Latest Program: Bappenas: Saat beralih dari riset publikasi ke riset berdampak

Bappenas: Perpindahan Paradigma dari Riset Publikasi ke Riset Berdampak

Latest Program – Dalam upaya mendorong transformasi pembangunan nasional, Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Wakil Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Febrian Alphyanto Ruddyard menyoroti pentingnya pergeseran mindset dari pendekatan penelitian yang hanya fokus pada publikasi ke riset yang mampu menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat. Ia menekankan bahwa perubahan ini tidak hanya bersifat terminologis, tetapi juga melibatkan perubahan dalam cara berpikir dan implementasi kerja.

Kolaborasi untuk Membangun Ekosistem Riset

Febrian memberikan pidato di Forum Kolaborasi Riset, Ilmu Pengetahuan, dan Inovasi Australia-Indonesia (KONEKSI) yang diadakan di Jakarta, Selasa lalu. Dalam kesempatan tersebut, ia mengungkapkan bahwa salah satu tantangan utama yang dihadapi Indonesia adalah kesenjangan antara dunia riset dan kebijakan. Menurutnya, banyak penelitian yang hanya berhenti pada tahap publikasi dan belum mampu menjadi solusi nyata yang dapat diaplikasikan di lapangan.

“Jawaban atas tantangan global tidak bisa lahir dari satu negara saja, tetapi dari kolaborasi, kepercayaan, dan kesediaan untuk belajar satu sama lain,” kata Febrian dalam pidatonya.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan pembangunan memerlukan ekosistem yang mempertemukan pemerintah, akademisi, sektor industri, komunitas, dan media. Melalui KONEKSI, Febrian menyatakan bahwa pemerintah berkomitmen untuk menciptakan ruang interaksi yang optimal antara para pelaku riset dan pelaksana kebijakan, sehingga riset dapat diubah menjadi bentuk kebijakan yang operasional.

Transformasi Riset ke Solusi Konkret

Febrian menekankan bahwa perencanaan pembangunan harus didasarkan pada bukti dan pendekatan ilmiah. Kebijakan yang diterapkan harus mampu mengubah gagasan menjadi tindakan nyata yang berdampak di tingkat masyarakat. Ia juga mengungkapkan bahwa pengetahuan tidak boleh terbatas pada pusat-pusat urban, melainkan harus merespons kebutuhan daerah dan terintegrasi dalam kehidupan lokal.

Dalam rangka mendukung perubahan ini, Bappenas mengusung tiga strategi utama: pertama, memperkuat hubungan antara peneliti dan pembuat kebijakan; kedua, meningkatkan mekanisme translasi hasil riset menjadi program yang dapat diterapkan; ketiga, memastikan keberlanjutan kerja sama antara Indonesia dan Australia melalui KONEKSI. Febrian mengatakan bahwa KONEKSI bukan hanya investasi finansial, tetapi juga dalam penguatan kapasitas berpikir dan kreativitas bersama.

Langkah Nyata untuk Ketahanan dan Pertumbuhan Ekonomi

KONEKSI diharapkan menjadi wadah kolaborasi yang mendorong keberlanjutan riset dan kebijakan yang relevan dengan tantangan sosial dan ekonomi. Febrian menuturkan bahwa riset yang dihasilkan dari program ini harus mampu menjadi dasar untuk mengembangkan ketahanan nasional serta pertumbuhan ekonomi yang inklusif. “Riset berdampak adalah kunci untuk memastikan kebijakan tidak hanya mencapai target, tetapi juga berkontribusi pada perbaikan kualitas hidup masyarakat,” tambahnya.

Dalam konteks kemitraan internasional, Febrian memandang bahwa kolaborasi antara Indonesia dan Australia membuktikan pentingnya sinergi lintas negara dalam menghadapi masalah kompleks yang memengaruhi skala global. Ia berharap hubungan ini terus berkembang, menciptakan jaringan yang saling menguntungkan dan menginspirasi inisiatif serupa di negara lain.

Integrasi Riset dalam Pembangunan

Bappenas menggambarkan bahwa pergeseran paradigma ini juga mengubah cara riset dilihat sebagai alat untuk kemajuan nasional. Febrian menjelaskan bahwa riset seharusnya tidak hanya menjadi bahan akademis, tetapi juga sebagai penggerak perubahan praktis. Dengan meningkatkan keterlibatan semua pihak, ia berharap kebijakan dan program yang dihasilkan bisa lebih adaptif terhadap dinamika sosial dan ekonomi di lapangan.

Salah satu aspek penting yang diungkapkan Febrian adalah kebutuhan untuk memastikan penelitian relevan dengan kebutuhan masyarakat. “Kita harus menghindari kecenderungan riset yang terlalu teoritis dan tidak mampu menjawab masalah aktual,” imbuhnya. Untuk itu, Bappenas menekankan pentingnya komunikasi dua arah antara akademisi dan pelaku kebijakan, sehingga hasil penelitian dapat segera diaplikasikan dan diukur dampaknya.

Pengaruh Global dan Lokal yang Berimbang

Febrian juga menyebutkan bahwa dalam menghadapi tantangan global, Indonesia perlu membangun kapasitas lokal. Riset yang berdampak harus mampu menyesuaikan diri dengan kondisi spesifik daerah, sekaligus memberikan wawasan nasional yang strategis. “Riset yang berdampak adalah riset yang bisa bergerak di antara skala lokal dan global,” kata Febrian.

Dengan keberhasilan kolaborasi di KONEKSI, Bappenas berharap mampu mempercepat proses transformasi ini. Ia menyoroti bahwa keberlanjutan kemitraan tidak hanya diukur dari volume pertukaran data, tetapi juga dari kemampuan menghasilkan inovasi yang mampu diadaptasi di berbagai tingkat pemerintahan. “Kami menantikan kebijakan yang tidak hanya berlandaskan bukti, tetapi juga berorientasi pada solusi yang efektif,” tuturnya.

Pengembangan Kualitas Berpikir

Dalam konteks jangka panjang, Febrian menilai bahwa KONEKSI menjadi investasi kualitatif yang mengubah cara masyarakat berpikir. Ia berharap program ini mampu meningkatkan kemampuan analisis dan kreativitas para pelaku kebijakan, sehingga mampu menghadapi masalah-masalah kompleks dengan pendekatan yang holistik. “KONEKSI adalah platform untuk mengajarkan cara berpikir yang lebih relevan, lebih berorientasi solusi, dan lebih inklusif,” ujarnya.

Febrian menambahkan bahwa transformasi ini membutuhkan peran aktif semua pihak, termasuk pemerintah, akademisi, dan masyarakat. Ia mengatakan bahwa keberhasilan pembangunan nasional tidak bisa dicapai tanpa pendekatan yang kritis dan terukur. “Kami menegaskan bahwa riset harus menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan kehidupan nyata,” pungkasnya.