Skip to content
Nasional

Kolaborasi Indonesia-Tiongkok Dorong Pemerataan Teknologi dan Layanan Kanker

Andi Permata - tempatdonasi.com 3 mins read

onesia-Tiongkok Dorong Pemerataan Teknologi dan Layanan Kanker Key Discussion - Indonesia masih memerlukan dukungan internasional untuk mencapai pemerataan

Kolaborasi Indonesia-Tiongkok Dorong Pemerataan Teknologi dan Layanan Kanker

Key Discussion: Kolaborasi Indonesia-Tiongkok Dorong Pemerataan Teknologi dan Layanan Kanker

Tempatdonasi.com – Indonesia masih memerlukan dukungan internasional untuk mencapai pemerataan layanan dan teknologi kanker yang lebih baik. Penguatan hubungan bilateral, terutama dalam bidang pemeriksaan genomik serta transplantasi hati, dinilai sangat krusial guna mempercepat alih teknologi, mendorong riset, dan meningkatkan kompetensi tenaga medis melalui kemitraan strategis antara kedua negara. Key Discussion ini menjadi momen penting bagi perkembangan onkologi nasional.

Inisiatif tersebut menjadi salah satu agenda utama dalam Indonesia-China Cancer Forum (ICCF) 2026. Acara bergengsi ini diselenggarakan di The Ritz-Carlton Mega Kuningan, Jakarta, pada Ahad, 12 Juli 2026. Forum yang digagas oleh Modern Hospital Guangzhou ini menghadirkan para pakar onkologi dari Indonesia, Tiongkok, serta berbagai negara di kawasan Asia. Key Discussion dalam forum ini mencakup berbagai aspek pengembangan layanan kesehatan.

Platform Pertukaran Pengetahuan Onkologi

ICCF 2026 berfungsi sebagai wadah diskusi mengenai pengembangan layanan onkologi berbasis teknologi mutakhir. Pembahasan mencakup berbagai aspek, mulai dari diagnostik molekuler, pengobatan presisi, teknik bedah modern, hingga transplantasi hati untuk pasien kanker. Key Discussion ini memberikan ruang bagi para ahli untuk berbagi pengalaman dan inovasi terbaru.

Dr. dr. Handoko, B.Med.Sci., Sp.Onk.Rad., Subsp.T.P.L.(K), seorang pakar genomik dan molekuler kanker Indonesia, menjelaskan bahwa negara ini telah memiliki kemampuan untuk melakukan sejumlah pemeriksaan genomik yang kompleks. Namun, fasilitas tersebut masih terkonsentrasi di institusi dan rumah sakit tertentu. Key Discussion dengan mitra internasional dapat membantu mengatasi keterbatasan ini.

Beberapa pemeriksaan genomik yang kompleks sudah dapat dilakukan di laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Akan tetapi, fasilitas seperti Next-Generation Sequencing atau NGS dan pemeriksaan molekuler lainnya belum tersedia secara merata di seluruh rumah sakit,

ujar Handoko dalam forum tersebut. Key Discussion ini juga menyoroti pentingnya pemerataan akses teknologi bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Pemeriksaan genomik memegang peranan vital dalam mengenali karakteristik molekuler sel kanker. Informasi yang diperoleh dapat membantu dokter menentukan terapi yang lebih sesuai dengan kondisi biologis tumor pada setiap pasien. Namun, selain keterbatasan fasilitas, biaya pemeriksaan genomik masih menjadi salah satu tantangan utama. Sebagian pemeriksaan molekuler belum tercakup dalam pembiayaan Program Jaminan Kesehatan Nasional atau JKN sehingga akses pasien terhadap pengobatan presisi masih terbatas. Key Discussion ini menghasilkan rekomendasi untuk memperluas cakupan pembiayaan.

Menurut Handoko, Tiongkok memiliki pengalaman yang lebih maju dalam pengembangan dan pemanfaatan teknologi NGS. Kerja sama kedua negara dapat diarahkan pada riset bersama, transfer pengetahuan, pelatihan tenaga kesehatan, serta pengembangan fasilitas molekuler di Indonesia. Key Discussion ini membuka peluang baru bagi kemajuan onkologi Indonesia.

Meningkatkan Kapasitas Transplantasi Hati

Kolaborasi juga dibutuhkan dalam penguatan layanan transplantasi hati bagi pasien kanker. Dr. dr. Wifanto Saditya Jeo, Sp.B., Subsp.B.D(K), dokter subspesialis bedah digestif dan pakar transplantasi hati dewasa, mengatakan kemampuan operasi kanker hati di Indonesia telah mengalami perkembangan signifikan. Key Discussion dalam bidang ini menunjukkan potensi besar untuk peningkatan layanan.

Sejumlah rumah sakit telah menerapkan teknik bedah minimal invasif dan memanfaatkan teknologi robotik. Meski demikian, kapasitas transplantasi hati di Indonesia masih terbatas. Indonesia saat ini baru menangani sekitar 8 hingga 12 kasus transplantasi hati setiap tahun. Kondisi ini menunjukkan perlunya peningkatan kapasitas pusat layanan serta penambahan tenaga medis yang memiliki kompetensi khusus di bidang transplantasi. Key Discussion ini menyoroti kebutuhan investasi dalam infrastruktur kesehatan.

President of China Anti-Cancer Association (CACA) sekaligus perwakilan Asian Oncology Society, Profesor Fan Dai Ming, turut menilai kolaborasi Indonesia dan Tiongkok menjadi momentum penting untuk memperkuat pengembangan layanan kanker di kawasan Asia. Key Discussion ini menegaskan komitmen kedua negara dalam meningkatkan kualitas layanan onkologi.

Pendekatan penanganan kanker saat ini tidak lagi dapat mengandalkan satu disiplin ilmu, melainkan harus mengintegrasikan pencegahan, diagnosis, terapi, rehabilitasi, hingga penelitian secara berkesinambungan. Ia menyebut kerja sama kedua negara menjadi bukti bahwa pelayanan kesehatan tidak mengenal batas negara,

katanya. Key Discussion ini juga menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam penanganan kanker.

Melalui ICCF 2026, Modern Hospital Guangzhou bersama para pemangku kepentingan mendorong terbangunnya kerja sama jangka panjang antara institusi kesehatan Indonesia dan Tiongkok. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mempercepat adopsi teknologi, memperluas riset bersama, dan memperkuat layanan kanker yang lebih merata serta berorientasi pada kebutuhan pasien di Indonesia. Key Discussion ini menjadi langkah awal menuju onkologi Indonesia yang lebih maju dan inklusif.

Join the discussion