Anggota DPR: Siak harus jadi wajah wisata budaya Melayu di Indonesia

Anggota DPR: Siak Harus Menjadi Wajah Wisata Budaya Melayu di Indonesia

Anggota DPR – Di tengah upaya meningkatkan daya tarik pariwisata Indonesia, anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Hendry Munief, menekankan pentingnya Kabupaten Siak, terutama Kota Siak, Riau, dijadikan representasi utama dari kekayaan budaya Melayu. Dalam bimbingan teknis (bimtek) yang digelar di Pekanbaru, Riau, pada Kamis (8/5), Hendry menyatakan bahwa Siak memiliki daya tarik unik yang bisa menjadi fondasi untuk menarik perhatian wisatawan dari berbagai belahan dunia.

Potensi Budaya yang Tak Terabaikan

Menurut Hendry, Siak tidak bisa dianggap sebagai daerah biasa. “Daerah ini memiliki kekuatan sejarah, budaya, dan identitas Melayu yang luar biasa,” katanya, seperti dilansir dari keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Sabtu. Ia menjelaskan bahwa keberadaan warisan Kesultanan Melayu, seperti Istana Bersejarah, menjadi saksi bisik penting dari peradaban yang masih hidup hingga hari ini. Istana tersebut, kata Hendry, tidak hanya menjadi simbol kebudayaan, tetapi juga pusat kegiatan yang menghidupkan tradisi lokal.

Hendry membandingkan Siak dengan Bali, yang lebih dikenal karena keindahan alamnya. “Bali adalah representasi pariwisata alam, sementara Siak harus menjadi wajah pariwisata budaya Melayu,” ujarnya dalam sesi diskusi. Ia menekankan bahwa keunikan sejarah dan budaya Siak, terutama dalam bentuk cagar budaya dan pusat kebudayaan, bisa menjadi magnet utama bagi wisatawan yang tertarik pada warisan kebudayaan nusantara. “Masyarakat internasional menginginkan pengalaman yang lebih dari sekadar alam,” imbuhnya.

Strategi Pemanfaatan Potensi Ekonomi

Menurut Hendry, potensi Siak dalam sektor pariwisata harus dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. Ia menyarankan bahwa pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pariwisata, perlu memberikan perhatian lebih besar terhadap Riau, terutama Kota Siak, sebagai bagian dari inisiatif Wonderful Indonesia. “Kami ingin Siak diintegrasikan ke dalam branding nasional pariwisata budaya,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Hendry mengatakan bahwa Siak memiliki keunggulan dibandingkan daerah lain di Indonesia. “Tidak banyak wilayah yang memiliki identitas budaya yang masih terjaga secara lengkap seperti di Siak,” ujarnya. Ia menyoroti keberadaan struktur kebudayaan yang konsisten, termasuk kehidupan tradisi dan ritual Melayu yang masih dilestarikan oleh masyarakat setempat. “Ini adalah peluang besar untuk mengembangkan ekonomi kreatif,” tambahnya.

Peran Anak Muda dalam Membangun Branding Daerah

Hendry menekankan bahwa generasi muda Siak memiliki peran kritis dalam menggerakkan branding budaya daerah. “Anak muda tidak hanya harus menjadi pengguna media sosial, tetapi juga pembuat narasi dan penggerak strategi pemasaran,” katanya. Ia berharap mereka bisa menjadi kreator lokal, videografer wisata, serta storyteller yang mampu memperkenalkan keunikan budaya Melayu ke berbagai lapisan masyarakat.

Menurut Hendry, peran generasi muda bisa dimulai dari keterlibatan aktif dalam pembuatan konten kreatif yang menonjolkan ciri khas Siak. “Milenial, Gen Z, atau bahkan Gen Alpha bisa menjadi duta digital budaya Melayu,” ujarnya. Ia menyarankan bahwa pendekatan ini tidak hanya memperkuat identitas lokal, tetapi juga meningkatkan daya saing Siak di tingkat nasional dan internasional. “Dengan memanfaatkan teknologi, mereka bisa menghadirkan narasi yang lebih menarik dan modern,” imbuh Hendry.

Kemitraan dengan Kementerian Pariwisata

Kegiatan bimtek yang digelar dengan tema “Promosi Branding Wonderful Indonesia Melalui Penguatan Konten” merupakan bentuk kolaborasi antara DPR RI dengan Kementerian Pariwisata. “Ini adalah langkah awal untuk membangun kemitraan yang lebih kuat antara lembaga legislatif dan pemerintah daerah,” kata Hendry. Ia menjelaskan bahwa bimtek tersebut bertujuan mengidentifikasi strategi pemasaran yang efektif, termasuk penggunaan platform digital dan media sosial untuk mempromosikan kekayaan budaya Melayu.

Dalam bimtek, para peserta mendiskusikan berbagai aspek seperti pengelolaan sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi, serta integrasi budaya dalam rangkaian wisata. “Kami ingin memastikan Siak tidak hanya dikenal sebagai daerah historis, tetapi juga sebagai destinasi yang relevan dengan kebutuhan wisatawan kontemporer,” ujarnya. Hendry menambahkan bahwa penguatan konten perlu didukung oleh perencanaan yang matang, termasuk pembangunan infrastruktur wisata dan edukasi masyarakat tentang pentingnya mempertahankan warisan budaya.

Keragaman Budaya dan Harapan Masa Depan

Siak, yang dikenal sebagai pusat kebudayaan Melayu, juga memiliki keanekaragaman dalam seni dan tradisi. Hendry menyebut bahwa sektor pariwisata bisa menjadi jembatan untuk menggali keunikan tersebut. “Budaya Melayu tidak hanya tentang sejarah, tetapi juga kehidupan sehari-hari yang bisa diadaptasi menjadi pengalaman wisata yang menarik,” ujarnya. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengembangan pariwisata yang berbasis identitas budaya.

Dalam upaya memperkuat branding Siak, Hendry menyoroti pentingnya kolaborasi antarlembaga. “Kemitraan dengan Kementerian Pariwisata harus terus diperkuat agar strategi ini bisa berjalan selaras dengan visi nasional,” kata mantan anggota komisi DPR yang membidangi sektor pariwisata. Ia juga menyebut bahwa keberhasilan Siak sebagai destinasi budaya Melayu akan menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia.

Konten yang Mampu Membangun Identitas

Hendry berharap konten yang dihasilkan dari bimtek tersebut mampu menarik perhatian wisatawan. “Konten harus cerita, bukan hanya deskripsi,” ujarnya. Ia mencontohkan bahwa video promosi yang menampilkan kehidupan sehari-hari masyarakat Siak, tradisi unik, atau festival budaya, bisa menjadi alat pemasaran yang lebih efektif. “Dengan narasi yang kuat, Siak akan memiliki daya tarik yang tak tergantikan,” tambahnya.

Menurut Hendry, keberhasilan branding Siak juga bergantung pada keterlibatan pemerintah daerah dan masyarakat setempat. “DPR akan terus mengawal upaya ini, termasuk koordinasi dengan Kementerian Pariwisata,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa Siak tidak hanya memiliki potensi sebagai daerah pariwisata, tetapi juga sebagai wadah pembelajaran tentang kebudayaan Melayu. “Ini adalah peluang untuk mengembangkan ekonomi kreatif dan memperkuat citra Indonesia di mata dunia,” pungkas Hendry.

Konten yang dihasilkan dari bimtek ini diharapkan bisa menjadi referensi untuk kebijakan par