Skip to content
Dunia

AS Setujui Jual Senjata Hampir 2 Miliar USD ke Arab Saudi

Tegar Utami - tempatdonasi.com 3 mins read

Washington Mengesahkan Transaksi Senjata Bernilai Hampir Dua Miliar Dolar untuk Arab Saudi AS Setujui Jual Senjata Hampir 2 Miliar - Pemerintah Amerika

AS Setujui Jual Senjata Hampir 2 Miliar USD ke Arab Saudi

Washington Mengesahkan Transaksi Senjata Bernilai Hampir Dua Miliar Dolar untuk Arab Saudi

Tempatdonasi.com – Pemerintah Amerika Serikat resmi menyetujui kesepakatan penjualan persenjataan senilai 1,96 miliar dolar AS kepada Kerajaan Arab Saudi. Nilai transaksi ini setara dengan sekitar 35 triliun rupiah dalam konversi mata uang. Departemen Luar Negeri AS menyampaikan pengumuman tersebut pada hari Rabu, 16 Juli, sebagai respons terhadap meningkatnya ketegangan keamanan di kawasan Timur Tengah. Langkah strategis ini dirancang untuk memperkuat sistem pertahanan udara Riyadh agar lebih siap menghadapi berbagai ancaman yang terus bermunculan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai sumber terpercaya, mekanisme penjualan ini menerapkan skema Foreign Military Sales. Keputusan penting ini diambil di tengah situasi konflik yang semakin memanas di kawasan, termasuk meningkatnya konfrontasi yang melibatkan tiga negara besar, yaitu Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Pejabat Departemen Luar Negeri AS menegaskan bahwa transaksi ini sejalan dengan kepentingan kebijakan luar negeri serta keamanan nasional Washington.

Penjualan yang diusulkan ini akan mendukung tujuan kebijakan luar negeri dan keamanan nasional Amerika Serikat dengan meningkatkan keamanan sekutu utama non-NATO yang menjadi kekuatan bagi stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di kawasan Teluk.

Komponen Senjata dan Kontraktor Utama dalam Transaksi

Laporan dari TRT World mengungkap bahwa paket senjata ini mencakup hingga 20.000 unit Advanced Precision Kill Weapon Systems atau APKWS lengkap dengan hulu ledaknya. Menurut keterangan resmi dari Angkatan Laut Amerika Serikat, APKWS merupakan sistem senjata presisi yang menawarkan harga relatif terjangkau. Sistem ini dirancang untuk menghancurkan sasaran dengan meminimalkan kerusakan di area sekitar saat pertempuran jarak dekat berlangsung.

Selain APKWS, Kerajaan Arab Saudi juga akan menerima peluncur, hulu ledak berdaya ledak tinggi, motor roket, serta sejumlah perlengkapan pertahanan lainnya. Kontraktor utama yang menangani transaksi besar ini adalah BAE Systems, sebuah perusahaan yang berkantor pusat di Nashua, New Jersey. Departemen Luar Negeri AS menjelaskan bahwa paket senjata tersebut dirancang khusus untuk meningkatkan kemampuan pertahanan udara Arab Saudi menghadapi ancaman yang terus berkembang, termasuk serangan pesawat nirawak dari kelompok proksi di kawasan.

Penjualan yang diusulkan ini akan meningkatkan kemampuan Arab Saudi untuk menangkal ancaman saat ini maupun di masa depan dengan memperkuat pertahanan dalam negerinya, serta meningkatkan interoperabilitas dengan pasukan Amerika Serikat dan pasukan regional maupun NATO.

Sistem senjata baru ini juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Riyadh terhadap rudal Patriot yang memiliki biaya operasional lebih mahal. Washington juga memastikan bahwa transaksi tersebut tidak akan mempengaruhi kesiapan militernya secara signifikan. Dengan adanya penambahan persenjataan ini, Arab Saudi diharapkan memiliki kemampuan yang lebih komprehensif dalam menghadapi berbagai skenario ancaman di masa depan.

Penjualan yang diusulkan ini tidak akan menimbulkan dampak negatif terhadap kesiapan pertahanan Amerika Serikat.

Konteks Konflik Regional yang Semakin Memanas

Persetujuan penjualan senjata ini diumumkan pada saat Arab Saudi kembali menghadapi ancaman eskalasi dengan kelompok Houthi di Yaman yang didukung oleh Iran. Kelompok pemberontak tersebut menembakkan rudal ke Bandara Abha di Arab Saudi bagian Selatan pada hari Senin, 13 Juli 2026. Serangan itu terjadi setelah Bandara Sanaa dihantam serangan udara yang memaksa sebuah pesawat yang mengangkut delegasi Houthi, yang baru kembali dari pemakaman pemimpin tertinggi Iran, mengalihkan penerbangannya. Houthi menuding Arab Saudi berada di balik serangan tersebut.

Pemimpin Houthi, Abdul-Malik al-Houthi, pada hari Kamis memperingatkan seluruh fasilitas minyak dan infrastruktur vital Arab Saudi akan menjadi sasaran rudal dan pesawat nirawak kelompoknya apabila Riyadh ikut terlibat dan memilih meningkatkan eskalasi konflik. Persetujuan penjualan senjata itu juga muncul ketika gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran mulai runtuh. Washington meningkatkan serangannya setelah memberlakukan blokade laut terhadap Iran.

Pilihan Editor: Trump: Cina Sepakat Tak Pasok Senjata ke Iran

Join the discussion