Dunia

Topics Covered: Netanyahu Tegaskan Belum Ada Gencatan Senjata dengan Libanon

Netanyahu: Kesepakatan Gencatan Senjata dengan Libanon Belum Final Topics Covered - Dalam pertemuan Kabinet Keamanan Israel, Perdana Menteri Benjamin

Desk Dunia
Published Juni 7, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Netanyahu: Kesepakatan Gencatan Senjata dengan Libanon Belum Final

Topics Covered – Dalam pertemuan Kabinet Keamanan Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa perundingan gencatan senjata antara Israel dan Libanon belum mencapai titik kesepakatan yang pasti. Pernyataan ini disampaikan menurut laporan Anadolu, yang mengutip penyiaran resmi Israel KAN pada Jumat, 5 Juni 2026. Meski Amerika Serikat terus berupaya mendorong penghentian pertempuran, Netanyahu mengatakan bahwa pihaknya masih menggodok syarat-syarat kesepakatan yang diperlukan.

Upaya AS untuk Membuka Jalur Perdamaian

Netanyahu menekankan bahwa keberhasilan perundingan bergantung pada keterlibatan Amerika Serikat. Ia menilai negara itu merupakan mitra strategis yang penting. “Kita masih butuh komunikasi dengan AS untuk memastikan jalur negosiasi tetap terbuka,” jelasnya. Meski demikian, ia menambahkan bahwa Israel tidak akan menunda tindakan militer jika kesepakatan tidak segera terwujud.

“Kesepakatan gencatan senjata belum sepenuhnya dirumuskan, dan masih ada elemen yang belum final,” kata Netanyahu.

Persetujuan Sementara antara Lebanon dan Israel

Sehari sebelumnya, Lebanon, Israel, dan Amerika Serikat mengumumkan hasil pembicaraan di Washington. Dalam pernyataan bersama, kedua belah pihak menyepakati prinsip gencatan senjata yang berdasarkan penghentian serangan Hizbullah serta penarikan pasukan dari daerah selatan Sungai Litani. Namun, Netanyahu menilai bahwa kesepakatan ini masih memerlukan penyesuaian sebelum dianggap mantap.

Menurut sumber internal, Libanon dan Israel sepakat untuk menerapkan gencatan senjata secara bersyarat. Presiden Libanon Joseph Aoun menyatakan bahwa AS akan memutuskan waktu dan mekanisme pelaksanaan. “Kesepakatan ini bisa dimulai dalam 24 jam setelah mendapatkan persetujuan,” ujarnya. Namun, pihak Hizbullah menolak keputusan tersebut, menyebutnya tidak memenuhi kebutuhan keamanan mereka.

“Hizbullah menentangnya, dan karena itu, dari perspektif Israel, saat ini tidak ada kesepakatan,” tambah Netanyahu.

Perbedaan Kebutuhan dan Tantangan Perundingan

Syarat yang diajukan Israel mencakup demiliterisasi wilayah selatan Libanon, zona keamanan yang dijaga pasukan militer, serta jaminan kebebasan bertindak terhadap ancaman langsung. Dalam beberapa hari terakhir, Israel meningkatkan operasi militer di Libanon karena Hizbullah diduga masih melanggar gencatan senjata yang diumumkan 17 April lalu. Meski gencatan senjata diperpanjang hingga awal Juli, kegiatan militer tetap berlangsung.

Netanyahu menjelaskan bahwa kondisi saat ini belum memungkinkan kesepakatan permanen. “Kita perlu memastikan bahwa semua syarat bisa dipenuhi sebelum benar-benar mengakhiri pertempuran,” katanya. Di sisi lain, Hizbullah terus melakukan serangan roket dan pesawat nirawak ke wilayah utara Israel, yang memicu ketegangan. Pemimpin Hizbullah Naim Qassem menolak hasil negosiasi, menganggapnya tidak adil.

“Hizbullah menolak kesepakatan yang diumumkan, sehingga tidak dapat diterapkan segera,” ujar Qassem.

Angkatan Bersenjata Israel Siap Memperluas Operasi

Kepala Staf Militer Israel Eyal Zamir mengatakan bahwa pemerintah harus menentukan arah kebijakan di fase berikutnya. Dilansir TRT World, Zamir menyebut bahwa militer siap memperluas operasi jika diperlukan. “Angkatan bersenjata juga siap memperluas pertempuran jika keputusan politik mengarah ke langkah tersebut,” lanjutnya.

Netanyahu menekankan bahwa kesepakatan gencatan senjata lebih baik dibandingkan terus berperang tanpa hasil. “Jika gencatan senjata bisa dicapai dengan syarat yang kami terima, lebih baik terjadi hari ini daripada satu bulan lagi dengan kondisi yang sama,” kata Zamir. Namun, ia mengakui bahwa penerapan kesepakatan akan memakan waktu jika pihak Lebanon dan Hizbullah belum sepakat.

Konteks Perang dan Upaya Damai

Perang antara Israel dan Hizbullah telah berlangsung selama beberapa bulan, mengakibatkan kerusakan infrastruktur dan korban sipil. Meski AS aktif memediasi, Netanyahu menilai bahwa keberhasilan diplomatik bergantung pada keputusan politik Israel. “Kita tidak bisa bergantung sepenuhnya pada AS, tetapi mereka tetap menjadi pendukung penting,” jelasnya.

Beberapa elemen di dalam pemerintah Israel menginginkan perundingan segera terwujud, sementara pihak lain menginginkan tekanan lebih lanjut terhadap Hizbullah. Netanyahu menyoroti bahwa syarat-syarat yang diajukan Israel memperhatikan keamanan nasional, tetapi tidak selalu sesuai dengan keinginan Libanon. “Kita memerlukan keseimbangan antara keamanan Israel dan kepentingan penduduk Lebanon,” ujarnya.

“Kita masih menunggu kesepakatan yang mencakup semua pihak terkait, termasuk AS sebagai mediator,” tambah Netanyahu.

Keberlanjutan Konflik dan Prospek Kedepan

Analisis dari pihak konservatif mengingatkan bahwa konflik antara Israel dan Lebanon bisa memanas kembali jika kesepakatan tidak segera diperoleh. Meski ada kerja sama dengan AS, Netanyahu menyatakan bahwa pihaknya tetap menempuh langkah militernya. “Operasi harus terus berjalan hingga kita mendapatkan penjelasan dari Hizbullah,” jelasnya.

Kebutuhan demiliterisasi dan penarikan pasukan dari daerah kritis menjadi fokus utama negosiasi. Netanyahu mengatakan bahwa Israel memprioritaskan pengamanan wilayah utara dan selatan, sementara Libanon ingin mempertahankan pengaruhnya di daerah perbatasan. Pernyataan ini memicu kekhawatiran bahwa kesepakatan akan sulit tercapai dalam waktu dekat.

Perspektif Internasional dan Dukungan Politik

Dalam pernyataan resmi, AS menegaskan dukungan untuk gencatan senjata yang diusulkan. Namun, keberhasilan ini tergantung pada kesiapan Lebanon dan Hizbullah. Trump, sebagai presiden saat itu, berperan aktif dalam memfasilitasi perundingan, tetapi hasilnya tetap memerlukan waktu. Netanyahu menyebut Trump sebagai mitra yang konsisten, meski ada perbedaan pendekatan dalam detail kesepakatan.

Kebutuhan Israel untuk memperoleh kepastian keamanan memicu tekanan terhadap Hizbullah. Namun, Presiden Libanon Joseph Aoun mengingatkan bahwa waktu untuk penerapan gencatan senjata masih ada. “Kita bisa memulai pelaksanaan dalam 24 jam jika semua pihak menyetujui,” katanya.

“Kita siap memulai pelaksanaan kesepakatan, asalkan semua syarat dipenuhi,” ujar Aoun.

Editor’s Choice: Kesepakatan Bersyarat antara Israel dan Lebanon

Pilihan Editor: Israel-Libanon Sepakati Gencatan Senjata Bersyarat

Kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Libanon yang di

Leave a Comment