Skip to content
Nasional

Amnesty Desak Pemerintah Setop Latihan Militer Calon Manajer Kopdes

Tegar Utami - tempatdonasi.com 4 mins read

Meeting Results -

Amnesty Desak Pemerintah Setop Latihan Militer Calon Manajer Kopdes

Amnesty International Serukan Pemerintah Hentikan Latihan Militer Calon Manajer Koperasi Desa Merah Putih

Direktur Eksekutif Amnesty International: Kematian Peserta Pelatihan Mencuri Perhatian

Tempatdonasi.com – Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, mengeluarkan pernyataan mendesak kepada pemerintah agar segera menghentikan program latihan militer dasar yang diberikan kepada calon manajer Koperasi Desa Merah Putih dan Koperasi Kampung Nelayan Merah Putih. Permintaan ini muncul setelah Kementerian Pertahanan mengonfirmasi terdapat tiga peserta yang meninggal dunia selama mengikuti pelatihan tersebut. Usman menyatakan bahwa kejadian ini menunjukkan adanya celah dalam sistem pelatihan yang diberikan kepada warga sipil, khususnya mereka yang bertugas mengelola koperasi desa.

Kritik terhadap Penyebab Kematian dan Proses Seleksi

Usman mengungkapkan keraguan terhadap alasan resmi yang diberikan Kementerian Pertahanan mengenai penyebab kematian peserta pelatihan. Meski pemerintah menyatakan para peserta telah menjalani pemeriksaan kesehatan dan memenuhi syarat sebelum mengikuti program, ia menyoroti bahwa penyebab kematian belum jelas. Selain itu, ia menyoroti ketidaktepatan waktu pengumuman kematian peserta, yang baru diungkapkan beberapa hari setelah mereka dimakamkan.

“Kematian tiga individu ini mencuri perhatian, terutama karena mereka dianggap sebagai calon pengelola koperasi yang berperan penting dalam pembangunan lokal,” kata Usman dalam wawancara dengan Tempo pada Kamis, 25 Juni 2026. Ia menekankan bahwa kejanggalan dalam proses seleksi dan pelatihan harus diinvestigasi secara independen. “Pemerintah perlu menjelaskan dengan transparan apakah ada kesalahan dalam pengawasan kesehatan atau kelelahan berlebihan selama pelatihan,” tambahnya.

Kasus Meninggal Dalam Pelatihan Militer Dasar

Tiga korban meninggal tercatat dalam program latihan militer dasar komando cadangan yang diikuti oleh peserta Koperasi Desa Merah Putih dan Koperasi Kampung Nelayan Merah Putih. Menurut Kementerian Pertahanan, kejadian tersebut terjadi di dua satuan pelatihan berbeda. Anisa Muyassaroh, yang mengikuti pelatihan di Satuan Pendidikan Resimen Induk Komando Daerah Militer Mulawarman Balikpapan, Kalimantan Timur, meninggal akibat kejang panas (heat stroke) pada 18 Juni 2026.

Sementara itu, Yonanda Muhammad Taufiq, peserta dari Satuan Pendidikan Pusat Latihan Tempur TNI Angkatan Darat Kota Baturaja, Sumatera Selatan, meninggal karena henti jantung (cardiac arrest) setelah kondisi kesehatannya memburuk pada 17 Juni 2026. Kementerian Pertahanan menyebutkan bahwa kedua korban mengalami gangguan kesehatan sebelum meninggal, namun tidak menyebutkan detail lebih lanjut. Korban terbaru, Novia Rahmadhani Sihotang, meninggal di Pusat Bahasa Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara, Jakarta, pada Selasa, 23 Juni 2026.

Penjelasan Kementerian Pertahanan

Kepala Biro Informasi Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait, mengatakan bahwa pelatihan militer bagi calon manajer koperasi bertujuan meningkatkan disiplin, kemampuan manajerial, dan semangat pengabdian kepada masyarakat. “Setiap masukan dan evaluasi menjadi dasar untuk penyempurnaan program,” katanya dalam siaran pers.

Menurut Rico, para peserta telah menjalani seleksi dan pemeriksaan kesehatan yang ketat sebelum diterima dalam pelatihan. “Ketiga peserta memenuhi syarat dan dinyatakan siap mengikuti program,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa Kementerian Pertahanan sedang mengevaluasi mekanisme seleksi, pengawasan medis, serta sistem pelaporan kondisi peserta secara menyeluruh.

Kritik terhadap Disiplin dan Kesehatan Peserta

Usman berargumen bahwa desain pelatihan militer yang diberikan kepada calon manajer koperasi kurang sesuai dengan kebutuhan mereka. “Pelatihan ini terkesan memaksakan disiplin militer, padahal tugas utama para peserta adalah mengelola bisnis dan kegiatan manajerial di tingkat desa,” tegasnya.

Usman menyoroti bahwa adanya peningkatan militerisme dalam pengelolaan koperasi desa bisa berdampak negatif, terutama karena kejadian kematian tersebut menggambarkan potensi risiko yang terlewatkan. “Korban yang meninggal bukan hanya individu, tetapi juga simbol dari ketidakseimbangan antara keselamatan peserta dan ambisi program militer,” katanya.

Proses Pemeriksaan dan Penanganan Medis

Kementerian Pertahanan menyebutkan bahwa Novia Rahmadhani Sihotang meninggal karena menderita tuberkulosis sebelum mengikuti pelatihan. Rico Sirait menjelaskan bahwa korban mengalami gangguan kesehatan satu hari sebelum meninggal dan segera diberikan perawatan oleh tim medis satuan, kemudian dirujuk ke rumah sakit.

“Kita perlu memahami apakah penyakit yang diderita Novia berdampak langsung pada kondisi fisiknya selama pelatihan,” tambah Rico dalam wawancara dengan Tempo pada Rabu, 24 Juni 2026. Ia juga menekankan bahwa keselamatan peserta menjadi prioritas utama dalam program tersebut.

Respons Pemerintah dan Tuntutan Transparansi

Usman berpendapat bahwa pemerintah perlu memberikan penjelasan lebih jelas mengenai penyebab kematian para peserta. “Keluarga korban dan publik memiliki hak untuk mengetahui bagaimana kondisi mereka diperiksa sebelum pelatihan,” ujarnya.

Menurut Usman, ketiga korban meninggal membuka pertanyaan serius tentang efektivitas program pelatihan militer bagi warga sipil. “Ini bukan hanya tragedi, tetapi juga tanda bahwa pemerintah perlu memperbaiki mekanisme pelatihan agar lebih manusiawi dan sesuai dengan tuntutan kompetensi keuangan dan manajerial,” katanya.

Dalam siaran pers, Kementerian Pertahanan mengklaim bahwa seluruh peserta telah dipilih berdasarkan prosedur yang berlaku, termasuk pemeriksaan kesehatan yang ketat. Namun, Usman menilai langkah ini tidak cukup untuk menjamin keamanan peserta. “Sistem pemeriksaan kesehatan harus lebih detail, termasuk mengukur daya tahan fisik selama pelatihan intensif,” katanya.

Keseimbangan Antara Militerisme dan Pemb

Join the discussion