Meeting Results: Media: Iran usul Selat Hormuz dibuka dulu, tunda kesepakatan nuklir

Media: Iran usul Selat Hormuz dibuka dulu, tunda kesepakatan nuklir

Dari Jakarta, laporan media menyebutkan Iran mengusulkan pembukaan Selat Hormuz sebagai langkah awal untuk mengakhiri konflik, tetapi mengharuskan pembicaraan nuklir ditunda sampai tahap berikutnya. Usulan ini, seperti yang dilaporkan oleh Axios, disampaikan ke AS melalui penengah seperti Pakistan, dalam situasi diplomasi memanas akibat ketegangan terhadap program nuklir Iran.

Langkah untuk Mengatasi Kebuntuan

Proposal Iran bertujuan memecahkan impas terkait pengayaan uranium demi mempercepat pembukaan blokade dan pemulihan arus lalu lintas pelayaran. Rencana ini mencakup perpanjangan gencatan senjata selama periode panjang atau bahkan permanen, dengan negosiasi nuklir baru dimulai setelah Selat Hormuz kembali terbuka dan pembatasan dianggap selesai.

Trump: Blokade Laut Perlu Diperkuat

“Ketika Anda punya minyak sangat banyak … dan jika salurannya ditutup … salurannya akan meledak dari dalam,” ujar Trump, menyatakan keinginan untuk mempertahankan blokade laut terhadap Iran guna meningkatkan tekanan. Menurutnya, Teheran hanya memiliki “tiga hari” sebelum menghadapi tekanan internal.

Gedung Putih mengonfirmasi menerima usulan Iran, meski belum memberi respons mengenai keinginan menindaklanjutinya. Rapat dengan pejabat keamanan senior dijadwalkan Senin untuk membahas strategi mengatasi kesengketa tersebut.

Upaya Diplomasi yang Intens

Pada akhir pekan, diskusi diplomatik terus berlangsung dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan pertemuan di Islamabad, Pakistan, serta Muscat, Oman, terkait situasi Selat Hormuz. Araghchi juga tiba di St. Petersburg, Rusia, Senin pagi untuk bertemu dengan Presiden Vladimir Putin dan pejabat senior lainnya.

Kegagalan Negosiasi Awal

Pembicaraan tahap pertama antara AS dan Iran di Islamabad berlangsung 11-12 April lalu, tetapi tidak mencapai kesepakatan. Diskusi ini dimulai setelah Pakistan mendorong gencatan senjata dua minggu pada 8 April, yang kemudian diperpanjang oleh Trump. Meski beberapa isu tetap menjadi hambatan, seperti blokade pelabuhan Iran dan hak pengayaan uranium, upaya mediasi masih terus berjalan.