Prabowo Cerita Tiga BUMN Ini Sempat Mau Dijual ke Asing
Prabowo Ungkap Tiga Perusahaan Pertahanan yang Hampir Dijual ke Asing Important News - Presiden Prabowo Subianto mengungkap kisah menarik mengenai upaya-upaya

Prabowo Ungkap Tiga Perusahaan Pertahanan yang Hampir Dijual ke Asing
Tempatdonasi.com – Important News – Presiden Prabowo Subianto mengungkap kisah menarik mengenai upaya-upaya yang pernah ia hentikan terkait penjualan perusahaan-perusahaan pertahanan nasional kepada pihak asing. Menurut kepala negara tersebut, beberapa entitas milik negara dinilai tidak memberikan keuntungan finansial yang memadai, sehingga pihak tertentu berniat menjualnya ke luar negeri. Namun, keputusan strategis dari Prabowo berhasil mengubah arah perkembangan industri pertahanan Indonesia.
Peristiwa ini disampaikan secara langsung oleh Presiden Prabowo ketika ia menyampaikan pidato dalam rangkaian acara peresmian lima bendungan yang berlokasi di Bendungan Meninting, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Acara tersebut berlangsung pada hari Jumat, tanggal 10 Juli 2026, dan pemberitaannya diikutsertakan melalui media Antara.
“Banyak sekali perusahaan-perusahaan yang seolah-olah, tadinya mau dijual ke asing, saya larang!” kata Presiden Prabowo.
Lebih lanjut, Presiden menjelaskan bahwa terdapat pihak-pihak tertentu yang sebelumnya memiliki rencana untuk menjual PT PAL, PT Pindad, hingga PT Dirgantara Indonesia kepada investor asing. Ia menekankan bahwa ketiga perusahaan ini merupakan aset strategis yang seharusnya tidak dilepas begitu saja. Prabowo juga menambahkan bahwa kini saatnya untuk membangkitkan kembali potensi dari semua perusahaan tersebut agar dapat berkontribusi lebih besar bagi kemajuan bangsa.
“Tadinya industri pertahanan mau dijual. PT PAL mau dijual, PT Pindad mau dijual, PT DI dibunuh mau dijual. Kita bangkitkan! Sekarang, kita akan bangkitkan semua perusahaan-perusahaan itu,” ujarnya.
Peran Prabowo dalam sektor pertahanan tidak dapat dipandang sebelah mata. Ia pernah menjabat sebagai menteri pertahanan selama periode kedua pemerintahan Presiden Joko Widodo, yang berlangsung dari tahun 2019 hingga 2024. Pengalaman tersebut memberinya wawasan mendalam tentang dinamika industri pertahanan nasional. Kini, sebagai presiden, ia mengumumkan bahwa perusahaan-perusahaan pelat merah di bidang pertahanan telah mengalami pertumbuhan yang signifikan dan berkembang pesat.
PT PAL, misalnya, kini memiliki kemampuan untuk memproduksi kapal-kapal perang dengan teknologi mutakhir. Perusahaan ini juga telah berhasil membangun kapal selam dan berencana untuk mengembangkan kapal-kapal canggih lainnya. Sementara itu, PT Pindad telah meraih kontrak penting dari Arab Saudi untuk memproduksi semua senapan dan senapan mesin bagi tentara negara tersebut. Hal ini membuktikan bahwa senjata buatan Indonesia telah teruji dan diakui kualitasnya di kancah internasional.
“PT PAL sekarang sudah bisa bikin kapal-kapal perang yang hebat-hebat. PT PAL sekarang sudah bisa bikin kapal selam. PT PAL akan bikin kapal-kapal canggih,” tutur Prabowo.
Sejak tahun 2022, sejumlah perusahaan pelat merah yang berkecimpung dalam industri pertahanan telah digabungkan ke dalam holding Defend ID. Lima perusahaan yang menjadi bagian dari holding ini antara lain PT Len Industri sebagai perusahaan induk, PT PAL, PT Dirgantara Indonesia (DI), PT Pindad, dan PT Dahana. Penggabungan ini bertujuan untuk meningkatkan sinergi dan efisiensi operasional di sektor pertahanan nasional.
PT PAL Indonesia, yang merupakan galangan kapal terbesar di Indonesia dengan pusat operasional di Surabaya, Jawa Timur, telah memproduksi berbagai jenis kapal untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor. Salah satu pencapaian pentingnya adalah pembangunan kapal selam KRI Alugoro-405 yang dikerjakan secara kolaboratif dengan Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME) dari Korea Selatan.
Memasuki awal Juli 2026, PT PAL juga telah memulai tahap pembangunan fisik untuk dua unit kapal selam Scorpene. Kerjasama ini melibatkan Naval Group asal Prancis, dan kedua perusahaan telah melaksanakan pemotongan baja pertama pada bulan tersebut. Kapal selam Scorpene merupakan produk canggih yang dipesan oleh Indonesia, dan kedua unitnya akan dibangun sepenuhnya di galangan kapal PT PAL di Surabaya. Hal ini menegaskan komitmen Indonesia untuk memperkuat kapasitas pertahanan melalui pengembangan industri lokal.
Peran Strategis Industri Pertahanan Nasional
Pengembangan industri pertahanan tidak hanya berdampak pada kemandirian teknologi, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan nilai tambah ekonomi. Dengan adanya kebijakan yang mendukung, perusahaan-perusahaan seperti PT PAL, PT Pindad, dan PT Dirgantara Indonesia dapat terus berinovasi dan bersaing di pasar global. Hal ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo untuk menjadikan Indonesia sebagai pemain utama dalam sektor pertahanan internasional.
Lebih dari itu, keberhasilan PT Pindad dalam mendapatkan kontrak dari Arab Saudi menunjukkan bahwa produk pertahanan Indonesia telah memenuhi standar internasional. Senjata-senjata yang diproduksi oleh PT Pindad telah melalui proses pengujian yang ketat dan terbukti handal dalam berbagai kondisi operasional. Hal ini membuka peluang bagi perusahaan pertahanan nasional untuk memperluas pasar ekspor ke negara-negara lain di dunia.
Sementara itu, pengembangan kapal selam Scorpene oleh PT PAL bersama Naval Group merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kemampuan angkatan laut Indonesia. Kapal selam ini akan dilengkapi dengan teknologi terkini yang memungkinkan operasi bawah air lebih efektif dan efisien. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya bergantung pada impor, tetapi juga mampu memproduksi kapal selam canggih secara mandiri di dalam negeri.
Secara keseluruhan, upaya Prabowo untuk mencegah penjualan perusahaan pertahanan kepada asing telah memberikan dampak positif bagi perkembangan industri pertahanan nasional. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, perusahaan-perusahaan pelat merah ini diharapkan dapat terus bertumbuh dan berkontribusi signifikan bagi kemajuan bangsa Indonesia di masa depan.
