Skip to content
Bisnis

PLTS Atap dan Power Wheeling untuk Cegah Krisis Listrik

Intan Kurniawan - tempatdonasi.com 4 mins read

PLTS Atap dan Power Wheeling untuk Cegah Krisis Listrik Special Plan - Krisis listrik yang terjadi di beberapa wilayah Pulau Jawa, yang mencakup pemadaman

PLTS Atap dan Power Wheeling untuk Cegah Krisis Listrik

PLTS Atap dan Power Wheeling untuk Cegah Krisis Listrik

Tempatdonasi.com – Krisis listrik yang terjadi di beberapa wilayah Pulau Jawa, yang mencakup pemadaman listrik bergilir, menunjukkan kerentanan sistem kelistrikan nasional yang terlalu bergantung pada bahan bakar fosil, khususnya batu bara. Menurut Yayasan Kesejahteraan Berkelanjutan Indonesia (SUSTAIN), kegagalan dalam menjaga ketersediaan batu bara berpotensi terus mengancam stabilitas pasokan energi di Indonesia, terutama jika ketergantungan pada sumber daya non-renewable tidak segera dikurangi. Organisasi ini menyarankan strategi diversifikasi energi berbasis tenaga surya sebagai cara untuk mengatasi masalah ini.

Ketergantungan Batu Bara dan DMO

Menurut Tata Mustasya, Direktur Eksekutif SUSTAIN, kebutuhan batu bara untuk pasar domestik melalui skema Domestic Market Obligation (DMO) telah mencapai sekitar 220 juta metrik ton. Angka ini menggambarkan tekanan besar yang dihadapi sistem kelistrikan nasional, terlepas dari fakta bahwa Indonesia tetap menjadi salah satu negara penghasil batu bara terbesar di dunia. Jika selisih antara harga DMO dan harga pasar global terus membesar, pasokan batu bara bisa menjadi sumber permasalahan serius.

Tata menjelaskan bahwa peningkatan permintaan batu bara ini mengancam kemampuan negara untuk memenuhi kebutuhan energi secara berkelanjutan. Meskipun Indonesia memiliki kapasitas produksi batu bara yang cukup, ketergantungan pada bahan bakar tersebut membuat sistem rentan terhadap gangguan. “Dengan kekurangan pasokan batu bara, risiko pemadaman listrik bisa meningkat, yang berdampak pada berbagai sektor ekonomi,” tegasnya dalam keterangan tertulis, Senin, 22 Juni 2026.

Strategi Jangka Panjang: Diversifikasi Energi Surya

SUSTAIN menawarkan solusi jangka panjang berupa peningkatan penggunaan energi surya, khususnya melalui pemasangan PLTS atap dan skema power wheeling. Dalam kajian terbaru yang terbit dalam SUSTAIN Brief Vol. 4, organisasi ini memaparkan bahwa solusi tersebut bisa menjadi penopang utama dalam memenuhi target pembangunan energi surya nasional sebesar 100 gigawatt (GW) dalam tiga tahun ke depan.

Tata menyatakan bahwa kebutuhan listrik dari sektor rumah tangga dan industri bisa menjadi pendorong utama untuk percepatan pengembangan energi surya. Dengan menempatkan PLTS atap di berbagai bangunan, masyarakat bisa memproduksi listrik secara mandiri. Hal ini tidak hanya mengurangi beban pada jaringan utama, tetapi juga meningkatkan ketahanan energi saat terjadi gangguan teknis.

Dalam skenario akseleratif yang dihitung SUSTAIN, tambahan kapasitas energi surya berpotensi mencapai sekitar 11,4 GWp dalam waktu relatif singkat. Angka ini dapat berkontribusi signifikan terhadap target nasional sebesar 17 GW, tanpa menguras anggaran pemerintah. “Dengan penerapan PLTS atap, kebutuhan listrik bisa terpenuhi lebih baik meskipun sistem transmisi masih mengalami masalah,” ujarnya.

Power Wheeling sebagai Solusi Teknis

Sebagai langkah kedua, SUSTAIN mendesak pemerintah menerapkan power wheeling, yaitu skema pemanfaatan bersama jaringan transmisi PLN oleh produsen energi terbarukan. Cara ini memungkinkan penggunaan energi hijau yang lebih efisien, karena produsen listrik swasta bisa menyuplai daya langsung ke konsumen tanpa harus melalui sistem terpusat.

Menurut Tata, saat ini banyak perusahaan industri yang ingin beralih ke energi bersih, namun terhambat oleh keterbatasan pasokan listrik hijau. Power wheeling diharapkan bisa menjadi jembatan antara produsen dan konsumen, sehingga energi surya atau sumber terbarukan lainnya bisa digunakan secara optimal. “Dengan skema ini, pasokan listrik bisa dipenuhi lebih cepat, dan ketergantungan pada pembangkit besar berbasis batu bara bisa dikurangi,” lanjutnya.

SUSTAIN menyoroti bahwa sistem kelistrikan nasional saat ini sangat rentan terhadap gangguan teknis. Ketika terjadi hambatan pada pembangkit atau jaringan transmisi utama, keseluruhan pasokan energi bisa terganggu. Dengan pemasangan PLTS atap dan power wheeling, distribusi listrik bisa menjadi lebih fleksibel, sehingga mengurangi risiko kekacauan.

Pulau Jawa, sebagai pusat aktivitas ekonomi Indonesia, membutuhkan strategi diversifikasi energi yang lebih kuat. Dengan 60-70 persen kegiatan ekonomi terpusat di sana, ketersediaan listrik yang stabil menjadi krusial. “Diversifikasi energi surya bisa memperkuat ketahanan sistem kelistrikan, terutama di wilayah dengan beban listrik tinggi,” kata Tata.

Potensi PLTS Atap dan Power Wheeling

Menurut analisis SUSTAIN, penggunaan PLTS atap bisa menjadi solusi yang praktis dan ekonomis. Dengan menempatkan panel surya di atap rumah, gedung perkantoran, atau pabrik, masyarakat dan perusahaan bisa memanfaatkan sumber energi yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, power wheeling juga memberikan peluang bagi pengusaha energi terbarukan untuk menjual daya langsung ke konsumen, tanpa harus bergantung pada PLN.

Tata menegaskan bahwa pengembangan PLTS atap dan power wheeling tidak hanya bisa mengurangi ketergantungan pada batu bara, tetapi juga membantu menekan biaya listrik nasional. Dengan meningkatkan produksi energi surya, kebutuhan pembelian batu bara bisa dikurangi, sehingga menghemat anggaran dan mengurangi emisi karbon. “Ini adalah langkah strategis untuk mencapai kemandirian energi Indonesia,” imbuhnya.

SUSTAIN mengingatkan bahwa penerapan kedua langkah ini memerlukan dukungan regulasi dan insentif yang kuat. Untuk mendorong penggunaan PLTS atap, pemerintah perlu memberikan kemudahan akses ke teknologi dan bantuan finansial. Sementara itu, power wheeling membutuhkan keterbukaan jaringan transmisi PLN terhadap produsen energi swasta. Dengan menetapkan kebijakan yang inklusif, ketersediaan listrik bisa terjamin, bahkan di tengah fluktuasi harga batu bara.

Pemadaman listrik berskala luas di Java tidak hanya mengganggu kehidupan sehari-hari, tetapi juga memperlambat pertumbuhan ekonomi. Dengan menggantikan sebagian daya dari bahan bakar fosil, PLTS atap dan power wheeling bisa menjadi penyelamat untuk mengatasi masalah ini. “Ketersediaan energi surya adalah kunci untuk mengurangi risiko krisis listrik di masa depan,” kata Tata.

Dalam rangka mencapai target 100 GW energi surya, SUSTAIN menekankan perlunya kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat. Langkah ini tidak hanya menjamin keandalan pasokan listrik, tetapi juga mendukung transisi energi menuju model yang lebih berkelanjutan. Dengan inisiatif seperti PLTS atap dan power wheeling, Indonesia bisa membangun sistem energi yang lebih resilien dan efisien.

Ketergantungan pada pembangkit

Join the discussion