New Policy: PR dituntut tak hanya raih eksposur namun juga dampak bisnis
PR dituntut tak hanya raih eksposur namun juga dampak bisnis
New Policy – Jakarta – Peran public relations (PR) di Indonesia kini mengalami pergeseran fase yang lebih signifikan. Selama ini, fungsi komunikasi lebih dikenal sebagai alat promosi dan pengelolaan citra melalui media, namun sekarang mulai disematkan tuntutan baru. PR tidak lagi sekadar menciptakan kesan positif, melainkan diharapkan memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan bisnis, mulai dari peningkatan pendapatan hingga penguatan kepercayaan publik terhadap organisasi. Perubahan ini terungkap dalam penelitian tren penggunaan layanan konsultan PR yang diluncurkan oleh Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia (APPRI) bekerja sama dengan tim program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Bisnis dan Ilmu Sosial Unika Atma Jaya Jakarta, pada Selasa lalu.
Pergeseran Ekspektasi Klien
Deputi I APPRI, Faradila Astari Rahmiliza, menegaskan bahwa pergeseran ekspektasi dari klien terhadap PR cukup signifikan. Menurutnya, hasil studi ini menunjukkan bahwa PR telah mampu menguasai eksekusi dalam berbagai aspek, seperti manajemen media, penyelesaian isu, serta penanganan krisis. Namun, tuntutan klien telah berubah drastis, mengharapkan bukti-bukti yang lebih konkret terkait dampak layanan tersebut.
“Dari hasil studi ini kita melihat satu pola yang konsisten, PR sudah kuat di eksekusi, media, kemudian juga isu, krisis. Tapi ekspektasi terhadap PR sudah bergeser jauh sekali melakukan itu sekarang,” ujarnya.
Menurut Faradila, klien kini tidak lagi memprioritaskan jumlah publikasi atau metrik teknis, melainkan lebih tertarik mengetahui bagaimana layanan PR berkontribusi pada hasil bisnis. Mereka mulai meminta analisis terkait nilai tambah yang diperoleh, seperti korelasi antara eksposur dan peningkatan pendapatan, atau pengaruh terhadap kebijakan organisasi.
“Hari ini klien tidak lagi bertanya tentang berapa banyak aplikasi, tetapi mulai tanya dampaknya apa, insight-nya apa, kemudian apa kontribusi terhadap bisnis dan kebijakan. Jadi sudah mulai tanya tentang dampak, sudah mulai tanya dari reputasi ke revenue itu, bagaimana korelasinya,” tambahnya.
Korelasi Antara PR dan Kepercayaan Publik
Perubahan ini juga mencakup peningkatan fokus klien terhadap aspek kepercayaan publik. Mereka mulai menilai sejauh mana layanan PR dapat membangun citra yang konsisten dan meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap merek atau organisasi. “Kemudian sudah tanya juga dari reputasi ke kepercayaan itu sudah sampai mana, jadi sudah mulai ke arah sana,” lanjut Faradila.
Menurutnya, klien kini menuntut PR untuk membuktikan bahwa strategi komunikasi mereka tidak hanya memberikan eksposur, tetapi juga mampu mengubah persepsi masyarakat dan memperkuat hubungan dengan pemangku kepentingan. Hal ini menunjukkan bahwa peran PR semakin terintegrasi dengan kebutuhan jangka panjang bisnis, bukan hanya tuntutan jangka pendek.
Kesiapan Internal Organisasi
Studi tersebut juga mengungkapkan bahwa meski tuntutan terhadap PR berubah, kesiapan internal organisasi belum sepenuhnya mengikuti perkembangan ini. Ketua Umum APPRI, Sari Soegondo, menjelaskan bahwa PR telah menjadi bagian dari hampir semua perusahaan, baik untuk kebutuhan peluncuran produk maupun untuk membangun reputasi jangka panjang serta menangani krisis. Namun, pendekatan yang lebih strategis dalam mengelola fungsi komunikasi dinilai masih perlu ditingkatkan.
“Meski demikian, pendekatan strategis terhadap fungsi komunikasi dinilai masih perlu diperkuat,” kata Sari.
Menurut Sari, keberadaan PR di berbagai organisasi menunjukkan bahwa fungsi ini semakin diakui. Namun, banyak perusahaan masih mengukur kinerja PR berdasarkan metrik output seperti jumlah artikel atau publikasi, bukan dampak jangka panjang yang bisa diukur dalam bentuk ROI atau perubahan perilaku konsumen. “Pengukuran kinerja PR memang mulai bergerak ke arah dampak dan nilai bisnis seperti return on investment (ROI), namun praktiknya masih didominasi oleh metrik output seperti jumlah publikasi,” jelasnya.
Potensi Peran PR Sebagai Fungsi Strategis
APPRI berharap studi ini menjadi dasar bagi perusahaan dan konsultan PR untuk merevisi peran komunikasi menjadi lebih strategis. “APPRI memandang sangat perlu diadakan riset pasar semacam ini agar dapat menyajikan potret kondisi pasar dan potensi bisnis terkini yang bisa menjadi alat navigasi bagi para perusahaan konsultan komunikasi dan PR,” tutur Sari.
Dengan memperkuat pendekatan berbasis dampak, PR tidak hanya berfungsi sebagai alat promosi, tetapi juga sebagai penunjang keberhasilan bisnis. Ini memerlukan transformasi dalam cara kerja, di mana perusahaan tidak hanya menghitung jumlah media yang terjangkau, tetapi juga mengukur sejauh mana kegiatan komunikasi mereka mampu memengaruhi keputusan konsumen, mendukung kebijakan, atau meningkatkan loyalitas merek.
Pergeseran ini juga menunjukkan bahwa klien semakin kritis dalam menilai efektivitas PR. Mereka menuntut bukti-bukti konkret, seperti data yang menunjukkan peningkatan penjualan setelah kampanye komunikasi, atau peningkatan kepercayaan publik terhadap organisasi. Studi ini menjadi penting untuk memperjelas standar evaluasi dan memberikan arah bagi pengembangan layanan PR yang lebih berdampak.
Faradila menambahkan bahwa peran PR dalam era digital saat ini tidak hanya terbatas pada media konvensional, tetapi juga melibatkan strategi komunikasi di platform media sosial, konten digital, serta interaksi langsung dengan audiens. “PR sekarang harus mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan bisnis, baik dalam bentuk kuantitatif maupun kualitatif,” kata dia.
Di sisi lain, Sari menyoroti pentingnya pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas konsultan PR. “Dengan memahami bagaimana PR dapat diukur melalui dampak bisnis, para praktisi bisa memberikan layanan yang lebih relevan dan berkelanjutan,” imbuhnya.
Studi ini menjadi bahan pertimbangan bagi industri komunikasi Indonesia untuk mengadaptasi model kerja. Dengan fokus pada dampak, PR tidak hanya menjadi bagian dari strategi bisnis, tetapi juga penentu utama dalam mencapai tujuan jangka panjang. APPRI meng
