New Policy: Wamendagri tekankan tiga fondasi strategis pendidikan bermutu

Wamendagri Tekankan Tiga Fondasi Strategis Pendidikan Bermutu

New Policy – Jakarta – Dalam upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Plaza Gedung A, Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Senin, Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus menyoroti pergeseran pola pikir, peningkatan mentalitas, serta pengembangan orientasi misi sebagai fondasi penting dalam mendukung kebijakan pendidikan nasional. Menurutnya, ketiga aspek ini menjadi prasyarat mutlak agar inisiatif pemerintah tidak hanya berupa bentuk administratif, tetapi mampu menciptakan dampak yang berkelanjutan. “Tanpa keempatnya, semua kebijakan akan berhenti sebagai program formal dan hanya menunjukkan angka-angka kuantitatif,” jelas Wiyagus melalui keterangan resmi.

Tiga Aspek Kunci untuk Mewujudkan Pendidikan Berkualitas

Wiyagus menyampaikan pandangan tersebut saat membacakan amanat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) sebagai Inspektur Upacara. Ia menekankan bahwa perubahan mentalitas dan pola pikir pendidik, siswa, serta pengambil kebijakan harus diutamakan untuk mengubah paradigma pembelajaran. Selain itu, orientasi misi yang selaras dengan visi nasional menjadi elemen vital dalam menjaga konsistensi dan keberlanjutan program pendidikan. “Pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia, dan ini bisa terwujud jika semua pihak memiliki kesadaran yang sama,” tambahnya.

Empat Kebijakan Utama untuk Membangun Sistem Pendidikan Modern

Dalam amanatnya, Wiyagus juga menyebutkan lima kebijakan utama yang dirancang Kemendikdasmen dalam 18 bulan terakhir sebagai fondasi strategis. Kebijakan ini bertujuan menciptakan pendidikan bermutu untuk semua, dengan fokus pada revitalisasi dan digitalisasi lebih dari 288.000 satuan pendidikan. Langkah ini diharapkan meningkatkan akses serta kualitas sumber daya pendidikan di berbagai daerah.

Kebijakan kedua mencakup peningkatan kualifikasi serta kesejahteraan bagi 150.000 guru yang menerima beasiswa pada tahun 2026. Di sisi lain, penguatan karakter melalui program “Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” dan lingkungan sekolah yang aman, sehat, resik, serta indah (ASRI) menjadi bagian dari upaya melatih siswa menjadi generasi yang berakhlak dan berkarakter. “Program ASRI bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan mendorong pertumbuhan sumber daya manusia yang tangguh,” ujarnya.

Transformasi Pembelajaran Mendalam Perlu Keterlibatan Ekosistem Pendidikan

Kebijakan ketiga adalah pengukuran mutu pendidikan melalui Tes Kemampuan Akademik dan gerakan literasi-numerasi. Di sini, Kemendikdasmen berupaya mengoptimalkan evaluasi kinerja siswa dan meningkatkan kemampuan dasar mereka dalam matematika serta membaca. Selain itu, perluasan akses layanan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus menjadi prioritas untuk memastikan semua lapisan masyarakat mendapatkan peluang pendidikan yang setara.

Wiyagus menambahkan bahwa implementasi pendekatan Pembelajaran Mendalam (deep learning) sebagai program utama hanya mungkin berhasil jika ekosistem pendidikan—yang mencakup sekolah, keluarga, masyarakat, dan media—berkolaborasi secara sinergis. “Kolaborasi ini harus dijalankan dengan keseriusan dan keberlanjutan, bukan hanya sekadar simbolisasi,” katanya.

Peran Kemendagri dalam Sinergi Kebijakan Nasional

Kemendagri, menurut Wiyagus, memiliki peran krusial dalam menyelaraskan kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah. Ia menegaskan bahwa koordinasi yang baik antara kedua pihak dapat memastikan kebijakan pendidikan berjalan efektif. “Kemendagri menjadi penjembatana untuk mewujudkan harmonisasi antara tujuan nasional dan kebutuhan lokal,” tuturnya.

Dalam upacara tersebut, Wiyagus juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk mengingat semangat pendidikan nasional yang awalnya dirintis oleh Ki Hajar Dewantara. Ia berharap semangat tersebut dapat dihidupkan kembali dengan visi yang sama, yaitu membangun masyarakat yang cerdas dan berakhlak. “Pendidikan adalah sarana memanusiakan manusia, dan ini harus dilakukan dengan tulus serta penuh kasih,” sambungnya.

Menjadi Bersama Menuju Pendidikan yang Berkelanjutan

Di akhir amanat, Wiyagus menyampaikan bahwa Kemendikdasmen tidak bisa bekerja sendirian. Dukungan dari berbagai pihak, seperti masyarakat, dunia usaha, mitra dalam maupun luar negeri, serta pemerintah daerah, menjadi kunci keberhasilan program tersebut. “Kerja sama yang kuat antara semua elemen penting dalam membangun sistem pendidikan yang berkualitas,” katanya. Ia menekankan bahwa setiap komponen harus saling mendukung untuk mencapai tujuan nasional.

Menurut Wiyagus, pendidikan bermutu harus diukur dari hasil yang nyata, bukan hanya jumlah siswa yang terdaftar atau fasilitas yang tersedia. “Kita harus mengukur keberhasilan dari perubahan dalam cara berpikir, perilaku, dan kualitas hidup masyarakat,” jelasnya. Dalam konteks ini, inisiatif digitalisasi di satuan pendidikan dianggap sebagai langkah strategis untuk mengurangi kesenjangan akses dan meningkatkan kualitas pembelajaran.

Kebijakan yang dirancang Kemendikdasmen, kata Wiyagus, bukan hanya mengikuti tren global, tetapi juga mengakomodasi kebutuhan masyarakat Indonesia. “Kita harus menciptakan sistem pendidikan yang relevan dengan tantangan masa depan,” katanya. Peningkatan kualifikasi guru, misalnya, diharapkan mampu memastikan proses belajar mengajar lebih profesional dan efektif.

Kemitraan yang Solid untuk Mewujudkan Visi Nasional

Dalam kesempatan tersebut, Wiyagus juga menyoroti pentingnya kemitraan yang kuat antara pemerintah pusat dan daerah. Ia mengatakan bahwa sinergi ini adalah jaminan keberhasilan dalam menyelaraskan program pendidikan dengan kondisi lokal. “Kemitraan yang baik memungkinkan kita menjangkau seluruh wilayah, termasuk daerah terpencil,” jelasnya.

Wiyagus menegaskan bahwa gerakan pendidikan nasional harus diarahkan ke arah pembangunan bersama. “Kita harus berkomitmen menciptakan sistem pendidikan yang inklusif, berkelanjutan, dan berbasis kompetensi,” tuturnya. Selain itu, ia menekankan bahwa pelaksanaan kebijakan tidak bisa dipisahkan dari keberhasilan dalam mengubah pola pikir dan orientasi kehidupan masyarakat.

Dalam keseluruhan amanatnya, Wiyagus menekankan bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang yang mengubah masa depan bangsa. “Kita harus bersama-sama menyukseskan kebijakan ini, agar setiap anak Indonesia mendapatkan peluang yang sama untuk berkembang,” pungkasnya. Dengan menggabungkan perubahan mindset, sinergi ekosistem, serta komitmen kolaboratif, ia optimis Indonesia dapat menjadi negara yang cerdas, maju, dan berm