Dosen ITB Gunakan Aplikasi SmartEdu untuk Perkuliahan
Dosen ITB Gunakan Aplikasi SmartEdu – Tim riset dari Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung (STEI ITB) telah mengembangkan platform ujian berbasis sistem SmartEdu sebagai alat bantu pembelajaran. Aplikasi ini digunakan untuk berbagai aktivitas akademik, seperti pengadaan ujian digital, pengelolaan soal, hingga analisis hasil evaluasi. Menurut Adi Indrayanto, ketua tim penelitian, SmartEdu memberikan kemudahan dalam mengukur tingkat pemahaman mahasiswa.
Fitur Ujian dan Kekurangan Mencontek
Adi mengungkapkan bahwa aplikasi ini diterapkan dalam mata kuliah yang diajarkannya, termasuk etika profesi, manajemen rekayasa industri, dan industri elektronika. SmartEdu menggunakan smartphone milik ITB yang tersedia dalam jumlah 50 unit. Dalam penggunaannya, ujian diatur agar soal dan jawaban berbentuk pilihan ganda diacak secara acak. Hal ini, menurut Adi, mengurangi kemungkinan mahasiswa mencontek karena setiap peserta menerima pertanyaan yang berbeda.
“Peserta ujian yang menggunakan sistem ini, soal dan pilihan jawabannya diacak, jadi akan lebih sulit untuk mencontek,” ujarnya.
Dalam situasi tertentu, SmartEdu juga bisa disesuaikan dengan alat yang lebih besar, seperti tablet atau komputer, untuk menyesuaikan tampilan soal. Dengan fitur ini, proses ujian lebih efisien, sekaligus memberikan pengalaman belajar yang lebih nyaman. Selain itu, sistem ini memungkinkan dosen memberikan umpan balik langsung kepada peserta ujian setelah tes selesai, sehingga peserta bisa memahami kesalahan mereka secara cepat.
SmartEdu juga digunakan untuk tes kuis sebelum perkuliahan dimulai. Adi menjelaskan bahwa hasil tes bisa diketahui secara langsung melalui aplikasi, yang memudahkan pengidentifikasian topik yang sering dijawab salah oleh mahasiswa. “Dosen jadi bisa lebih fokus untuk mengajarkan topik yang tadi banyak dijawab salah,” katanya.
Adi menambahkan bahwa aplikasi ini muncul dari kebutuhan Badan Kepegawaian Negara (BKN) yang memerlukan sistem ujian berbasis komputer untuk rekrutmen calon pegawai negeri sipil di daerah. Kebutuhan ini berawal dari tantangan akses ke komputer dan internet yang dihadapi masyarakat di area tertentu. Dengan SmartEdu, BKN bisa mengadakan ujian secara efisien tanpa perlu menyediakan banyak perangkat komputer.
“Mereka harus bawa banyak komputer pribadi atau laptop agar bisa menggelar ujian,” ujarnya.
Tim riset menegaskan bahwa SmartEdu tidak hanya berfungsi sebagai alat ujian, tetapi juga bisa digunakan untuk berbagai jenis tes. Aplikasi ini memungkinkan pihak lain, seperti lembaga pendidikan atau organisasi, untuk mengadakan ujian dalam bentuk pilihan ganda. Selain itu, alat yang dibutuhkan untuk mengoperasikan SmartEdu mencakup perangkat penghubung nirkabel (access point) yang menghubungkan pusat server ke perangkat genggam.
Adi menjelaskan bahwa alat ujian dirancang agar hanya dapat mengakses aplikasi SmartEdu dan tidak terhubung ke internet. Hal ini memastikan keamanan data dan mencegah akses ke sumber informasi eksternal. Kehadiran SmartEdu diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran karena peserta ujian bisa langsung menerima hasil dan bahan evaluasi yang diperlukan untuk perbaikan materi ajar.
Dalam pengembangan SmartEdu, tim riset juga mempertimbangkan kebutuhan pengguna berbagai tingkat pendidikan. Ahmad Fitryansyah, anggota tim, menyebutkan bahwa aplikasi ini bisa diakses oleh pelajar dari tingkat SD hingga SMA. “Selain ujian, pelajar juga bisa menggunakan EduSmart untuk tes lain yang memerlukan format pilihan ganda,” ujarnya.
SmartEdu saat ini telah memiliki sertifikat paten, yang menunjukkan inovasinya dalam sistem pendidikan modern. Aplikasi ini menawarkan solusi yang praktis untuk berbagai situasi, baik dalam lingkungan akademik maupun kebutuhan rekrutmen. Dengan adanya platform ini, kegiatan ujian tidak lagi bergantung pada perangkat fisik yang memakan banyak ruang, tetapi bisa dilakukan melalui perangkat portabel yang mudah dibawa.
Tim peneliti mengharapkan SmartEdu tidak hanya menjadi alat bantu dalam perkuliahan di ITB, tetapi juga bisa dipakai oleh institusi pendidikan lain di luar kampus. Adi Indrayanto menegaskan bahwa inovasi ini memiliki potensi besar untuk diterapkan secara luas, termasuk dalam sistem pendidikan formal dan non-formal. “Aplikasi ini bisa menjadi standar baru dalam pengadaan ujian digital,” kata Adi.
Keberhasilan penggunaan SmartEdu di STEI ITB menunjukkan bahwa teknologi bisa memberikan dampak positif pada proses belajar-mengajar. Selain memberikan kepraktisan, aplikasi ini juga meningkatkan akurasi dalam mengukur pencapaian siswa. Dengan penggunaan smartphone dan access point, pengelolaan ujian bisa lebih terpusat, sekaligus mengurangi beban logistik dalam penyelenggaraan kegiatan akademik.
Adi menambahkan bahwa pengembangan SmartEdu tidak hanya mengutamakan fungsi ujian, tetapi juga kenyamanan pengguna. Aplikasi ini dirancang agar responsif terhadap kebutuhan berbagai tingkat pendidikan, baik untuk mahasiswa, pelajar, maupun peserta tes khusus. “Sistem ini bisa disesuaikan dengan kondisi pengguna, termasuk penggunaan layar yang lebih luas jika diperlukan,” jelas Ahmad Fitryansyah.
Dengan adanya SmartEdu, proses evaluasi tidak lagi menjadi hambatan dalam pendidikan, tetapi menjadi bagian integral dari pembelajaran. Tim riset berharap aplikasi ini bisa terus dikembangkan dan dimanfaatkan oleh lebih banyak institusi untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. “Kami ingin SmartEdu bisa menjadi solusi universal untuk berbagai jenis ujian,” pungkas Adi.
