Kurs Rupiah Kemarin Ditutup Menguat, Bagaimana Pekan Depan?
Rupiah Menguat di Akhir Pekan, Analis Prediksi Volatilitas di Awal Pekan Depan Key Discussion - Nilai tukar rupiah menunjukkan tren penguatan pada sesi

Rupiah Menguat di Akhir Pekan, Analis Prediksi Volatilitas di Awal Pekan Depan
Tempatdonasi.com – Nilai tukar rupiah menunjukkan tren penguatan pada sesi perdagangan terakhir pekan ini. Pada hari Jumat, 10 Juli 2026, mata uang Garuda mencatatkan kenaikan sebesar 63 poin terhadap dolar Amerika Serikat. Penutupan perdagangan menempatkan rupiah pada level 18.065 per satu dolar AS, melampaui posisi penutupan pada hari sebelumnya. Untuk periode perdagangan mendatang, para pelaku pasar memproyeksikan bahwa rupiah akan mempertahankan posisinya di sekitar angka 18.000 per dolar AS.
Data dari Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga mengonfirmasi pergerakan positif tersebut. Pada hari yang sama, kurs rupiah tercatat berada di kisaran Rp 18.069. Perlu dicatat bahwa rupiah telah bertransaksi di level 18 ribu sejak tanggal 8 Juli silam. Sebelumnya, mata uang nasional ini sempat bertahan lebih kuat di level 17 ribu selama beberapa waktu sejak 9 Juni lalu, menandai adanya fluktuasi yang cukup signifikan dalam kurun waktu satu bulan terakhir.
Proyeksi Pergerakan Kurs di Awal Pekan
Ibrahim Assuabi, seorang pengamat mata uang dan komoditas sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, memberikan pandangan mengenai arah pergerakan rupiah. Ia memperkirakan bahwa pada Senin, 13 Juli 2026, nilai tukar rupiah akan bergerak dengan pola fluktuatif sepanjang sesi perdagangan. Meskipun demikian, ia memproyeksikan penutupan yang cenderung melemah.
“Namun ditutup melemah di rentang 18.060-18.110 per dolar AS,” ungkap Ibrahim melalui keterangan resminya yang dikutip pada Sabtu, 11 Juli 2026.
Menurut Ibrahim, penguatan dolar terhadap berbagai mata uang, termasuk rupiah, terjadi di tengah ketegangan geopolitik yang belum mereda di kawasan Timur Tengah. Situasi ini semakin memanas setelah Amerika Serikat kembali melancarkan serangan militer terhadap Iran. Serangan tersebut terjadi tepat saat prosesi pemakaman mantan pemimpin Teheran, Ayatollah Ali Khamenei, berlangsung.
Dampak Konflik terhadap Harga Minyak dan Inflasi
Konflik yang berkepanjangan ini telah menyebabkan penundaan pembukaan kembali sepenuhnya Selat Hormuz. Jalur air vital ini merupakan rute utama yang dilalui sekitar 20 persen dari total pasokan minyak dan gas dunia. Dampaknya langsung terasa pada harga komoditas energi. Mengutip data dari Trading Economics, harga minyak dunia pada hari Jumat turun mendekati angka US$ 76 per barel dibandingkan hari sebelumnya. Namun, harga tersebut tetap berada di level tinggi sepanjang satu minggu terakhir.
Lonjakan harga minyak ini memicu kekhawatiran di kalangan investor mengenai potensi inflasi yang lebih tinggi. Kenaikan harga energi secara tidak langsung dapat mendorong kenaikan harga-harga komoditas lainnya. Hal ini pada akhirnya dapat memicu sikap yang lebih agresif dari Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed), dalam menetapkan kebijakan moneter. Ibrahim menambahkan bahwa pasar saat ini terlihat terus meningkatkan taruhan mereka pada kenaikan suku bunga The Fed tahun 2026 yang akan terjadi pada pekan ini.
Sinyal Hawkish dari Federal Reserve
Sebelumnya, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Ramdan Denny Prakoso, telah menjelaskan faktor-faktor sentimen yang paling memengaruhi merosotnya nilai rupiah saat ini. Salah satu penyebab utamanya adalah sinyal hawkish dari para pejabat Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed), dalam pertemuan rutin Federal Open Market Committee (FOMC) yang berlangsung pada 17 Juni 2026 lalu.
Menurut Ramdan, meskipun The Fed memutuskan untuk menahan suku bunga acuan atau Fed Fund Rate pada pertemuan FOMC tersebut, pasar mengamati kecenderungan kebijakan moneter yang diperkirakan akan mengetat. Sentimen ini memicu Indeks Dolar Amerika Serikat (DXY) untuk menguat. Penguatan DXY kemudian memberikan tekanan tambahan pada mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah, yang menyebabkan nilai tukarnya melemah terhadap dolar AS.
Pilihan Editor: Mengapa Rupiah Masih Rentan Bergejolak
Volatilitas rupiah saat ini mencerminkan ketidakpastian global yang kompleks. Kombinasi antara ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kebijakan moneter The Fed yang cenderung ketat, serta fluktuasi harga komoditas energi menciptakan lingkungan yang tidak stabil bagi mata uang Indonesia. Investor internasional cenderung lebih berhati-hati dalam mengalokasikan aset ke negara-negara berkembang ketika risiko geopolitik meningkat. Selain itu, sentimen pasar terhadap prospek inflasi di Amerika Serikat juga berdampak langsung pada aliran modal keluar dari pasar emerging markets. Dengan demikian, meskipun rupiah menunjukkan penguatan sementara, risiko untuk kembali melemah tetap ada sepanjang pekan depan jika faktor-faktor pendorong tidak berubah secara signifikan.
