Orang tua terlibat sejak awal dalam pendidikan anak di era digital

Orang tua terlibat sejak awal dalam pendidikan anak di era digital

Orang tua terlibat sejak awal – Jakarta – Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional yang dirayakan setiap 2 Mei, psikolog klinis anak dan remaja Gisella Tani Pratiwi, M.Psi, memberikan peringatan penting mengenai peran orang tua dalam membentuk pola penggunaan teknologi anak di tengah keberadaan era digital. Menurut Gisella, para orang tua harus hadir sejak awal dalam proses pendidikan, terutama dalam mengatur bagaimana anak-anak mengakses dan memanfaatkan alat digital. Ini menjadi tantangan baru karena teknologi kini telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam dunia pendidikan.

Peran orang tua sebagai pendidik pertama tidak bisa digantikan meskipun di tengah keberadaan platform digital yang memudahkan akses informasi. Gisella menekankan bahwa keterlibatan orang tua dimulai sejak dini sangat penting agar anak-anak bisa membentuk kebiasaan sehat dalam menggunakan gadget, internet, dan media sosial. “Jika kita tidak mengawasi penggunaannya secara tepat waktu, akan sulit membangun pola yang baik,” jelas Gisella kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.

“Kita tidak bisa menghindari pengaruh dari dunia digital, tapi harus memastikan anak-anak tetap berkembang secara karakteristik. Peran orang tua dalam mengelola teknologi anak adalah kunci untuk mencegah dampak negatif yang mungkin terjadi,” kata Gisella.

Menurut psikolog lulusan Universitas Indonesia ini, usia anak yang lebih muda memerlukan batasan yang lebih ketat dalam penggunaan media. Ia menyampaikan bahwa anak di bawah tiga tahun sebaiknya hanya diberikan akses gadget atau internet secara terbatas. “Misalnya, setiap hari hanya 15 menit penggunaan perangkat elektronik, sisanya digunakan untuk kegiatan non-digital seperti bermain, berbicara, atau belajar bersama orang tua,” ujar Gisella.

Keterlibatan orang tua dalam menyediakan pilihan aktivitas alternatif memainkan peran kritis dalam memastikan anak tidak terlalu bergantung pada teknologi. Dalam konteks ini, Gisella menekankan pentingnya kegiatan sensori-motorik yang dapat mengasah keterampilan fisik dan kognitif anak. Contohnya, aktivitas seperti bermain dengan mainan, bercerita, atau melukis bisa menjadi pengganti yang efektif untuk penggunaan gadget. Dengan demikian, anak tidak hanya mengembangkan kemampuan berpikir, tapi juga menjaga hubungan emosional yang kuat dengan orang tua.

Saat anak memasuki usia 3-6 tahun, Gisella menyarankan bahwa penggunaan media digital bisa ditingkatkan, asalkan sesuai dengan konten yang sesuai. Ia menekankan bahwa masa ini adalah saat anak mulai memahami dunia di sekitarnya, sehingga orang tua perlu memilih konten yang mendukung perkembangan mereka. “Durasi penggunaan perangkat bisa disesuaikan menjadi sekitar 30 menit per hari, dengan aktivitas seperti bermain game atau menonton video edukatif,” tambah Gisella.

Pada usia sekolah dasar, penggunaan media sosial dan gadget harus diatur melalui kesepakatan bersama antara orang tua dan anak. Gisella menegaskan bahwa aturan yang jelas dan realistis diperlukan agar anak tidak terjebak dalam penggunaan digital secara berlebihan. “Orang tua harus menjadi contoh dalam memahami tujuan aktivitas bergadget, seperti mencari informasi atau berinteraksi sosial,” jelasnya. Selain itu, ia menyarankan agar orang tua tetap menyediakan alternatif aktivitas yang menyenangkan, seperti permainan tradisional atau kegiatan ekstrakurikuler, untuk mengimbangi penggunaan teknologi.

Di sisi lain, Gisella juga menyoroti peran teknologi dalam pembelajaran. Meski gawai dan internet bisa menjadi alat bantu yang berguna, ia menekankan bahwa penggunaan digital harus diawasi agar tidak mengganggu keseimbangan tumbuh kembang anak. “Jika anak terlalu lama terpapar media sosial, mereka bisa kehilangan fokus pada kegiatan lain yang lebih berkembang, seperti bermain di luar rumah atau berinteraksi langsung dengan teman-temannya,” ujar Gisella.

Dalam konteks ini, Gisella meminta orang tua untuk berpartisipasi aktif dalam menilai kualitas konten yang dilihat anak. Ia menambahkan bahwa pendidikan digital tidak hanya tentang membatasi waktu penggunaan, tetapi juga tentang mengarahkan anak untuk memanfaatkan teknologi secara bijak. “Orang tua perlu memastikan bahwa anak tidak hanya menonton, tapi juga belajar bagaimana mengeksplorasi informasi secara mandiri,” katanya.

Kebiasaan sejak usia dini menjadi fondasi yang kuat dalam membentuk karakter anak. Gisella menegaskan bahwa jika orang tua tidak terlibat sejak awal, anak bisa lebih rentan terpengaruh oleh hal-hal negatif di dunia digital. “Anak-anak yang diperkenalkan pada teknologi secara alami dan terbatas lebih mungkin mengembangkan kemampuan kritis, sedangkan yang terlalu diizinkan bebas menggunakan media bisa kehilangan kemampuan berpikir logis dan kreatif,” paparnya.

Penggunaan media sosial dan perangkat digital di usia SD juga harus dipertimbangkan dalam konteks pengembangan sosial dan emosional anak. Gisella menyarankan bahwa orang tua bisa melibatkan anak dalam menentukan batasan penggunaan gadget, sehingga mereka merasa lebih memiliki tanggung jawab terhadap aktivitasnya. “Dengan melibatkan anak dalam membuat keputusan, mereka akan lebih memahami dampak penggunaan teknologi, baik yang positif maupun negatif,” jelas Gisella.

Menurut psikolog ini, pendidikan digital di era saat ini adalah kombinasi antara kontrol orang tua dan kebebasan anak untuk mengeksplorasi. Ia berharap orang tua tidak hanya membatasi durasi, tetapi juga memahami konten yang dipakai anak, sehingga bisa memberikan panduan yang tepat. “Peran orang tua bukan hanya tentang membatasi, tapi juga tentang menginspirasi anak agar menggunakan teknologi untuk tujuan yang bermanfaat,” pungkas Gisella.