Skip to content
Gaya

El Nino Tingkatkan Penyebaran Kasus DBD

Wahyu Santoso - tempatdonasi.com 4 mins read

What Happened -

El Nino Tingkatkan Penyebaran Kasus DBD

Kasus DBD Dunia Terus Meningkat, Pentingnya Kolaborasi Multisektor atasi Dengue

Kenaikan Suhu Akibat Fenomena El Nino Berdampak pada Penyebaran DBD

Tempatdonasi.com – What Happened – Fenomena El Nino, yang diperkirakan akan berlangsung hingga akhir 2026, diperhatikan dapat memperparah penyebaran demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia. Perubahan iklim ini memicu kenaikan suhu udara, yang berpotensi menciptakan lingkungan yang lebih subur bagi nyamuk Aedes Aegypti, vektor penyakit tersebut. Dengan kondisi ini, risiko infeksi DBD diharapkan meningkat, khususnya di wilayah dengan kelembapan dan intensitas hujan yang tidak stabil. Studi terbaru dari Universitas Gadjah Mada memprediksi bahwa jumlah pasien yang dirawat akibat DBD di Indonesia akan melebihi dua juta pada tahun 2024. Angka ini diperkirakan akan terus naik seiring berlangsungnya fenomena El Nino, yang menurut para ahli menjadi faktor utama perluasan populasi nyamuk penyebab DBD.

Anak-Anak Jadi Kelompok Rentan Tertinggi Akibat DBD

Menurut data dari Kementerian Kesehatan, sekitar 41 persen dari kasus kematian akibat DBD dalam tujuh tahun terakhir terjadi pada anak berusia 5-14 tahun. Angka ini menunjukkan bahwa anak-anak terutama rentan mengalami komplikasi berat dari penyakit yang menyebar melalui gigitan nyamuk. Karena itu, ketua Satuan Tugas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Hartono Gunardi, mengimbau orang tua untuk tetap memberikan ruang bagi anak dalam beraktivitas di luar rumah, selama mereka diberi perlindungan dari nyamuk. “Nyamuk yang menyebabkan DBD lebih aktif menggigit di pagi hari hingga sore hari,” jelas Hartono dalam acara ABCD Land di Jakarta, Jumat, 19 Juni 2026. “Gunakan pakaian berlengan panjang dengan warna terang, karena nyamuk lebih menarik pada warna gelap. Selain itu, penggunaan repellen serangga dapat membantu, tetapi harus disesuaikan dengan dosis yang tepat.”

Hartono menekankan bahwa DBD tidak lagi dianggap sebagai penyakit musiman, sehingga kewaspadaan harus terus dilakukan sepanjang tahun. Ia menyarankan penerapan strategi 3M, yaitu menguras genangan air, mengubur barang bekas, dan menguras tempat penampungan air. Selain itu, ia menekankan pentingnya edukasi dini tentang gejala DBD, seperti demam tinggi, ruam, dan nyeri sendi, serta konsultasi dengan dokter untuk vaksinasi yang direkomendasikan IDAI. “Pengendalian DBD memerlukan pendekatan yang menyeluruh, bukan hanya mengandalkan satu metode. Vaksinasi menjadi bagian penting dari upaya perlindungan terhadap anak-anak,” tambahnya.

DBD Tidak Hanya Menyerang Anak, Dewasa Juga Rentan

Perluasan risiko DBD tidak hanya terbatas pada kelompok anak-anak. Sukamto Koesnoe, ketua Satuan Tugas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), mengungkapkan bahwa individu dengan kondisi penyakit komorbid, seperti hipertensi, diabetes, atau penyakit ginjal, memiliki risiko komplikasi lebih tinggi. Namun, ia juga memperingatkan bahwa orang yang sehat secara fisik tetap dapat mengalami DBD berat, terutama jika tidak mewaspadai gejala. “Jika ada komorbid, risikonya memang lebih besar. Tapi bukan berarti mereka yang tidak memiliki penyakit penyerta tidak perlu khawatir,” kata Sukamto.

Sukamto menjelaskan bahwa banyak orang baru menyadari kondisi kesehatan seperti hipertensi atau diabetes setelah terkena DBD. Hal ini membuat penyakit penyerta seringkali memperparah kondisi pasien, terutama pada tahap penyembuhan. PAPDI mencatat bahwa penderita hipertensi memiliki risiko komplikasi DBD dua hingga tiga kali lipat dibandingkan orang tanpa komorbid. Untuk penderita diabetes, risiko meningkat menjadi tiga hingga lima kali lipat, sementara pasien penyakit ginjal mengalami peningkatan sebesar tujuh kali lipat. Sementara itu, penderita asma atau penyakit paru kronis memiliki risiko komplikasi hingga dua hingga 12 kali lebih tinggi.

Kolaborasi Jadi Kunci Penanganan DBD

Kebutuhan penanganan DBD yang lebih intens tidak bisa hanya dilakukan oleh pihak kesehatan. Presiden Direktur Takeda Innovative Medicines Andreas Gutknecht mengatakan bahwa pencegahan penyakit ini memerlukan kerja sama dari berbagai sektor, termasuk pendidikan, lingkungan, dan komunitas. “DBD masih menjadi ancaman serius yang memengaruhi kesehatan masyarakat Indonesia, dan beban penyakit ini terus meningkat,” ujar Andreas. “Dengan kolaborasi yang berkelanjutan, kita dapat membantu keluarga lebih banyak mengambil langkah-langkah perlindungan sebelum terlambat.”

Gutknecht menyoroti peran edukasi dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang cara mencegah DBD. Ia menambahkan bahwa upaya pemberantasan sarang nyamuk, seperti pengurasan genangan air, masih menjadi fondasi utama. Namun, untuk mengurangi risiko komplikasi, deteksi dini gejala dan vaksinasi sesuai anjuran tenaga medis juga harus diterapkan. “Kolaborasi antara pemerintah, organisasi kesehatan, dan masyarakat menjadi penting, karena DBD memengaruhi semua kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga orang tua,” pungkas Gutknecht.

Menurut penelitian, nyamuk Aedes Aegypti lebih rentan berkembang biak di daerah yang memiliki suhu tinggi dan kelembapan berlebihan. Fenomena El Nino memberikan kondisi yang ideal bagi populasi nyamuk ini, yang berujung pada peningkatan risiko infeksi. Seiring dengan itu, keberadaan genangan air yang tidak dikelola dengan baik menjadi faktor utama penyebaran penyakit. Dengan adanya peningkatan kasus DBD, para ahli menekankan perlunya kebijakan yang lebih konsisten dalam pencegahan, serta pendekatan multidisiplin untuk memastikan semua lapisan masyarakat dilibatkan.

Kelompok risiko tinggi, seperti anak-anak dan orang dewasa dengan penyakit penyerta, memerlukan perhatian khusus. Karena tidak semua orang mengenali gejala DBD secara dini, maka pengetahuan tentang tanda-tanda penyakit ini menjadi sangat penting. Dengan meningkatkan kesadaran dan tindakan preventif, harapan untuk mengurangi dampak DBD di Indonesia bisa tercapai. Selain itu, vaksinasi yang disarankan IDAI dan PAPDI dianggap sebagai langkah strategis dalam melindungi keluarga dari risiko komplikasi berat akibat penyakit ini.

“Kolaborasi antara pemerintah, organisasi kesehatan, dan masyarakat menjadi penting, karena DBD memengaruhi semua kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga orang tua,” ujar Andreas Gutknecht.

Dengan upaya bersama, seperti kampanye edukasi, pengawasan lingkungan, dan penerapan vaksinasi, Indonesia bisa menghadapi tantangan DBD secara lebih efektif. Selain itu, teknologi dan inovasi dalam bidang kesehatan, seperti pengembangan vaksin dan metode pencegahan, diharapkan dapat menjadi pelengkap dalam upaya penurunan kasus. Maka, menurut para ahli, keberhasilan pencegahan DBD tidak hanya bergantung pada kegiatan rutin, tetapi juga pada partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat.

Join the discussion