Tekno

New Policy: Peneliti BRIN Abadikan Jejak Bintang di Langit Timau, NTT

Peneliti BRIN Captur Star Trail di Langit Timau, NTT New Policy - Langit malam di kawasan Observatorium Nasional Timau, Nusa Tenggara Timur, tetap menjadi

Desk Tekno
Published Juni 21, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Peneliti BRIN Captur Star Trail di Langit Timau, NTT

New Policy – Langit malam di kawasan Observatorium Nasional Timau, Nusa Tenggara Timur, tetap menjadi tempat yang penuh pesona. Di sini, Thomas Djamaluddin, peneliti dari Badan Riset Nasional (BRIN), sukses menangkap fenomena jejak bintang (star trail) yang mengesankan. Fenomena tersebut memperlihatkan pola cahaya bintang yang membentuk lingkaran, mencerminkan dinamika alam semesta sekaligus keindahan astronomi.

Proses Pengamatan yang Menyita Waktu

Pemotretan dilakukan selama kurun waktu 10 jam, dengan pengambilan gambar dimulai pada Kamis, 18 Juni 2026, pukul 19.00 WITA hingga Jumat, 19 Juni 2026, pukul 05.00 WITA. Meski menggunakan kamera DSLR, durasi pengambilan hanya mencapai tiga jam karena kondisi cuaca yang tidak selalu ideal. Thomas menyebut teknik ini memerlukan kesabaran ekstra, terutama untuk memastikan langit tetap gelap dan bebas dari gangguan seperti awan atau polusi cahaya.

“Pemotretan yang memakan waktu semalam membutuhkan kondisi langit yang stabil dan tidak berawan,” ujar Thomas. “Namun, malam gelap yang sebenarnya hanya terjadi sekitar tiga jam, tergantung tingkat kecerahan bintang dan keadaan atmosfer.”

Banyak orang terbiasa mengamati matahari terbit dan terbenam, namun fenomena ini sebenarnya berasal dari rotasi bumi. “Jejak bintang adalah bukti nyata bahwa bumi terus berputar,” jelas Thomas. Ia menekankan bahwa tujuan utamanya bukan sekadar menghasilkan gambar estetis, melainkan untuk menunjukkan prinsip astronomi dasar ini secara visual.

Mengapa Timau Menjadi Lokasi Unggul?

Kondisi geografis Observatorium Nasional Timau menjadi faktor penting dalam menghasilkan gambar yang berkualitas. Sebagai lokasi di belahan bumi selatan, pemotretan diarahkan ke langit selatan, sehingga bintang-bintang terlihat bergerak mengelilingi kutub selatan. “Kutub langit selatan adalah titik imajiner yang menjadi pusat pergerakan bintang,” kata Thomas. “Karena itu, lingkaran cahaya di foto ini menjadi indikasi rotasi bumi yang jelas.”

“Observatorium Timau memungkinkan kita melihat pola bintang secara lengkap karena kualitas langit yang sangat baik,” tambah Thomas. “Ini adalah lokasi yang ideal untuk menangkap fenomena seperti ini, karena minimnya gangguan cahaya dan angkasa yang jernih.”

Thomas menjelaskan bahwa kualitas langit malam di Timau merupakan salah satu alasan BRIN membangun observatorium modern di sini. “Polusi cahaya di wilayah ini sangat rendah, sehingga bintang-bintang terlihat jelas dan terang,” ujarnya. Ia juga menyoroti bahwa observatorium ini memiliki kemampuan untuk memantau fenomena langit secara akurat, baik untuk penelitian maupun edukasi.

Kendala dari Satelit Modern

Meski langit gelap memudahkan proses pemotretan, Thomas harus beradaptasi dengan tantangan baru. Jumlah satelit yang terlempar ke orbit semakin meningkat, termasuk konstelasi Starlink. “Satelit-satelit ini sering memantulkan cahaya matahari, sehingga bisa mengganggu kejernihan foto,” katanya. Untuk menghindari hal ini, pemotretan dilakukan sejak malam benar-benar gelap hingga menjelang fajar. Strategi ini memastikan lintasan satelit tidak terlihat dalam hasil akhir.

“Kita harus memperhitungkan jejak cahaya satelit yang muncul saat senja maupun pagi hari. Jika tidak dihindari, foto bisa terdistorsi dan mengurangi keaslian fenomena,” tambah Thomas.

Pengambilan gambar yang memakan waktu lama ini juga memerlukan persiapan matang. Thomas menyebut bahwa kondisi cuaca harus sempurna, dengan angin lembut dan suhu yang stabil. “Selama 10 jam, kita harus menjaga kamera tetap fokus dan tidak terganggu oleh gerakan bumi atau cuaca yang tidak menentu,” jelasnya. Selain itu, teknik pemotretan melibatkan pengaturan eksposur yang tepat dan penggunaan tripod yang kuat untuk menghindari getaran.

Fenomena yang Lebih dari Sekadar Estetika

Jejak bintang bukan hanya menjadi objek fotografi menarik, tetapi juga memiliki makna ilmiah yang mendalam. “Fenomena ini menggambarkan cara bumi berputar sepanjang hari, yang memengaruhi pergerakan bintang di langit,” kata Thomas. Ia menyoroti bahwa hal ini membantu masyarakat memahami konsep rotasi bumi secara visual, yang sering kali dianggap abstrak.

Pemotretan ini juga memberikan wawasan tentang dinamika cuaca dan lingkungan di sekitar observatorium. “Kita bisa melihat bagaimana kondisi atmosfer memengaruhi kejernihan langit,” katanya. Thomas menambahkan bahwa keberhasilan proyek ini menunjukkan pentingnya lokasi observasi yang tepat untuk memperoleh data astronomi yang akurat.

Dengan menggunakan teknik ini, BRIN berharap bisa menginspirasi lebih banyak peneliti dan pecinta astronomi di Indonesia. “Observatorium Timau menjadi tempat untuk memperkenalkan astronomi kepada publik secara lebih menarik,” ujar Thomas. Ia menekankan bahwa dokumentasi seperti ini tidak hanya memperkuat pengetahuan ilmiah, tetapi juga meningkatkan apresiasi terhadap alam semesta.

Thomas menuturkan bahwa proses pemotretan membutuhkan kesabaran dan keahlian teknis. “Setiap detik harus dijaga agar hasil akhir tetap konsisten dan representatif,” katanya. Ia juga berharap proyek ini menjadi langkah awal untuk mengembangkan astronomi sebagai bidang ilmu yang lebih populer di Indonesia.

Leave a Comment