Strategi Penting: Pemkot Jaktim perkuat pangan lewat produk unggulan tiap kecamatan
Pemkot Jaktim perkuat pangan lewat produk unggulan tiap kecamatan
Jakarta, Pemerintah Kota Jakarta Timur (Pemkot) menegaskan komitmennya dalam memperkuat ketahanan pangan dan mengendalikan inflasi melalui inisiatif urban farming di seluruh kecamatan. Pemkot Jaktim menggencarkan pengembangan pertanian perkotaan berdasarkan potensi wilayah masing-masing, dengan strategi utama berupa konsep ‘Satu Kecamatan Satu Produk Unggulan’ sebagai fokus utama.
“Kita terus gencarkan pengembangan urban farming berbasis potensi wilayah. Salah satu strategi utama yang didorong adalah konsep ‘Satu Kecamatan Satu Produk Unggulan’,” kata Kepala Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) Jakarta Timur Taufik Yulianto dalam acara “Sosialisasi Urban Farming untuk Ketahanan Pangan Kita di Jakarta Timur”, Senin.
Menurut Taufik, urban farming kini tidak lagi sekadar kegiatan menanam tanaman di area perkotaan. Strategi ini bertujuan memperkuat ketahanan pangan keluarga, meningkatkan kemandirian wilayah, serta membantu menjaga stabilitas harga pangan. “Urban farming untuk kita bersama, dengan ketahanan pangan sebagai tujuan utama yang kita tekankan,” ujarnya.
Program ini dilaksanakan sebagai hasil kerja sama lintas sektor antara Pemkot Jakarta Timur melalui Bagian Perekonomian, Sudin KPKP, Sudin Komunikasi, Informatika dan Statistik (Kominfotik), serta dukungan Baznas Bazis Jakarta Timur. Taufik menegaskan, kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi gerakan bersama seluruh elemen masyarakat.
Pelaksanaan Roadshow Urban Farming
Taufik menyebut kegiatan sosialisasi ini sebagai bagian dari pra-roadshow Urban Farming Kota Administrasi Jakarta Timur Tahun 2026. Roadshow akan dimulai pada 14 April 2026 di Kecamatan Cipayung dan berakhir pada 24 September 2026 di Kecamatan Cakung, dengan penerapan bertahap di semua kecamatan. “Roadshow ini menjadi momentum penting untuk mendorong partisipasi masyarakat secara luas dalam pengembangan urban farming,” tambah Taufik.
Dengan adanya produk unggulan di tiap kecamatan, distribusi pangan dapat lebih merata, dan ketergantungan pada pasokan dari luar daerah berkurang. Taufik juga menekankan bahwa pemanfaatan lahan sempit dan lahan tidur menjadi fokus utama program. “Keterbatasan lahan di wilayah perkotaan bukan hambatan, melainkan peluang untuk berinovasi dalam produksi pangan,” ujarnya.
Inovasi dan Peran Masyarakat
Taufik berharap kegiatan ini mendorong munculnya inovasi dan kreativitas warga dalam mengelola potensi pangan lokal. “Ke depan kita ingin mewujudkan konsep ‘Satu Kecamatan Satu Produk Unggulan’, yaitu setiap kecamatan memiliki komoditas unggulan berdasarkan potensi wilayahnya, baik dari sektor pertanian, perikanan, peternakan, maupun pengolahan pangan,” jelasnya.
Webinar ini menampilkan tiga pembicara dengan pengalaman di bidangnya masing-masing. Mereka berasal dari BST Consulting, Kelompok Tani Berkah Jaya Kecamatan Duren Sawit, serta praktisi budidaya perikanan konsumsi berbasis bioflok dari Kecamatan Ciracas. Peserta yang mengikuti webinar online sebanyak 500 orang, termasuk aparatur kecamatan, penyuluh pertanian, Tim Penggerak PKK, petugas PPSU, dan komunitas urban farming di 10 kecamatan.
Taufik mengajak seluruh pihak untuk terus berkolaborasi menyukseskan urban farming sebagai solusi berkelanjutan di tengah tantangan perkotaan. “Jika masyarakat mampu memproduksi sebagian kebutuhan pangan sendiri, stabilitas harga akan lebih terjaga, inflasi dapat dikendalikan, dan masyarakat menjadi lebih mandiri serta sejahtera,” pungkas Taufik.
