Meeting Results: Pemkot Denpasar ingin Balinale jadi “magnet” wisata berkualitas

Pemkot Denpasar ingin Balinale jadi “magnet” wisata berkualitas

Meeting Results – Kota Denpasar, Jumat — Pemerintah Kota Denpasar berharap acara Bali International Film Festival 2026, yang dikenal sebagai Balinale, dapat menjadi daya tarik wisata yang menarik pengunjung berkualitas ke Kota Denpasar. Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Daerah Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Eddy Mulya, dalam sebuah wawancara di Denpasar, Sabtu. Menurut Eddy, festival film internasional memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas sektor pariwisata, terutama dalam menarik wisatawan yang memprioritaskan pengalaman budaya. Ia menekankan bahwa Balinale bukan hanya sekadar ajang hiburan, tetapi juga menjadi wadah untuk interaksi budaya, pertukaran ide, serta penghargaan terhadap karya seni sinema dari berbagai negara.

Pengalaman Budaya sebagai Daya Tarik Utama

Eddy Mulya menjelaskan bahwa kunjungan wisatawan ke Denpasar tidak hanya terpusat pada atraksi alam atau kuliner, tetapi juga mencakup keinginan untuk merasakan keunikan budaya lokal. “Pengunjung kini lebih mengutamakan pengalaman yang bisa memperkaya pemahaman mereka tentang seni dan kreativitas. Kami ingin menumbuhkan minat terhadap hal-hal yang berorientasi budaya,” ujarnya. Menurutnya, Balinale hadir sebagai salah satu upaya untuk memenuhi permintaan tersebut. Festival ini tidak hanya menampilkan film-film kreatif dari berbagai belahan dunia, tetapi juga memperkenalkan peluang interaksi langsung antara peserta dan penonton. Dengan demikian, Balinale diharapkan mampu menciptakan ekosistem wisata yang lebih dinamis dan berkelanjutan.

“Wisatawan yang datang bukan hanya untuk menikmati pantai dan kuliner, tetapi juga mencari pengalaman budaya dan kreativitas. Ini yang ingin kita dorong di Denpasar,” ujar Eddy Mulya.

Peningkatan Kualitas Wisata, Bukan Hanya Jumlah Kunjungan

Dalam menjawab tantangan perubahan perilaku wisatawan, Pemkot Denpasar menegaskan bahwa prioritas utama adalah meningkatkan kualitas pariwisata, bukan hanya memperbanyak jumlah pengunjung. “Kami tidak hanya ingin menarik jumlah wisatawan, tetapi juga mengutamakan kualitas pengalaman mereka. Balinale menjadi bagian dari strategi ini,” tambahnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah daerah berkomitmen untuk aktif mendukung perkembangan industri kreatif dan komunitas seni di Kota Denpasar. Eddy Mulya menekankan bahwa Denpasar tidak ingin hanya menjadi tempat penonton, tetapi juga mitra strategis bagi para pelaku kreatif dan penggerak budaya.

Kawasan Sanur sebagai Sentral Kreativitas

Kehadiran Balinale, kata Eddy, juga menjadi dorongan untuk memperkuat kawasan Sanur sebagai pusat budaya dan kreativitas. Ia menjelaskan bahwa Sanur memiliki potensi besar untuk menjadi tuan rumah berbagai acara internasional yang mengangkat identitas lokal sekaligus mendorong ekspansi sektor kreatif. “Dukungan yang diberikan kepada Balinale tidak hanya untuk acara itu sendiri, tetapi juga untuk membangun jejaring yang lebih luas di seluruh kota,” kata Eddy. Pemkot Denpasar, tambahnya, berencana mengintegrasikan Balinale ke dalam program pengembangan sumber daya manusia kreatif. Hal ini bertujuan untuk menciptakan fondasi kuat yang mampu menggerakkan pertumbuhan pariwisata berkelanjutan.

Peran Balinale dalam Menghubungkan Budaya Global dan Lokal

Festival Director Balinale, Deborah Gabinetti, menjelaskan bahwa “Road to Balinale 2026” menjadi platform untuk mempererat hubungan antara komunitas lokal dan pelaku industri kreatif. Rangkaian kegiatan ini dirancang agar bisa membangun koneksi yang lebih kuat dalam suasana santai, dengan melibatkan para film-maker, produsen kreatif, serta para penggiat budaya. “Tujuan utama dari ‘Road to Balinale’ adalah menciptakan ruang dialog yang sejuk dan inklusif, sehingga mendorong kolaborasi antar berbagai kalangan,” ujarnya. Kegiatan ini juga bertujuan memperkaya kehidupan budaya Denpasar dengan menghadirkan perspektif global yang relevan.

“Investasi terbaik adalah pada sineas muda, seniman, dan komunitas budaya yang menjadi penggerak ekosistem kreatif,” kata Eddy Mulya.

Program Pengembangan Talent Global dan Ajang Internasional

Balinale Ke-19 yang akan berlangsung pada 1–7 Juni 2026, dijadwalkan menyajikan sekitar 100 film dari 35 negara. Festival ini juga akan menampilkan berbagai program pengembangan talenta global, termasuk “Art of the Score” yang dikembangkan bersama The Juilliard School. Program tersebut diharapkan bisa memperkaya kemampuan para sineas dan profesional seni di Denpasar. Dengan adanya Balinale, Pemkot Denpasar berharap mampu memberikan dampak positif dalam memperkuat daya tarik destinasi wisata sekaligus menegaskan posisi Denpasar sebagai kota yang berkomitmen pada inovasi kreatif dan pengembangan budaya.

Kebudayaan dan kreativitas menjadi pilar utama dalam kebijakan pengembangan pariwisata Kota Denpasar. Eddy Mulya menegaskan bahwa Balinale adalah contoh konkret dari upaya tersebut. Ia menyebutkan bahwa festival ini tidak hanya memperkenalkan karya seni dari luar negeri, tetapi juga memberikan kesempatan bagi seniman lokal untuk menampilkan karya mereka kepada audiens internasional. “Dengan menampilkan berbagai film dan program kreatif, Balinale diharapkan bisa membangun citra Denpasar sebagai kota yang memiliki ekosistem seni yang berkembang,” ujarnya.

Menurut Deborah Gabinetti, keterlibatan masyarakat lokal dalam Balinale menjadi kunci keberhasilan festival ini. “Kami ingin memastikan bahwa Balinale tidak hanya menjadi acara internasional, tetapi juga menjadi pengalaman yang bisa diakses oleh semua lapisan masyarakat Denpasar,” katanya. Kegiatan ini dirancang agar bisa menciptakan lingkungan yang mendukung kolaborasi antara para seniman, pelaku kreatif, dan masyarakat umum. Dengan membangun jaringan yang lebih kuat, Balinale diharapkan bisa menjadi wadah untuk mengembangkan industri seni di Denpasar, sekaligus menjadi magnet wisata yang unik dan menarik.

Selain itu, Pemkot Denpasar juga menaruh perhatian pada pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia di bidang kreatif. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa Denpasar memiliki tenaga yang mumpuni dalam mendorong pariwisata berkelanjutan. Eddy Mulya mengungkapkan bahwa pengembangan sumber daya manusia yang kreatif adalah salah satu dari tiga pilar utama dalam strategi pembangunan kota. “Kami ingin menciptakan tenaga kreatif yang tidak hanya mampu menghasilkan karya berkualitas, tetapi juga mampu menginspirasi generasi muda untuk terlibat dalam industri seni,” jelasnya.

Dengan menargetkan kualitas, Pemkot Denpasar berharap Balinale tidak hanya menjadi ajang film, tetapi juga menjadi sarana memperkaya pengalaman wisata. Keberhasilan Balinale, menurut Eddy, akan menjadi bukti bahwa Denpasar mampu menjadi destinasi wisata yang berbeda dari yang lain. “Kami yakin, dengan dukungan yang tepat, Balinale bisa menjadi salah satu event wisata terbaik di Asia Tenggara,” tambahnya. Dengan mendorong partisipasi aktif dari berbagai kalangan, festival ini diharapkan bisa menciptakan dampak jangka panjang dalam meningkatkan daya tarik Denpasar di tingkat internasional.