Key Strategy: Erick sebut keterlibatan swasta penting majukan ekosistem bola basket
Erick Thohir: Peran Swasta Penting dalam Penguatan Ekosistem Bola Basket Nasional
Key Strategy – Dalam wawancara di Jakarta, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menekankan bahwa kehadiran sektor swasta adalah komponen kunci dalam mendukung pembinaan olahraga bola basket secara berkelanjutan. Menurutnya, kontribusi perusahaan-perusahaan swasta tidak hanya membantu memperluas akses olahraga ini ke tingkat dasar, tetapi juga memastikan keberlanjutan program pelatihan yang terstruktur. Erick menyatakan bahwa kerja sama dengan pihak swasta menjadi strategi penting untuk mendorong pertumbuhan kompetitif di sektor basket, khususnya melalui pengembangan sumber daya manusia olahraga yang lebih berkualitas.
Program Kolaboratif untuk Penguatan Pembinaan
Erick menyoroti inisiatif yang dilakukan oleh Federasi Bola Basket Internasional (FIBA), Dewan Pengurus Pusat Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (DPP Perbasi), dan MILO Indonesia dalam menyelenggarakan program Basketball for Good. Dalam keterangannya, ia menyebut bahwa inisiatif tersebut bertujuan untuk menumbuhkan minat siswa terhadap olahraga basket melalui kegiatan yang menyenangkan dan edukatif. “Kerja sama antara MILO dan FIBA merupakan langkah strategis yang memperkuat keberlanjutan pembinaan di sekolah-sekolah,” ujarnya.
“Saya sangat mengapresiasi MILO dan FIBA yang aktif dalam pengembangan olahraga di sekolah, jadi penandatanganan kerja sama itu merupakan langkah positif bagi olahraga bola basket,” kata Erick di Jakarta, Minggu.
Menurut Erick, bola basket memiliki basis penikmat yang signifikan di Indonesia, sehingga diperlukan dukungan kolektif untuk memastikan pengembangan program pelatihan bisa mencapai tingkat akar rumput secara maksimal. Ia menekankan bahwa partisipasi swasta bukan hanya sekadar tambahan, tetapi sebagai penopang utama dalam memperkuat sistem pembinaan atlet muda. “Dengan kolaborasi ini, kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih mendukung bagi para pemain yang berbakat,” tambahnya.
Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) berencana mengembangkan kerja sama lintas lembaga pemerintah dan swasta untuk membangun ekosistem olahraga nasional yang lebih kuat. Erick menjelaskan bahwa hal ini termasuk peningkatan kualitas pelatih dan wasit, serta pemanfaatan sumber daya lokal seperti guru-guru yang memiliki minat pada basket. “Kami akan menggandeng berbagai institusi, termasuk Bappenas, Kemendikdasmen, dan Kementerian Kebudayaan, untuk mengakselerasi pertumbuhan olahraga ini,” ujarnya.
Program Basketball for Good, yang diluncurkan oleh MILO Indonesia dan FIBA, diharapkan menjadi jembatan antara komunitas olahraga dan dunia pendidikan. Erick menyatakan bahwa inisiatif ini akan dijalankan di berbagai daerah dengan pendekatan yang berbasis komunitas dan partisipatif. “Kerja sama ini tidak hanya fokus pada pertandingan, tetapi juga pada pelatihan teknis dan peningkatan keterampilan atlet muda,” katanya.
Dalam proses pembinaan, Erick menyebut bahwa pengembangan pelatih dan wasit adalah salah satu prioritas utama. Ia menjelaskan bahwa program pelatihan ini tidak hanya melibatkan profesional, tetapi juga memperluas partisipasi dari individu-individu yang memiliki passion terhadap olahraga. “Guru-guru yang tertarik bisa menjadi pelatih potensial, dan Kemenpora akan membantu mereka mendapatkan sertifikasi resmi dari federasi basket,” tambahnya.
Menurut Erick, keberhasilan pembinaan olahraga nasional tergantung pada keterlibatan aktif semua pihak. Ia menyoroti pentingnya koordinasi antara pemerintah dan sektor swasta untuk menciptakan kebijakan yang saling menguntungkan. “Kerja sama lintas sektor adalah kunci untuk menjaga konsistensi dan keberlanjutan program,” katanya. Selain itu, Erick menekankan bahwa penguatan sumber daya manusia olahraga harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas infrastruktur dan kelembagaan.
“Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, kami harus membangun talenta nasional, jadi programnya merupakan sinergi antara Kemenpora, Bappenas, Kemendikdasmen, dan Kementerian Kebudayaan,” tambah dia.
Menpora Erick Thohir juga mengungkapkan rencana untuk mengintegrasikan basket ke dalam kurikulum pendidikan dasar. Ia menyatakan bahwa olahraga ini bisa menjadi bagian dari pendidikan karakter dan pengembangan fisik siswa. “Kami akan mendorong sekolah-sekolah untuk mengadopsi program pelatihan yang komprehensif, termasuk latihan teknik dasar dan pertandingan kecil,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa ini adalah upaya untuk menjadikan basket sebagai olahraga yang lebih inklusif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Seiring dengan program Basket for Good, Erick mengatakan bahwa Kemenpora akan terus meningkatkan kapasitas pelatih dan wasit di daerah-daerah terpencil. “Kami ingin memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dalam olahraga ini, tidak peduli tempat tinggalnya,” katanya. Ini berarti bahwa kehadiran swasta tidak hanya sekadar mendanai, tetapi juga turut berperan dalam membangun jaringan pelatih dan pengurus yang solid.
Pembinaan di tingkat akar rumput, menurut Erick, harus didukung oleh berbagai pihak, termasuk komunitas lokal dan media. “Kita perlu memastikan bahwa olahraga ini tidak hanya dilihat dari segi kompetisi, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat,” ujarnya. Dengan menumbuhkan minat sejak dini, ia berharap bahwa basket bisa menjadi olahraga yang diminati oleh lebih banyak generasi muda.
Menpora juga menyebut bahwa pemerintah akan mengoptimalkan peran lembaga-lembaga seperti DPP Perbasi dan FIBA dalam menyelenggarakan turnamen nasional yang lebih sering. “Turnamen tingkat sekolah harus menjadi ajang untuk menemukan bakat-bakat baru, sekaligus melatih mental dan kedisiplinan para atlet,” katanya. Selain itu, ia menekankan bahwa pelatihan ini harus dilakukan secara rutin dan berkelanjutan, sehingga memastikan adanya generasi atlet basket yang mampu bersaing di tingkat internasional.
Keberhasilan kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta, menurut Erick, akan menjadi pondasi untuk membangun ekosistem olahraga yang lebih baik. “Saya yakin bahwa dengan kehadiran MILO dan FIBA, pembinaan basket bisa berjalan lebih efektif dan mencapai target yang lebih luas,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa program ini tidak hanya memberikan manfaat untuk para atlet, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar melalui pembentukan kebiasaan sehat dan peningkatan keterampilan sosial.
Sebagai penutup, Erick Thohir menegaskan bahwa pembinaan olahraga nasional adalah tanggung jawab bersama. “Pemerintah tidak bisa bekerja sendirian, kita butuh dukungan dari pihak swasta dan masyarakat,” katanya. Ia berharap kolaborasi ini bisa terus berlanjut dan menciptakan suasana olahraga yang lebih sehat dan kompetitif di Indonesia. “Dengan peran swasta yang aktif, kita bisa memastikan bahwa bola basket terus berkembang dan menjadi olahraga yang relevan dengan
