Skip to content
Nasional

Main Agenda: Gubernur Pramono Anung Terharu Teringat Masa Lalu di Open House Sekolah Rakyat

Intan Kurniawan - tempatdonasi.com 4 mins read

n Agenda: Gubernur Pramono Anung Terharu di Open House Sekolah Rakyat Main Agenda - Open House Sekolah Rakyat menjadi momen penting yang mengingatkan Pramono

Main Agenda: Gubernur Pramono Anung Terharu Teringat Masa Lalu di Open House Sekolah Rakyat

Main Agenda: Gubernur Pramono Anung Terharu di Open House Sekolah Rakyat

Tempatdonasi.com – Open House Sekolah Rakyat menjadi momen penting yang mengingatkan Pramono Anung pada perjalanan pendidikan masa lalu. Dalam acara ini, Main Agenda Pemerintah DKI Jakarta terlihat jelas melalui dukungan terhadap program pendidikan inklusif. Pada hari Jumat, 3 Juli 2026, Pramono Anung bersama Menteri Sosial Saifullah Yusuf hadir di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 10 Jakarta, yang menjadi pusat perhatian masyarakat. Hadirnya tokoh-tokoh tersebut menciptakan suasana yang penuh semangat dan antusias, sekaligus menegaskan komitmen Main Agenda dalam memperluas akses pendidikan bagi keluarga miskin.

Siswa SRMA Menunjukkan Semangat dalam Open House

Kegiatan open house di SRMA 10 Jakarta dipenuhi oleh kegembiraan siswa dan orang tua. Para murid berpakaian hijau army memperlihatkan semangat belajar dengan mengucapkan yel-yel yang menggema. Kalimat seperti “Aku anak hebat Sekolah Rakyat, setiap hari rajin ibadah, maju berprestasi, semangat belajar, jadi juara” menjadi bagian dari Main Agenda pendidikan yang mengedepankan motivasi dan kepercayaan diri. Bagian ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memperlihatkan bagaimana pendidikan bisa menjadi alat untuk membangun komunitas yang solid.

“SRMA 10 Jakarta, satu hati satu jiwa!”

Momen Pribadi Gubernur dalam Membangun Akses Pendidikan

Pramono Anung mengungkapkan rasa haru saat bertemu dengan siswa yang berjuang untuk menyelesaikan pendidikan. Dalam dialog singkatnya dengan Muhammad Sesa, seorang murid yang pernah putus sekolah, ia menyoroti tantangan yang dihadapi banyak anak Indonesia. “Sebelumnya sekolah di mana?” tanyanya. “Saya putus sekolah, Pak,” jawab Sesa. Momen ini menjadi refleksi Main Agenda yang berfokus pada pengembangan sektor pendidikan untuk merombak nasib anak-anak dari latar belakang kurang beruntung.

Kemajuan SRMA diakui oleh Pramono Anung, yang berharap program ini terus diperluas. Ia menyampaikan bahwa akses pendidikan yang terjangkau adalah salah satu pilar Main Agenda dalam upaya memutus siklus kemiskinan. “Saya meneteskan air mata saat melihat mereka berkembang,” ujarnya, menegaskan bahwa pembelajaran di SRMA bukan hanya tentang materi, tetapi juga tentang motivasi dan harapan.

Peran Pemerintah DKI dalam Mendukung SRMA

Dukungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terhadap SRMA semakin nyata dalam rencana penambahan kapasitas sekitar seribu siswa. Pramono Anung mengatakan bahwa diskusi dengan Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan komitmen Main Agenda dalam memperluas peluang belajar. “Tadi saya juga berdiskusi untuk menambah sekitar seribu siswa lagi di Jakarta,” terangnya, menyoroti prioritas pengembangan infrastruktur pendidikan yang lebih layak.

Di sisi lain, Gus Ipul menekankan bahwa SRMA menjadi bukti bahwa negara tidak meninggalkan anak-anak dari keluarga kurang beruntung. Ia menyoroti kisah Naira Intan Safitri, seorang siswa yang kehilangan ibunya. “Tapi sekarang lihat kamu, lebih segar dan percaya diri,” puji Gus Ipul, yang menilai Main Agenda ini sebagai bagian dari visi Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong kemandirian melalui pendidikan.

Kemajuan SRMA dalam Membangun Bakat Siswa

Peluang yang diberikan SRMA telah menghasilkan keberagaman bakat di antara siswa. Aktivitas seperti tari Gadis Bersolek Betawi, paduan suara, dan pembacaan puisi dalam berbagai bahasa—termasuk Inggris, Arab, dan Mandarin—menjadi bukti Main Agenda yang mencakup pendidikan seni dan keahlian. Pramono Anung menyampaikan bahwa lulusan SRMA tidak hanya diharapkan menjadi tenaga kerja terampil, tetapi juga memiliki potensi untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

Sekolah Rakyat Menengah Atas ini menunjukkan bahwa Main Agenda pendidikan bisa menjadi jembatan bagi anak-anak yang kurang beruntung. Dengan melibatkan orang tua dalam proses belajar, program ini membangun kesadaran bersama tentang pentingnya pendidikan sebagai sarana pemutus kemiskinan. “Anaknya lulus, orang tuanya lebih mandiri,” pungkas Gus Ipul, menegaskan bahwa Main Agenda ini tidak hanya menyelesaikan masalah pendidikan, tetapi juga memberdayakan keluarga secara keseluruhan.

Perspektif Masa Depan melalui Main Agenda

Pramono Anung berharap lulusan SRMA bisa menjadi bagian dari generasi penerus bangsa. Ia mencontohkan bahwa beberapa puluh tahun ke depan, mungkin ada Presiden Indonesia yang berasal dari keluarga yang pernah hidup miskin. “Ini adalah Main Agenda yang memperkuat harapan anak-anak,” tambahnya, menegaskan bahwa pendidikan harus menjadi prioritas utama pemerintah. Gus Ipul menyetujui pendapat tersebut, mengatakan bahwa SRMA adalah contoh nyata dari upaya untuk mengubah nasib melalui akses belajar yang merata.

“Ini adalah cara negara memelihara fakir miskin dan anak-anak terlantar sebagai bagian dari visi besar Presiden Prabowo,”

Proses perubahan yang dimulai dari kecil ini membuktikan bahwa Main Agenda pendidikan bisa menghasilkan dampak jangka panjang. Dengan menjaga komitmen terhadap SRMA, Pemerintah DKI Jakarta menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga tanggung jawab kolektif masyarakat dan pemerintah untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Join the discussion