Hotspot dan Luas Karhutla Sudah Melejit Sebelum Puncaknya
Memasuki pertengahan tahun 2026, data terkini menunjukkan bahwa fenomena kebakaran hutan dan lahan di Indonesia mengalami peningkatan yang cukup

Hotspot dan Luas Karhutla Sudah Melejit: aikan Signifikan Tempatdonasi.com – Memasuki pertengahan tahun 2026, data terkini menunjukkan bahwa fenomena
Indikator Karhutla 2026 Menunjukkan Tren Kenaikan Signifikan
Tempatdonasi.com – Memasuki pertengahan tahun 2026, data terkini menunjukkan bahwa fenomena kebakaran hutan dan lahan di Indonesia mengalami peningkatan yang cukup mencengangkan. Hingga tanggal 21 Juli, akumulasi titik api yang terdeteksi telah menyentuh angka lebih dari 80 ribu. Statistik ini secara jelas melampaui pencapaian pada tahun-tahun sebelumnya untuk periode yang sama, bahkan ketika dibandingkan dengan tahun-tahun yang dikenal memiliki kejadian karhutla besar seperti 2019 dan 2023.
Dari sisi luas area yang terbakar, tercatat sekitar 103 ribu hektare lahan telah menjadi korban api. Provinsi Nusa Tenggara Timur memimpin dengan luas terbakar mencapai 25.466 hektare. Posisi kedua ditempati oleh Kalimantan Barat dengan 20.432 hektare, sementara Riau berada di urutan ketiga dengan 11.525 hektare.
Meskipun demikian, angka tersebut masih jauh di bawah catatan tahun 2019 yang mencapai 2,63 juta hektare. Namun, penting untuk dicatat bahwa tanggal 21 Juli belum memasuki periode historis dimana karhutla biasanya meningkat pesat, yaitu Agustus hingga Oktober yang bertepatan dengan puncak musim kemarau.
Sumber Data dan Analisis Teknis
Informasi tersebut dikumpulkan melalui FireWatch, sebuah dasbor terbaru yang terintegrasi dalam platform peta analitik satelit Nusantara Atlas. Sistem ini berfungsi untuk memetakan perkembangan musim karhutla secara real-time di seluruh wilayah Indonesia.
“Data hotspot diakumulasi dari hari ke hari menggunakan citra empat satelit dan kami ambil semua titik dari yang high sampai low confident,” penjelasan David Gaveau dari TheTreeMap, perusahaan teknologi yang mengelola platform Nusantara Atlas, pada Selasa, 21 Juli 2026.
Menurut David Gaveau, kebakaran besar yang terjadi di Nusa Tenggara Timur sebenarnya berasal dari area savana di Pulau Sumba. Ia mengklasifikasikan kejadian ini sebagai kebakaran normal karena pola yang sama berulang setiap tahun selama musim kemarau di lokasi yang sama.
Namun, di luar konteks Sumba, tingginya angka kumulatif hotspot sepanjang Januari hingga Juli 2026 yang melebihi periode serupa pada tahun 2019 hingga 2025 dianggap sebagai sinyal peringatan dini. “Karena saat ini belum masuk periode puncak kebakaran hutan dan lahan di Indonesia,” tegasnya kepada Tempo.
Anomali di Papua Selatan
Salah satu wilayah yang mendapat sorotan khusus adalah Papua Selatan. Provinsi ini menempati peringkat keempat secara nasional, baik berdasarkan aktivitas hotspot maupun luas area terbakar selama semester pertama tahun 2026. Analisis FireWatch mengindikasikan bahwa musim kebakaran di Papua Selatan dimulai lebih awal dari biasanya.
“Kondisi ini menjadi perhatian khusus, terutama di wilayah pengembangan Proyek Strategis Nasional (PSN) Papua Selatan, yang diperkirakan menghadapi peningkatan risiko kebakaran,” demikian tertulis dalam informasi di web Nusantara Atlas.
Salsabila Khairunnisa, Spesialis Pantau Gambut dari Social Research and Policy Analysis, juga mengonfirmasi adanya anomali karhutla tahun ini dari wilayah Papua Selatan. “Per bulan ini itu ada lonjakan titik api yang cukup tinggi di Papua Selatan,” ungkapnya pada Kamis pekan lalu.
Tim riset spasial Pantau Gambut mencatat adanya 757 hotspot yang sebelumnya tidak pernah muncul di Papua Selatan selama musim karhutla tahun-tahun sebelumnya. Kekhawatiran utama mereka berkaitan dengan ekspansi proyek food estate Presiden Prabowo Subianto ke wilayah tersebut.
“Papua Selatan itu kan memiliki sebaran Kesatuan Hidrologis Gambut yang cukup luas. Kami khawatir apa yang terjadi pada 1997-98 lalu berulang dengan locus yang sekarang dikembangkan (di Papua Selatan),” jelas Salsabila.
Faktor El Niño dan Proyeksi Ke Depan
Dalam publikasi terbarunya, Pantau Gambut mencatat telah terjadi 30 ribu hotspot karhutla sepanjang Januari hingga Juni 2026, angka tertinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya. Sebagai perbandingan, musim El Niño 2023 mencatatkan 7.181 hotspot, musim El Niño 2019 sebanyak 23.300, dan tahun 2015 mencapai 16.164.
Sementara itu, Erma Yulihastin, peneliti di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan bahwa fenomena El Niño telah memasuki fase kuat. Fase ini ditandai dengan anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian timur yang telah mencapai +1,5 derajat Celsius.
Mengutip pemodelan iklim NOAA, Erma memproyeksikan bahwa El Niño Super atau sangat kuat (+2 derajat Celsius atau lebih) memiliki peluang besar untuk memasuki fase puncaknya mulai Agustus nanti dan bertahan hingga periode Oktober-November-Desember. Ia secara khusus memperingatkan bahwa wilayah Kalimantan merupakan daerah paling responsif terhadap dampak kekeringan yang dibawa oleh El Niño.
Related SEO Topics
Frequently Asked Questions
Apa itu Hotspot dan Luas Karhutla Sudah Melejit?
Hotspot dan Luas Karhutla Sudah Melejit adalah topik utama yang dibahas di artikel ini dengan konteks praktis agar pembaca memahami informasinya dengan jelas.
Mengapa Hotspot dan Luas Karhutla Sudah Melejit penting?
Hotspot dan Luas Karhutla Sudah Melejit penting karena membantu pembaca membandingkan pilihan, menghindari kesalahan umum, dan mengambil keputusan yang lebih tepat.
Bagaimana cara memakai panduan Hotspot dan Luas Karhutla Sudah Melejit ini?
Gunakan poin utama, contoh, dan tautan terkait di halaman ini sebagai rujukan awal, lalu cek detail terbaru sebelum mengambil keputusan final.
