Skip to content
Bisnis

Prasasti: Pemerintah Punya Ruang Sesuaikan Harga Pertamax

Joko Purnama - tempatdonasi.com 3 mins read

Bisakah Harga BBM Turun Setelah Selat Hormuz Dibuka Analisis Prasasti: Pemerintah Berpeluang Atur Harga Pertamax Key Discussion - Menurut lembaga studi

Prasasti: Pemerintah Punya Ruang Sesuaikan Harga Pertamax

Bisakah Harga BBM Turun Setelah Selat Hormuz Dibuka

Analisis Prasasti: Pemerintah Berpeluang Atur Harga Pertamax

Tempatdonasi.com – Menurut lembaga studi independen Prasasti Center for Policy Studies, pemerintah saat ini memiliki kesempatan untuk menyesuaikan tarif bahan bakar Pertamax nonsubsidi karena harga minyak global mulai menurun. Pasar minyak mentah internasional, yang sebelumnya mengalami kenaikan signifikan, kini mencatat pergerakan lebih stabil. Harga minyak mentah dunia, yang mencapai titik tertinggi pada awal tahun 2026, telah kembali ke level US$ 77 per barel pada Selasa, 23 Juni 2026, menurut data terkini.

“Penurunan harga minyak dunia membuka peluang bagi pemerintah untuk menyesuaikan harga Pertamax. Penyesuaian ini bukan sekadar kembali ke level sebelumnya, melainkan menurunkan tarif secara bertahap sesuai dengan kondisi pasar,” kata Piter Abdullah, Policy and Program Director Prasasti, dalam keterangan tertulis yang diterbitkan pada hari yang sama.

Fluktuasi harga minyak global akhir-akhir ini disebabkan oleh perubahan dinamika geopolitik, khususnya hubungan antara Amerika Serikat dan Iran. Tanda-tanda kemajuan perundingan damai antara dua negara tersebut menjadi faktor utama yang memengaruhi penurunan harga. Dalam beberapa bulan terakhir, ketegangan di Selat Hormuz dan jalur distribusi minyak menciptakan ketidakpastian, yang akhirnya teratasi setelah kesepakatan politik dicapai.

Menurut data dari Trading Economics, harga minyak mentah Brent turun ke kisaran US$ 77,2 per barel pada Selasa, 23 Juni 2026, yang mengikuti penurunan di sesi perdagangan sebelumnya. Penurunan ini terjadi setelah harga mencapai level tertinggi dalam tiga bulan terakhir, yakni US$ 120 per barel, akibat krisis geopolitik yang sebelumnya memengaruhi pasokan global.

Perubahan ini memicu ulasan dari Piter Abdullah, yang menekankan bahwa penyesuaian harga Pertamax menjadi keharusan untuk menjaga keseimbangan pasar. “Jika pemerintah tidak segera melakukan penyesuaian, konsumen akan semakin beralih ke Pertalite yang bersubsidi, yang bisa menyebabkan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan,” tambahnya.

Kebutuhan penyesuaian harga Pertamax semakin mendesak lantaran antrean di pompa bensin Pertalite mulai terlihat di berbagai wilayah. Fenomena ini mengindikasikan adanya pergeseran konsumen ke BBM subsidi, meskipun kuota Pertalite tetap terbatas. Jika tidak diatasi, risiko kelangkaan bahan bakar bisa terjadi, terutama di daerah-daerah yang tergantung pada BBM subsidi.

Piter juga menyoroti pentingnya pengoptimalan mekanisme penyaluran subsidi. “Distribusi Pertalite harus lebih efisien agar kebutuhan masyarakat yang berhak menerima subsidi tidak terganggu,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa perbaikan ini diperlukan untuk memastikan BBM subsidi benar-benar sampai kepada targetnya, sekaligus mengurangi risiko kebocoran dalam sistem subsidi.

Dalam konteks ini, perubahan harga Pertamax diharapkan dapat mengurangi tekanan pada BBM subsidi. “Dengan harga Pertamax yang lebih kompetitif, konsumen akan tetap memilih produk yang sesuai dengan kemampuan belanjanya, sehingga Pertalite tidak terbebani secara berlebihan,” jelas Piter.

Menurut Piter, momen penurunan harga minyak global ini bisa dimanfaatkan sebagai peluang untuk mereformasi kebijakan BBM. “Pemerintah harus mencari keseimbangan antara harga pasar dan subsidi yang tepat sasaran, agar ekonomi tidak terganggu oleh fluktuasi harga,” tambahnya.

Dalam poin terpisah, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa harga BBM nonsubsidi berpotensi turun setelah penyesuaian harga minyak dunia. “Saya yakin dengan menurunnya harga minyak, Pertamax dan produk lainnya akan mengikuti, sehingga fondasi pertumbuhan ekonomi kita semakin kuat,” ujar Purbaya saat rapat bersama Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Senayan, Jakarta, Senin, 22 Juni 2026.

Purbaya juga menyoroti perluasan kebijakan belanja pemerintah agar APBN tetap sehat. “Ketidakpastian global memaksa pemerintah lebih disiplin dalam pengelolaan anggaran, serta menyesuaikan prioritas program agar lebih efisien,” katanya. Ia menambahkan bahwa efisiensi dalam penggunaan dana menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang.

Kebijakan penyesuaian harga Pertamax bukan hanya tentang penurunan tarif, tetapi juga mengenai strategi distribusi BBM secara keseluruhan. Prasasti menyarankan pemerintah melakukan evaluasi terhadap sistem subsidi yang berlaku, agar distribusi BBM bisa lebih tepat sasaran. “Penyesuaian harga bisa menjadi alat untuk mengurangi konsumsi BBM subsidi yang tidak seharusnya, sekaligus memastikan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga,” terang Piter.

Di sisi lain, penurunan harga minyak juga membuka ruang bagi kebijakan energi alternatif. “Kita perlu memperluas bauran energi, termasuk mengoptimalkan penggunaan bahan bakar nabati dan listrik tenaga terbarukan, agar ketergantungan pada minyak mentah tidak terlalu besar,” saran Piter. Ia menilai langkah ini akan memberi dampak jangka panjang terhadap ketahanan ekonomi negara.

Dengan berbagai faktor yang memengaruhi harga minyak, pemerintah diharapkan dapat mengambil lang

Join the discussion