Skip to content
Nasional

Risky, Penjaja Ikan Segar, Merajut Mimpi di Sekolah Rakyat

Wahyu Kurniawan - tempatdonasi.com 4 mins read

Risky, Penjaja Ikan Segar, Merajut Mimpi di Sekolah Rakyat Latest Program - Dulu, hidup Risky Pratama (12) diwarnai rutinitas sederhana yang penuh tantangan.

Risky, Penjaja Ikan Segar, Merajut Mimpi di Sekolah Rakyat

Risky, Penjaja Ikan Segar, Merajut Mimpi di Sekolah Rakyat

Tempatdonasi.com – Dulu, hidup Risky Pratama (12) diwarnai rutinitas sederhana yang penuh tantangan. Sejak kelas 4 SD, ia harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengayuh sepeda puluhan kilometer ke kawasan Bagan Deli, Kota Medan, demi menjual ikan segar yang ia bawa dari hasil tangkapan laut. Usaha ini menjadi cara bagi Risky untuk mendukung keluarganya yang terpuruk. Keberadaannya di jalanan itu mengingatkan kita betapa beratnya beban yang dibawa anak kecil.

Melalui Sekolah Rakyat, Harapan Mulai Terwujud

Keberhasilan Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Medan membawa transformasi besar dalam kehidupan Risky. Dengan masuk ke sekolah ini, ia tidak hanya diberi kesempatan melanjutkan pendidikan, tetapi juga menemukan cahaya baru dalam mengejar mimpi. Program Sekolah Rakyat, yang merupakan gagasan Presiden Prabowo Subianto, menjadi pendorong utama perubahan nasib Risky.

“Kadang (sehari) Rp 30 ribu dapatnya, paling banyak dikasih Rp 90 ribu, kalau habis semua (ikannya),”

Risky menjelaskan pengalaman berjualan ikan yang ia lalui di Medan, Sumatera Utara, pada Selasa, 23 Juni 2026. Usaha ini menjadi sumber penghasilan tambahan untuk keluarga, terutama dalam mengatasi kebutuhan sehari-hari yang seringkali terganggu. Kakek dan neneknya, Salamuddin (63) dan Masitah (55), menjadi penjaga utama kebutuhan hidup Risky sejak dulu.

Keluarga Risky mengalami kesulitan finansial akibat kondisi sang ibu yang merantau bekerja ke luar daerah. Ayah Risky, yang kini tinggal cukup jauh, jarang bertemu dengan cucunya. Kakek, yang berusia 63 tahun, memperoleh penghasilan dari mencari kerang di laut. Namun, penghasilannya tidak menentu, berkisar antara Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu per hari, tergantung pada cuaca.

Kadang, sebelum memulai harinya, Risky harus berjualan ikan untuk mengisi tabungan keluarga. Penghasilan dari usaha ini ia bagikan kepada neneknya, yang kemudian menggunakan uang itu untuk membeli beras dan pempers bagi adiknya. Meski usaha ini membutuhkan perjuangan, Risky menganggapnya sebagai bagian dari keinginan sendiri untuk membantu keluarga.

“Dulu saya menangis, kenapa? Karena saya tak akan mampu menyekolahkan dia (Risky). Karena dia bilang, cita-cita awak ini nek, apa bisa awak sekolah, nah itu saya menangis memang. Tapi kalau sekarang ini saya menangis, tapi menangis bahagia,”

Masitah, nenek Risky, mengungkapkan rasa syukur atas program Sekolah Rakyat. Tanpa bantuan ini, ia khawatir Risky tidak akan bisa melanjutkan pendidikan. Kehadiran sekolah memberikan harapan baru, tidak hanya untuk Risky, tetapi juga bagi seluruh anggota keluarga yang bergantung pada penghasilan kakeknya.

Perubahan dalam Kehidupan Risky

Sekolah Rakyat tidak hanya mengubah pola hidup Risky, tetapi juga membentuk pribadinya secara lebih mendalam. Dalam usia yang relatif kecil, ia tumbuh menjadi anak yang lebih mandiri, percaya diri, dan terbina nilai-nilai keagamaannya. Perubahan ini jauh lebih signifikan dibandingkan sebelumnya.

“Bukan lagi ada perubahan, jauh kali, bilangkan jauh kali lah. Perhatiannya kalau pulang jauh lah dia, tidak sebelumnya dulu mau melalak (keluyuran), kalau sekarang melalak arahnya ke musala sana atau masjid,”

Masitah menjelaskan bagaimana perilaku Risky berubah drastis setelah mengikuti program Sekolah Rakyat. Dulu, ia lebih suka bermain di luar rumah, tetapi kini lebih tertarik menghabiskan waktu di tempat ibadah. Perubahan ini menunjukkan bagaimana lingkungan belajar mampu mengarahkan kebiasaan dan kepercayaan diri anak.

Kakek Salamuddin, yang selama ini bekerja keras mencari kerang, mengakui bahwa Risky memiliki inisiatif tinggi. Meski usaha berjualan ikan dilakukan secara sukarela, ia tetap menekankan pentingnya pendidikan. “Kalau penghasilan lumayan juga, cuma kan kita kan sayang sekolahnya, nggak bisa sekolah itu aja, maka kami kerahkan ini supaya kami semangatkan dia untuk sekolah, ini supaya dia terdidik, menjadi orang,”

Kakek ini menjelaskan bahwa meskipun usaha Risky bisa menghasilkan uang, pendidikan tetap menjadi prioritas. Kehadiran Sekolah Rakyat memberikan motivasi untuk melanjutkan studi, karena keluarga yakin pendidikan akan membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.

Harapan untuk Sang Ibu

Dalam hidupnya, Risky mengalami kekosongan kehadiran ibunya yang telah pergi bekerja ke luar daerah. Sejak kelas 4 SD, ia tidak pernah bertemu ibunya, dan komunikasi hanya terjadi melalui panggilan telepon yang jarang. Meski begitu, ia tetap merindukan sosok ibunya.

“Mamak biar bagus-bagus kerjanya,”

Risky mengungkapkan harapan untuk segera bertemu ibunya, yang menjadi motivasi unik dalam hidupnya. Dengan tumbuh menjadi anak sulung yang bertanggung jawab, ia memperkuat kemandirian diri. Tugas mengurus adiknya membuatnya lebih matang, sementara Sekolah Rakyat memberikan bantuan dalam membentuk karakter.

Kehadiran program Sekolah Rakyat juga memperkuat keinginan Risky untuk menjadi tentara. Fasilitas sekolah, seperti akses ke guru, wali asuh, dan wali asrama, menjadi tempat ia belajar berbagai keterampilan. Dulu, ia tidak bisa membaca atau beribadah dengan baik, tetapi kini kemampuan tersebut terus tumbuh.

Risky merasa bersyukur atas lingkungan belajar yang diberikan oleh Sekolah Rakyat. Ia menilai fasilitas ini sangat mendukung mimpi menjadi tentara, yang menjadi aspirasi utamanya. Dengan bantuan dari guru dan wali asuh, ia semakin percaya bahwa masa depannya bisa terwujud melalui pendidikan.

Sekolah Rakyat tidak hanya membuka jalan bagi Risky, tetapi juga menjadi tempat pengabdian bagi kakek dan neneknya. Mereka percaya bahwa pendidikan akan memperkuat kemampuan Risky untuk meraih prestasi dan memberikan penghasilan yang lebih baik bagi keluarga. Kehadiran Risky di sekolah menjadi bukti bahwa usaha dan doa bisa mengubah nasib.

Sementara itu, keluarga Risky masih berharap agar ibu mereka kembali ke Medan. Meski jarak dan waktu menjadi penghalang, mereka yakin bahwa kehadiran sang ibu akan memberikan dorongan tambahan untuk kehidupan Risky. Dengan harapan ini, sekolah menjadi tempat yang menginspirasi, bukan hanya belajar, tetapi juga mengarahkan langkah-langkah menuju masa depan yang lebih cerah.

Join the discussion