenergi melalui kebijakan biodiesel wajib sangat berperan dalam menurunkan impor BBM berbasis fosil. Pemerintah Indonesia telah secara bertahap menerapkan kebijakan ini, mulai dari B1 hingga B25 pada 2008, dan berlanjut hingga B50 dengan dukungan dana sawit hasil pungutan ekspor (levy) yang dikelola Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
“Salah satu keberhasilan kita saat ini adalah substitusi solar impor dengan biodiesel sawit,” kata Tungkot.
Menurut Tungkot, tujuan utama pengembangan bioenergi sawit adalah untuk memperbaiki lingkungan. Ia menjelaskan bahwa penggunaan biodiesel dianggap lebih ramah karena menghasilkan emisi gas rumah kaca yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil. Selain itu, konsumsi bahan bakar fosil secara global adalah penyebab utama emisi sekitar 70-80 persen yang memicu pemanasan global dan perubahan iklim.
“Dengan memakai bioenergi sawit, Indonesia berkontribusi mengurangi emisi global, artinya penggunaannya tidak merusak lingkungan tetapi justru memperbaikinya,” ujarnya.
Dukungan untuk Pengembangan Bioenergi
Tungkot juga menyoroti bahwa peningkatan pemanfaatan biodiesel di dalam negeri akan memberikan dampak luas, bukan hanya pada sektor energi tapi juga pada perekonomian secara keseluruhan. Kebijakan ini memberi manfaat positif bagi industri kelapa sawit, termasuk meningkatkan permintaan terhadap CPO.
“Permintaan CPO akan naik, sehingga dapat membantu menjaga harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani. Oleh karena itu, produktivitas kebun sawit harus terus ditingkatkan dan teknologi bioenergi diperbaiki agar semakin efisien,” pungkas Tungkot.
