Key Issue: Frugal living vs flexing, “perang” gaya hidup di media sosial

Frugal Living vs Flexing, “Perang” Gaya Hidup di Media Sosial

Key Issue – Dalam era digital yang terus berkembang, media sosial berperan ganda dalam memengaruhi pola konsumsi generasi muda. Profesor Antropologi Indonesia, Semiarto Aji Purwanto, menyoroti bahwa platform seperti Instagram, TikTok, dan Facebook tidak hanya mendorong gaya hidup konsumtif tetapi juga menjadi tempat berkembangnya tren frugal living (hidup hemat) serta literasi keuangan. “Media sosial adalah instrumen yang sangat efektif untuk mengubah pola hidup menjadi lebih boros,” jelas Semiarto dalam wawancara dengan ANTARA, Jumat lalu.

Media Sosial sebagai Arena Pertunjukan Identitas

Semiarto mengatakan bahwa di masa kini, media sosial berfungsi sebagai wadah bagi individu untuk memperlihatkan keberhasilan atau gaya hidup mereka di depan audiens luas. Ia menyebut fenomena ini sebagai “economy of appearance,” yaitu cara masyarakat menciptakan kesan tertentu melalui penampilan dan komparasi sosial. “Dunia kita sekarang ini memang harus ada sesuatu yang kita tunjukkan,” tegasnya.

“Media sosial itu kemudian mendorong kita membandingkan diri kita dengan apa yang dicapai orang lain,” kata Semiarto.

Dalam konteks ini, setiap pencapaian yang dibagikan di media sosial—mulai dari kegiatan sosial hingga pembelian produk terbaru—menjadi indikator status atau identitas. Akibatnya, standar sosial semakin menaik karena orang membandingkan diri dengan individu lain. “Dengan memposting berbagai hal, kita terbiasa menilai diri sendiri melalui perspektif orang lain,” tambahnya.

Konten Frugal Living sebagai Narasi Penyeimbang

Di sisi lain, media sosial juga menjadi alat untuk menyebarluaskan narasi yang berlawanan. Tren frugal living dan literasi finansial mulai tumbuh, dengan berbagai kreator konten memperkenalkan cara hidup hemat yang lebih berkelanjutan. “Tema budgeting, hidup hemat, hingga tantangan seperti no buy challenge mulai populer di berbagai platform,” ujar Semiarto.

“Media sosial juga bisa menjadi kontra narasi,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa walaupun dominasi gaya hidup flexing (show off) masih menguasai, tetapi muncul juga keinginan untuk memperkenalkan gaya hidup yang lebih bijak. Hal ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya sekadar memperkuat kebiasaan konsumtif tetapi juga mendorong perubahan mental dan tindakan.

Konten yang Menyejajarkan Ekonomi dan Gaya Hidup

Semiarto menegaskan bahwa keberhasilan yang ditampilkan di media sosial terkait erat dengan aspek ekonomi dan kehidupan sehari-hari. Contohnya, penggunaan tempat nongkrong tertentu atau pembelian barang baru sering kali dianggap sebagai bentuk prestasi. “Pencapaian yang dibagikan secara terus-menerus membuat masyarakat merasa tertekan untuk selalu mengikuti,” katanya.

“Saya sudah punya HP model baru nih, kalau bisa saat itu juga saya juga punya,” ujar Semiarto.

Konten seperti ini menciptakan tekanan psikologis yang membuat individu merasa harus memiliki hal-hal tertentu agar diakui oleh lingkungan sekitar. Kebiasaan ini menyebar cepat karena algoritma media sosial cenderung menampilkan hal-hal yang dianggap menarik atau mendesak, sehingga mempercepat proses konsumsi.

Peran Influencer dalam Membentuk Perilaku Konsumsi

Semiarto menekankan bahwa influencer memiliki pengaruh besar dalam menentukan cara masyarakat berbelanja. “Kita perlu influencer yang bukan mendorong konsumsi tetapi mempromosikan financial literacy,” ujarnya. Ia berpendapat bahwa figur-figur ini bisa menjadi penyeimbang antara keinginan untuk menunjukkan pencapaian dan kebutuhan untuk mengatur keuangan secara bijak.

Menurutnya, tren frugal living dan literasi keuangan perlu diangkat sebagai opsi yang sama pentingnya dengan gaya hidup mewah. Dengan adanya konten yang menyoroti pentingnya hemat, masyarakat bisa lebih sadar akan pengeluaran dan menghindari kebiasaan konsumsi yang berlebihan. “Ini adalah perang antara dua arah gaya hidup: satu yang memperlihatkan, satu yang mempraktikkan,” imbuh Semiarto.

Transisi ke Gaya Hidup Berkelanjutan

Dalam konteks digital, frugal living tidak lagi dianggap sebagai bentuk penjimatan kecil tetapi sebagai strategi kehidupan yang lebih berkelanjutan. Tren ini berkembang karena pengguna media sosial mulai memahami bahwa tampilan yang menarik tidak selalu harus diiringi pengeluaran yang besar. “Banyak orang mulai sadar bahwa hidup bermakna tidak hanya dari apa yang dimiliki tetapi dari bagaimana cara menggunakannya,” katanya.

Ia juga menyoroti bahwa perubahan ini membutuhkan kesadaran kolektif. “Jika kita terus membandingkan diri, maka akan ada tekanan untuk terus membeli. Tapi jika kita memahami nilai ekonomi dan cara mengatur keuangan, maka gaya hidup hemat bisa menjadi kekuatan,” ujarnya.

Semiarto menambahkan bahwa media sosial bisa dijadikan sebagai alat pendidikan finansial yang efektif. Contoh nyata adalah tantangan no buy challenge yang meminta pengguna untuk menghindari pembelian barang dalam jangka waktu tertentu. Tren seperti ini memberi kesempatan bagi masyarakat untuk menilai ulang kebutuhan dan keinginan mereka. “Ini adalah cara untuk melatih kesadaran akan pengeluaran dan menghindari gaya hidup boros,” katanya.

Dengan adanya keseimbangan antara flexing dan frugal living, generasi muda diharapkan bisa mengembangkan pola hidup yang lebih seimbang. Media sosial, yang sebelumnya dianggap sebagai penyebab konsumsi berlebihan, kini bisa menjadi tempat untuk membangun kesadaran akan pentingnya keuangan pribadi. “Jika kita bisa memanfaatkan media sosial dengan bijak, maka perang gaya hidup ini bisa berujung pada peningkatan kualitas kehidupan,” tutup Semiarto.