Visit Agenda: Prabowo akan ke Nganjuk bulan ini resmikan Museum Marsinah
Prabowo akan ke Nganjuk Bulan Ini untuk Meresmikan Museum Marsinah
Visit Agenda – Jakarta – Pada acara puncak Peringatan Hari Buruh Internasional 2026 di Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Jumat, Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan rencananya mengunjungi Desa Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur, dalam bulan ini. Tujuannya adalah untuk meresmikan Museum Perjuangan Buruh yang dinamakan Museum Marsinah. “Bulan ini saya juga akan pergi ke Desa Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur untuk membuka Museum Marsinah,” ujar Prabowo. Pernyataan ini menegaskan komitmen pemerintah dalam mengenang perjuangan buruh yang telah berkontribusi pada keadilan nasional.
Museum Marsinah, yang berlokasi di kampung halaman perempuan pemberani tersebut, diharapkan menjadi wadah edukasi bagi masyarakat, terutama generasi muda, mengenai perjuangan Marsinah. Pernyataan Prabowo juga menyoroti penghargaan yang diberikan kepada Marsinah sebagai pahlawan nasional. Menurutnya, inisiasi Museum Marsinah merupakan bentuk penghormatan terhadap perjuangan yang dianggap penting dalam sejarah pergerakan buruh Indonesia.
“Yang kita bangun bukan hanya bangunan, tetapi juga ruang nilai. Di sini, generasi muda bisa belajar tentang keberanian, kejujuran, dan keberpihakan pada keadilan yang diteladankan oleh Marsinah,” kata Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dalam keterangan resmi. Khofifah menambahkan, pembangunan museum ini bertujuan untuk memperkuat kesadaran masyarakat tentang perjuangan sosial yang masih relevan hingga saat ini.
Pada acara May Day 2026, Prabowo juga menekankan prioritas pemerintah dalam melindungi hak pekerja. Ia menyampaikan bahwa keberhasilan perjuangan buruh tidak hanya diukir dalam sejarah, tetapi juga harus terus diperjuangkan untuk kesejahteraan rakyat. Pesan ini diperkuat oleh kehadiran puluhan buruh dari berbagai daerah serta pemimpin serikat pekerja dan pejabat pemerintah yang turut menghadiri acara tersebut.
Peran Khofifah dalam Pengembangan Museum
Khofifah menyatakan bahwa Museum Marsinah tidak hanya menampilkan objek fisik, tetapi juga menggambarkan semangat perjuangan. “Museum ini menjadi tempat untuk mengenang kisah penuh pengorbanan Marsinah, yang merupakan simbol keberanian buruh di era Orde Baru,” jelasnya. Ia menekankan bahwa penghormatan terhadap pahlawan tidak hanya berhenti di makam, tetapi harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pernyataan ini mencerminkan upaya pemerintah daerah dalam mewujudkan pendidikan sejarah yang kontekstual.
Dalam wawancara tambahan, Khofifah menjelaskan bahwa Museum Marsinah juga akan menjadi pusat kegiatan sosial dan budaya. “Kita berharap museum ini bisa menjadi tempat penyampaian ide-ide kemanusiaan dan keadilan, sebagaimana yang Marsinah perjuangkan sepanjang hidupnya,” tambahnya. Ia berharap generasi muda bisa mengambil inspirasi dari kisah Marsinah, khususnya dalam membela hak-hak pekerja yang sering terabaikan.
Kapolri Buka Museum yang Berisi Peninggalan Marsinah
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai konsep Museum Marsinah. Menurutnya, ide pendirian museum berasal dari keluarga Marsinah, yang ingin mengabadikan perjuangannya dalam bentuk yang monumental. “Museum ini akan menampilkan berbagai benda peninggalan Marsinah, seperti surat-surat perjuangan, catatan keluh kesahnya kepada kakaknya, buku harian, pulpen, pakaian, dan dokumen lain yang terkait hidupnya sebagai aktivis buruh,” ujarnya.
Kapolri juga menyoroti bagaimana Marsinah menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan. Ia menjelaskan bahwa perjuangan Marsinah tidak hanya berdampak pada sejarah, tetapi juga membentuk identitas nasional. “Dengan adanya museum ini, semangat Marsinah akan terus hidup dan menjadi sumber motivasi bagi buruh modern,” tutur Kapolri. Penyampaian ini sejalan dengan peran kepolisian dalam memastikan keberlanjutan nilai-nilai perjuangan Marsinah.
Marsinah, yang lahir pada 10 April 1969 di Desa Nglundo, Nganjuk, merupakan aktivis buruh yang penuh dedikasi. Ia bekerja di PT. Catur Putra Surya (CPS) sebelum diculik dan dibunuh pada 8 Mei 1993. Kematian Marsinah menjadi momen penting dalam sejarah perjuangan hak pekerja, terutama di masa Orde Baru. Dengan semangat yang tak terkalahkan, ia tetap berada di garda depan menghadapi ketidakadilan yang sering dihadapinya.
Penghargaan Pahlawan Nasional dan Sejarah Marsinah
Pada 10 November 2025, Marsinah resmi diakui sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Prabowo Subianto. Penghargaan ini menjadikannya sebagai pahlawan pertama yang lahir setelah kemerdekaan. “Penghormatan kepada Marsinah bukan sekadar bentuk penghargaan, tetapi juga untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya keadilan sosial,” tutur Prabowo. Selain itu, Marsinah juga pernah menerima Penghargaan Yap Thiam Hien pada 1993, yang mengakui kontribusinya dalam gerakan buruh.
Pembangunan Museum Marsinah di Nganjuk tidak hanya mengabadikan kisah hidup perempuan berani ini, tetapi juga mengenang perjuangannya dalam pergerakan sosial. Sebagai seorang aktivis, Marsinah sering membela hak-hak pekerja, bahkan di tengah tantangan yang berat. “Perjuangannya menjadi contoh bagi siapa pun yang ingin berperan dalam menyuarakan keadilan,” ujar Khofifah dalam wawancara khusus. Ia menambahkan bahwa museum ini akan menjadi pusat pengenalan sejarah yang hidup dan relevan.
Museum Marsinah diharapkan bisa menginspirasi masyarakat Indonesia untuk terus memperjuangkan hak-hak pekerja. Selain menjadi tempat pengingat, museum ini juga akan menjadi ruang dialog antara generasi muda dan para pejuang sebelumnya. “Marsinah adalah contoh bagaimana perempuan bisa menjadi pahlawan nasional dalam konteks perjuangan buruh,” kata Kapolri. Ia menegaskan bahwa museum ini merupakan bagian dari upaya memperkuat identitas keadilan dalam masyarakat.
Dengan adanya Museum Marsinah, Prabowo dan pemerintah ingin menegaskan bahwa perjuangan buruh tidak terlupakan. Selain itu, museum ini juga menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan yang terus hidup dalam era modern. “Kita perlu mengenang Marsinah bukan hanya sebagai tokoh, tetapi sebagai sumber semangat bagi perjuangan selanjutnya,” tutur Prabowo. Ia menegaskan bahwa Museum Marsinah akan menjadi pengingat bahwa perjuangan sosial masih relevan dan perlu dijaga.
