Pengamat HI UI: 3 Hal Pasca-Mou AS-Iran
Meeting Results – Setelah kesepakatan MoU antara Amerika Serikat dan Iran ditandatangani, dinamika politik dan keamanan di kawasan Timur Tengah tidak langsung membaik. Kekhawatiran ini diungkapkan oleh Shofwan Al Banna Choiruzzad, seorang dosen Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia (UI). Menurut dia, perjanjian tersebut mungkin menjadi awal dari perubahan, tetapi tidak menjamin akhir dari ketegangan yang berkepanjangan.
Kemungkinan Pertama: Israel Berusaha Menggagalkan Perundingan Damai
Dalam video yang diunggah pada Jumat, 19 Juni 2026, ke profesor Shofwan memprediksi tiga kemungkinan besar yang akan muncul setelah MoU ditandatangani. Yang pertama, ia menyebutkan bahwa Israel akan memperkuat upaya menghentikan proses perundingan damai. Menurutnya, keberhasilan negosiasi antara Iran dan AS dianggap sebagai ancaman terhadap kepentingan strategis Israel.
“Israel melihat kesepakatan ini sebagai bukti kegagalan strategi mereka, sehingga akan mengambil langkah apa pun untuk menghancurkannya,” ujar Shofwan seperti dikutip Tempo.
Shofwan menegaskan bahwa tindakan Israel ini bukan sekadar reaksi politik, tetapi juga sebagai upaya untuk menjaga dominasi di kawasan. Dia memperkirakan bahwa kegagalan perundingan damai akan berdampak besar pada karier Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel. Banyak pihak di dalam pemerintahan menilai ia sebagai pemimpin yang terlalu bergantung pada dukungan AS.
Dalam konteks ini, Shofwan menyebutkan bahwa Israel sudah menyusun daftar target operasi jika negosiasi final tidak tercapai. Penundaan perundingan dianggap sebagai bentuk pembalasan terhadap kekalahan strategis yang dialami oleh Zionis. Upaya ini juga bisa memicu kritik terhadap kebijakan AS yang lebih lembut terhadap Iran.
Kemungkinan Kedua: Trump Evaluasi Dampak Perubahan Pendekatan Washington
Menurut Shofwan, perubahan strategi Washington terhadap konflik Iran dan Israel menjadi fokus evaluasi Donald Trump. Ia menilai bahwa pendukungan penuh terhadap Israel selama 112 hari perang menimbulkan biaya politik yang signifikan. Perubahan pendekatan ini dianggap sebagai respons terhadap kerugian yang dialami AS akibat operasi militer yang berlangsung.
Trump, yang sebelumnya dikenal sebagai pendukung kebijakan agresif terhadap Iran, kini mencoba menimbang dampak dari keputusan strategis baru. Dengan memperkenalkan MoU, AS berusaha mencari keseimbangan antara kepentingan regional dan hubungan diplomatik dengan Iran. Shofwan memprediksi bahwa Trump akan memantau apakah pendekatan ini membawa hasil yang lebih baik atau justru memperparah situasi.
Sejumlah laporan menyebutkan bahwa pihak Iran mengambil langkah strategis untuk menekan kebijakan AS. Kegagalan negosiasi dengan AS bisa menjadi alasan bagi Iran untuk memperkuat posisi mereka dalam menggandeng pihak lain, seperti negara-negara Arab yang tergabung dalam konsensus regional.
Kemungkinan Ketiga: Kekalahan Zionis Memicu Kenaikan Brutal di Palestina
Shofwan mengingatkan bahwa keberhasilan Iran dalam memperoleh kesepakatan dengan AS berpotensi memicu peningkatan kebrutalan militer di wilayah Palestina. Ia menjelaskan bahwa jika perang antara Israel dan Iran berakhir, maka kekuatan Zionis mungkin merasa terancam dan memperketat operasi militer di Tepi Barat serta Jalur Gaza.
Menurut analisisnya, perubahan situasi tersebut bisa mempercepat penindasan terhadap rakyat Palestina. “Jika kekalahan Zionis tidak segera dihentikan, Israel akan semakin terlibat dalam tindakan represif,” kata Shofwan.
Shofwan mengimbau bahwa kesempatan ini harus dijadikan momentum untuk membangun solidaritas kemanusiaan di kawasan. Ia menekankan pentingnya kesadaran bahwa kekuatan militer besar bisa dikalahkan oleh keteguhan. “Jadikan MoU ini sebagai pengingat bahwa keberhasilan perdamaian tidak boleh diabaikan, terutama di wilayah yang sering terpuruk oleh konflik,” tegasnya.
Di sisi lain, perundingan teknis antara AS dan Iran yang seharusnya dilangsungkan di Swiss untuk mengimplementasikan gencatan senjata permanen ditunda. Penundaan ini terjadi karena operasi militer Israel di Libanon Selatan yang terus berlangsung. Menurut laporan, serangan pada Kamis malam hingga Jumat kemarin menewaskan setidaknya 16 warga sipil.
Shofwan menilai penundaan perundingan memperkuat narasi bahwa AS belum benar-benar mengubah arah kebijakan mereka terhadap konflik Timur Tengah. Ia menyebut bahwa Iran menunda delegasi ke Swiss karena masih memperhatikan dampak serangan militer di wilayah Palestina. Menurutnya, ini menunjukkan bahwa keberhasilan MoU tidak cukup untuk menjamin kestabilan di kawasan.
Lebih lanjut, dosen UI itu memperingatkan bahwa kegagalan AS dalam mengakhiri perang di Timur Tengah bisa mendorong munculnya narasi baru yang menyalahkan kebijakan Washington. Ia menambahkan bahwa narasi ini justru diharapkan oleh pihak Zionis untuk memperkuat kembali peran AS dalam konflik tersebut.
Dengan adanya MoU, Shofwan berharap ada perubahan mendasar dalam struktur kekuasaan di kawasan. Namun, ia tetap optimis bahwa kesepakatan ini bisa menjadi awal dari perundingan yang lebih luas. Ia menekankan bahwa peluang perdamaian tidak boleh disia-siakan, terutama dalam konteks penghargaan terhadap keteguhan Palestina.
Pilihan Editor: Perundingan AS-Iran di Swiss Ditunda karena Serangan Israel
Dalam konteks situasi terkini, penundaan perundingan di Swiss menjadi isu penting yang menunjukkan ketegangan antara kedua belah pihak. Meski MoU yang ditandatangani dianggap sebagai kemenangan bagi Iran, keberlanjutan konflik di Libanon Selatan dan Gaza menunjukkan bahwa masalah keamanan masih menjadi prioritas utama untuk pihak Israel. Shofwan menilai bahwa keberhasilan MoU hanyalah langkah awal, tetapi tidak menjamin akhir dari semua dinamika yang ada.
Kesepakatan ini juga menjadi momentum bagi negara-negara lain untuk menilai kembali kebijakan AS. Dengan adanya MoU, rakyat Timur Tengah mungkin akan lebih kritis terhadap keputusan Washington. Shofwan mengharapkan kesadaran bahwa kekuatan militer besar tidak selalu memperkuat dominasi, tetapi bisa justru menjadi penantang bagi pihak-pihak yang sebelumnya dianggap unggul.
Keberhasilan negosiasi antara AS dan Iran tidak akan segera mengubah segala sesuatu, tetapi bisa menjadi awal dari perubahan kecil. Shofwan meminta agar kesempatan ini digunakan untuk membangun perdamaian permanen, bukan hanya sekadar mengakhiri perang sementara. Ia menegaskan bahwa konflik Timur Tengah masih butuh penyelesaian yang lebih menyeluruh, baik secara politik maupun sosial.
Dengan mempertimbangkan semua aspek, Shofwan berharap bahwa MoU antara AS dan Iran akan menjadi bahan untuk mendiskusikan peran AS dalam kawasan. Ia menilai bahwa peran AS harus lebih adil, bukan hanya sebagai penjaga kepentingan Zionis. Pemimpin Amerika Serikat kini memiliki tugas besar untuk menjaga keseimbangan antara kekuatan regional dan kepentingan internasional.
Sebagai akhir dari analisis Shofwan, ia menekankan bahwa MoU bukanlah jaminan akhir dari masalah Timur Tengah. Namun, ia berharap bahwa kesepakatan ini bisa menjadi langkah awal menuju perdamaian yang lebih stabil. Ia menilai bahwa keberhasilan Iran dalam mengakhiri perang adalah bukti bahwa kekuatan besar bisa diatasi dengan keteguhan dan keberanian.
