Skip to content
Nasional

Gubernur Lampung Dorong Penggunaan PHC, Percepat Produksi Kopi menjadi 1,5 tahun

Tegar Utami - tempatdonasi.com 4 mins read

Special Plan: Gubernur Lampung Dorong PHC untuk Produksi Kopi Special Plan - Kebun Induk Hanakau yang dikelola oleh UPTD Balai Benih dan Kebun Induk (BBKI)

Gubernur Lampung Dorong Penggunaan PHC, Percepat Produksi Kopi menjadi 1,5 tahun

Special Plan: Gubernur Lampung Dorong PHC untuk Produksi Kopi

Tempatdonasi.com – Kebun Induk Hanakau yang dikelola oleh UPTD Balai Benih dan Kebun Induk (BBKI) Dinas Perkebunan Provinsi Lampung menjadi tempat kunjungan Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, pada hari Kamis tanggal 9 Juli 2026. Lokasi ini terletak di Pekon Hanakau, Kecamatan Sukau, Kabupaten Lampung Barat. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah provinsi untuk mendorong transformasi sektor perkebunan melalui inovasi teknologi yang ramah lingkungan. Tujuannya jelas, yaitu meningkatkan produktivitas serta kesejahteraan para petani kopi di wilayah Lampung. Melalui Special Plan ini, pemerintah daerah berkomitmen untuk mempercepat masa produksi kopi dari tiga tahun menjadi hanya 1,5 tahun saja.

Dalam kunjungan kerja tersebut, Gubernur didampingi oleh Wakil Bupati Lampung Barat, Mad Hasnurin, bersama dengan jajaran pejabat dari Pemerintah Provinsi Lampung dan Pemerintah Kabupaten Lampung Barat. Rombongan melakukan keliling untuk melihat langsung kebun kopi yang berfungsi sebagai pusat percontohan, penelitian, dan pengembangan benih kopi unggul di seluruh Provinsi Lampung. Program ini menjadi bagian dari Special Plan yang dirancang untuk meningkatkan daya saing komoditas kopi Lampung di pasar domestik maupun internasional.

Inovasi Pupuk Hayati Cair di Kebun Induk Hanakau

Kebun Induk Hanakau telah menjadi salah satu sentra pengembangan kopi yang menerapkan berbagai metode budidaya modern serta teknik perawatan tanaman. Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas maupun kualitas hasil panen secara keseluruhan. Di lokasi tersebut, dikembangkan dua jenis kopi utama, yaitu robusta dan arabika. Untuk kategori robusta, tersedia sejumlah klon unggul nasional seperti BP 939, BP 936, BP 534, dan BP 436 yang berfungsi sebagai sumber benih berkualitas tinggi.

Selain klon nasional, kebun ini juga mengembangkan klon lokal potensial seperti Kopi Bagio, Turun Ujung, Bodong, dan Tugu Sari yang sedang dipersiapkan menjadi varietas unggul bersertifikat. Sementara itu, sekitar 200 batang kopi arabika ditanam sebagai bagian dari uji adaptasi di kawasan dataran tinggi Sukau. Semua upaya ini sejalan dengan Special Plan yang digagas oleh Gubernur Lampung untuk modernisasi sektor perkebunan.

Dalam dialog bersama para petani, Gubernur Rahmat Mirzani Djausal memperkenalkan inovasi Pupuk Hayati Cair (PHC) yang kini mulai diterapkan di Kebun Induk Hanakau. PHC merupakan pupuk organik berbasis mikroorganisme lokal yang diproduksi dari bahan-bahan ramah lingkungan, seperti limbah kelapa, limbah kedelai, dan air cucian beras. Inovasi ini menjadi salah satu pilar utama dalam Special Plan yang bertujuan untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia sintetis.

Manfaat dan Dampak Positif PHC

Menurut Gubernur Mirza, penggunaan PHC mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman secara signifikan. Pupuk ini membuat daun lebih hijau, mempercepat pembungaan, memperbesar ukuran buah, serta memperbaiki kesuburan tanah. Hal ini menyebabkan ketergantungan terhadap pupuk kimia dapat dikurangi secara bertahap. Sebagai bentuk dukungan kepada petani, Gubernur juga menyerahkan sampel PHC dalam kemasan botol agar dapat langsung diuji coba pada lahan masing-masing. Program ini diharapkan dapat diperluas ke seluruh wilayah Lampung dalam waktu dekat.

Penerapan PHC di Kebun Induk Hanakau telah dimulai sejak tahun 2025 pada lahan percontohan seluas dua hektare. Hasilnya menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan tanaman yang tidak menggunakan PHC. Salah satu capaian yang paling menonjol adalah percepatan masa produksi tanaman kopi. Bibit yang umumnya baru mulai berbuah dan dipanen setelah tiga tahun, kini mampu menghasilkan buah pada usia 1,5 hingga dua tahun. Pencapaian ini menjadi bukti nyata efektivitas Special Plan yang telah dijalankan.

“Buah kopi terlihat lebih besar, kualitasnya lebih baik, serta pertumbuhan tanaman lebih optimal,” ujar Rahmat Mirzani Djausal.

Mirza menegaskan bahwa inovasi pertanian seperti PHC menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Provinsi Lampung dalam memperkuat daya saing sektor perkebunan sekaligus meningkatkan pendapatan petani melalui penerapan teknologi yang murah, mudah diterapkan, dan ramah lingkungan. Special Plan ini juga mencakup pelatihan intensif bagi petani dalam penggunaan PHC secara benar dan berkelanjutan.

Apresiasi dari Pemerintah Daerah

Sementara itu, Wakil Bupati Lampung Barat Mad Hasnurin menyampaikan apresiasi atas perhatian Gubernur terhadap pengembangan komoditas kopi di Lampung Barat. Ia mengatakan bahwa kehadiran Gubernur menjadi motivasi bagi para petani sekaligus menunjukkan komitmen Pemerintah Provinsi Lampung dalam meningkatkan kualitas dan produktivitas kopi melalui inovasi Pupuk Hayati Cair. Program ini diharapkan dapat menjadi model bagi daerah lain di Indonesia.

“Kami mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi kepada Bapak Gubernur Lampung yang telah hadir langsung di Kebun Induk Hanakau untuk melihat potensi kopi Lampung Barat,” ujarnya.

“Kami berharap program ini dapat terus dikembangkan sehingga kesejahteraan petani kopi semakin meningkat dan kopi Lampung Barat semakin berdaya saing,” kata dia.

Dengan adanya Special Plan ini, Lampung diharapkan dapat menjadi provinsi percontohan dalam penerapan pupuk hayati cair untuk sektor perkebunan. Pemerintah daerah juga berencana untuk memperluas area percontohan PHC ke berbagai kabupaten dan kota di Lampung. Selain itu, akan dibentuk tim pendamping teknis untuk memastikan implementasi program berjalan sesuai target yang telah ditetapkan.

Join the discussion