Main Agenda: KPKP DKI soroti temuan kandungan bakteri berbahaya dalam ikan sapu-sapu
KPKP DKI Soroti Temuan Kandungan Bakteri Berbahaya dalam Ikan Sapu-Sapu
Main Agenda – Jakarta, Kamis—Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta mengungkapkan hasil penelitian yang menunjukkan adanya bakteri berbahaya pada ikan sapu-sapu di perairan daerah tersebut. Temuan ini memicu kekhawatiran tentang dampak kesehatan yang mungkin ditimbulkan dari konsumsi ikan tersebut. “Berdasarkan hasil laboratorium, ikan sapu-sapu mengandung patogen serta residu logam berat yang berpotensi merugikan kesehatan manusia,” ungkap Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Hasudungan A Sidabalok, dalam webinar bertema “Dari Sungai ke Literasi” yang membahas isu ikan sapu-sapu. Ia menjelaskan bahwa sampel ikan yang diperiksa berasal dari empat lokasi strategis di Jakarta.
Sampling di Empat Wilayah
Hasudungan menyebutkan bahwa pemeriksaan dilakukan secara bertahap di empat titik perairan Jakarta. Dua dari lokasi tersebut berada di wilayah Jakarta Selatan, satu di Jakarta Pusat, dan satu lagi di Jakarta Barat. “Pengambilan sampel dilakukan untuk memastikan keberagaman kondisi lingkungan yang memengaruhi kualitas ikan,” terangnya. Dari hasil uji laboratorium, ia menemukan bahwa kandungan bakteri mikroba pada ikan sapu-sapu melebihi ambang batas yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Residu Mikroba di Luar Batas
Ia menambahkan bahwa bakteri patogen yang ditemukan termasuk E. coli dan Salmonella, dua jenis mikroba yang diketahui menyebabkan infeksi pada manusia. “Ternyata, residu mikrobanya juga di atas ambang batas yang sudah ditetapkan oleh BPOM,” tutur Hasudungan. Menurutnya, keberadaan bakteri ini sangat berisiko jika terbawa ke dalam rantai makanan manusia. “Ketika ikan sapu-sapu terkontaminasi, konsumsi masyarakat bisa berujung pada gangguan kesehatan yang tidak terduga,” jelasnya.
Logam Berat sebagai Ancaman Tambahan
Bukan hanya bakteri, ikan sapu-sapu juga terbukti mengandung residu logam berat, terutama di wilayah perairan yang tercemar limbah. Hasudungan menjelaskan bahwa logam berat seperti merkuri dan timah bisa menumpuk dalam tubuh ikan, serta berpotensi terakumulasi di dalam tubuh manusia setelah dikonsumsi. “Ancaman ini memperburuk risiko kesehatan, terutama bagi masyarakat yang terbiasa mengonsumsi ikan tersebut secara rutin,” tegasnya.
KPKP DKI Jakarta menyatakan temuan tersebut menjadi dasar untuk membatasi penggunaan ikan sapu-sapu sebagai bahan makanan. “Ikan sapu-sapu bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan masyarakat dan keberlanjutan ekosistem sungai,” lanjut Hasudungan. Ia menekankan perlunya edukasi dan kesadaran masyarakat tentang risiko yang mungkin timbul dari mengonsumsi ikan invasif ini, meskipun saat ini ada tren pengolahan ikan sapu-sapu menjadi masakan.
Hasil Tangkapan Ikan Sapu-Sapu
Sebelumnya, KPKP DKI mencatatkan jumlah ikan sapu-sapu yang ditangkap dalam operasi serentak di lima wilayah pada 17 April 2026. Total hasil tangkapan mencapai 68.880 ekor atau setara 6.979,5 kilogram, yang berarti 6,98 ton. Data ini menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu menjadi salah satu spesies yang paling dominan ditangkap di perairan DKI. “Angka ini menunjukkan betapa luasnya penyebaran ikan sapu-sapu di sekitar sungai-sungai utama Jakarta,” ucap Hasudungan.
Dari total tangkapan, wilayah Jakarta Selatan menjadi sumber terbesar, dengan 63.600 ekor atau 5.300 kg ikan yang ditangkap dari kawasan Setu Babakan. Sementara itu, Jakarta Timur menghasilkan 4.128 ekor atau 825,5 kg ikan dari 10 titik kecamatan. Hasudungan mengatakan keberadaan ikan sapu-sapu memperburuk ketidakseimbangan ekosistem karena mereka bersaing dengan spesies lokal dan mengurangi ketersediaan makanan bagi ikan asli.
Upaya Edukasi dan Kolaborasi
Dinas KPKP DKI juga mengungkapkan bahwa ancaman dari ikan sapu-sapu bukan hanya terkait kesehatan, tetapi juga ekologi. “Kita perlu mengedukasi masyarakat agar memahami bahwa konsumsi ikan sapu-sapu bisa menimbulkan risiko jangka panjang,” kata Hasudungan. Ia menambahkan bahwa pemerintah terus melakukan sosialisasi melalui berbagai program, termasuk kerja sama dengan instansi terkait dan masyarakat setempat. “Ini adalah upaya untuk menekan penyebaran ikan sapu-sapu di perairan Jakarta dan memastikan sumber daya air tetap sehat,” jelasnya.
Selain itu, Hasudungan mengingatkan bahwa ikan sapu-sapu bisa menjadi indikator kualitas lingkungan. “Kehadiran ikan ini menunjukkan adanya polusi yang tidak terkendali di sungai-sungai Jakarta,” terangnya. Ia menyarankan pengawasan terhadap sumber air dan pengolahan limbah perlu ditingkatkan agar ikan sapu-sapu tidak semakin berkembang biak. “Masyarakat harus lebih waspada dan memilih ikan yang lebih aman untuk dikonsumsi,” pungkasnya.
Apakah Kondisi Ini Bisa Diperbaiki?
Hasudungan menegaskan bahwa keberhasilan pengendalian ikan sapu-sapu bergantung pada kebijakan yang konsisten dan partisipasi masyarakat. “Jika kita tidak memperbaiki kondisi lingkungan, ikan sapu-sapu akan terus menjadi ancaman,” kata dia. Ia juga menyebutkan bahwa kerja sama lintas daerah sangat penting dalam mengatasi masalah ini. “Kita harus bersinergi dengan kabupaten dan kota sekitar untuk menekan penyebaran ikan sapu-sapu secara keseluruhan,” jelasnya.
Dalam rangka mencegah risiko kesehatan, KPKP DKI Jakarta terus memperkuat pendidikan masyarakat. Mereka menyebarkan informasi melalui media sosial, pertemuan komunitas, dan pelatihan bagi pedagang ikan. “Tujuannya adalah untuk mengubah pola konsumsi masyarakat dan menumbuhkan kesadaran akan dampak lingkungan dari ikan sapu-sapu,” tambah Hasudungan. Ia juga menekankan pentingnya memperhatikan keberlanjutan ekosistem, karena ikan sapu-sapu bisa mengganggu keseimbangan alami sungai.
Hasudungan berharap dengan langkah-langkah tersebut, ikan sapu-sapu tidak lagi menjadi bagian dari makanan sehari-hari masyarakat DKI Jakarta. “Ini adalah langkah preventif agar kesehatan dan lingkungan tidak terganggu,” ujarnya. Meskipun saat ini ada tren masakan berbasis ikan sapu-sapu, ia yakin bahwa edukasi yang tepat akan membantu masyarakat mengambil keputusan yang lebih bijak dalam memilih bahan makanan.
