Harga Minyak Dunia Turun Setelah Selat Hormuz Dibuka
Bisakah Harga BBM Turun Setelah Selat Hormuz Dibuka Penurunan Harga Minyak Global Pasca-Pembukaan Selat Hormuz Harga Minyak Dunia Turun Setelah Selat

Bisakah Harga BBM Turun Setelah Selat Hormuz Dibuka
Penurunan Harga Minyak Global Pasca-Pembukaan Selat Hormuz
Tempatdonasi.com – Pembukaan Selat Hormuz pada Kamis, 25 Juni 2026, memberikan dampak langsung pada harga minyak mentah dunia. Pasca-pembukaan, harga minyak bergerak turun dari level sebelumnya, menjauhi angka US$ 80 per barel. Menurut data yang dirilis oleh Trading Economics, harga crude oil saat ini mencapai sekitar US$ 69 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent turun menjadi US$ 72 per barel, menunjukkan tren penurunan yang signifikan di pasar global.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa penyebab utama penurunan harga minyak mentah adalah normalisasi arus lalu lintas di Selat Hormuz. “Dengan dibukanya selat tersebut, kondisi transportasi kembali stabil, sehingga memicu penurunan harga yang cukup tajam,” katanya dalam keterangan resmi yang diterbitkan pada hari yang sama.
Dalam analisisnya, Ibrahim menyoroti bahwa ketersediaan minyak mentah di pasar juga berkontribusi pada penurunan harga. Ia menekankan bahwa kenaikan pasokan menciptakan situasi oversupply, yang berdampak pada tekanan harga. Data menunjukkan bahwa produksi minyak mentah meningkat sebesar 103,3 juta barel per hari, dibandingkan level 103,1 juta barel per hari sebelumnya. Di sisi permintaan, konsumsi minyak turun dari 100 juta barel per hari menjadi di bawah 100 juta barel per hari.
Menurut Ibrahim, kelebihan pasokan yang terjadi berdampak besar pada keseimbangan pasar. “Kenaikan pasokan bersamaan dengan penurunan permintaan membuat harga minyak mentah jatuh lebih dalam,” tambahnya. Ia juga menjelaskan bahwa harga minyak dunia mengalami tekanan akibat ketidakpastian geopolitik dan dinamika supply chain yang terganggu selama beberapa hari terakhir.
Prediksi Ibrahim menunjukkan bahwa harga minyak mentah bisa terus mengalami penurunan hingga mencapai level US$ 65 per barel pada pekan depan. Jika kondisi ini berlanjut, ia memperkirakan bahwa tren penurunan bisa berlangsung hingga bulan Juli 2026. “Kondisi oversupply akan memengaruhi harga selama beberapa minggu ke depan, terutama jika permintaan tidak meningkat secara signifikan,” jelasnya.
Kondisi harga minyak yang turun berdampak langsung pada biaya bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. Ibrahim menyarankan pemerintah untuk segera menyesuaikan harga BBM dengan level pasar. “Karena harga minyak saat ini sudah di bawah acuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang ditetapkan di US$ 70 per barel, walaupun nilai tukar rupiah masih mengalami pelemahan,” ujarnya. Menurutnya, kebijakan pengurangan harga BBM nonsubsidi akan membantu meringankan beban masyarakat.
Selat Hormuz, sebagai jalur utama pengiriman minyak mentah ke seluruh dunia, memainkan peran kritis dalam menentukan fluktuasi harga. Pada saat pembukaan selat tersebut, arus minyak dari produsen utama seperti Arab Saudi, Iran, dan Iraq kembali lancar, sehingga mengurangi ketakutan investor terhadap interupsi pasokan. Namun, meski pasokan stabil, kondisi oversupply yang berkelanjutan justru menjadi faktor utama penurunan harga.
Analisis Ibrahim menunjukkan bahwa kenaikan pasokan minyak mentah sebesar 103,3 juta barel per hari menciptakan surplus yang terukur. Hal ini memicu persaingan lebih ketat di pasar, sehingga harga jatuh. Permintaan yang juga mengalami penurunan, baik karena faktor ekonomi maupun perubahan kebijakan, memperkuat tren ini. “Permintaan yang turun di bawah 100 juta barel per hari berarti pasar tidak lagi membutuhkan harga yang tinggi untuk menutupi biaya produksi,” tuturnya.
Menurut Ibrahim, situasi ini memperlihatkan dinamika pasar yang kompleks. Selain faktor pasokan dan permintaan, faktor eksternal seperti kebijakan OPEC, perubahan politik regional, serta tekanan inflasi juga berperan. Namun, pembukaan Selat Hormuz berkontribusi paling signifikan karena memastikan kelancaran distribusi minyak ke negara-negara importir utama.
Harga minyak yang turun bisa memengaruhi sektor energi dan ekonomi secara keseluruhan. Untuk negara-negara yang mengandalkan impor minyak, seperti Indonesia, penurunan harga ini menjadi peluang untuk menekan biaya produksi energi. Namun, jika harga BBM nonsubsidi tidak diatur, kenaikan biaya operasional bisa berdampak pada inflasi. Ibrahim menyoroti bahwa pemerintah perlu mempertimbangkan penyesuaian harga BBM agar tidak terjadi ketimpangan antara harga internasional dan biaya dalam negeri.
Kondisi pasar juga memberikan sinyal untuk pengembangan energi alternatif. Dengan harga minyak yang lebih rendah, minat terhadap sumber daya energi lain seperti gas alam atau energi terbarukan bisa meningkat. Ibrahim menambahkan bahwa penurunan harga minyak mentah bisa menjadi momentum untuk transisi energi yang lebih cepat, terutama jika pemerintah memanfaatkan peluang ini.
Menurut data Trading Economics, harga minyak mentah berada di level yang lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, meski turun, harga tetap berada di atas US$ 60 per barel, menunjukkan bahwa penurunan ini tidak menyebabkan krisis harga minyak. Ibrahim mengatakan bahwa tekanan harga ini akan berlanjut hingga ada perubahan signifikan dalam permintaan atau pasokan.
Analisisnya memperkirakan bahwa harga minyak akan stabil pada level US$ 65-70 per barel selama beberapa bulan ke depan. “Kenaikan pasokan yang terbatas dan penurunan permintaan yang berkelanjutan akan tetap menjadi faktor utama,
