Key Strategy: Ketika angka menjadi arah kota
Ketika angka menjadi arah kota
Key Strategy – Di tengah dinamika ekonomi yang semakin cepat, kota Surabaya, Jawa Timur, menjadi salah satu contoh nyata bagaimana transformasi digital sedang mengubah cara orang membangun dan memperluas usaha. Sebuah tempat usaha kecil yang biasa ramai di kawasan perdagangan, kini berubah menjadi pusat interaksi digital. Ponsel yang terus menyala menjadi alat utama para pedagang untuk mengawasi permintaan pelanggan, sementara catatan manual yang dulu mendominasi perlahan tak lagi menjadi prioritas. Perubahan ini menunjukkan bagaimana ekonomi kota semakin mengandalkan data sebagai alat pengambilan keputusan, tidak hanya sebagai catatan administratif.
Sensus Ekonomi 2026: Momentum Perubahan
Untuk mengakui pergeseran ini, Pemerintah Kota Surabaya (Pemkot) bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) menggelar Sensus Ekonomi 2026. Agenda ini bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan langkah strategis untuk memahami dinamika ekonomi yang tak lagi terbatas pada bentuk fisik. Kota ini, sebagai salah satu pusat ekonomi utama Jawa Timur, berkontribusi sekitar 25% perekonomian provinsi. Dengan demikian, data yang akurat dalam sensus ini menjadi fondasi kritis bagi kebijakan pembangunan regional.
Sensus Ekonomi 2026 berlangsung dari 1 Mei hingga 31 Juli 2026, dengan target menjangkau sekitar 415 ribu unit usaha nonpertanian. Angka tersebut tidak hanya menggambarkan jumlah aktivitas ekonomi, tetapi juga mencerminkan keragaman sektor yang terlibat. Mulai dari pedagang tradisional di pasar, pelaku usaha rumahan, hingga perusahaan besar dan startup digital, semuanya akan dipetakan. Kehadiran sekitar 1.900 petugas lapangan, yang diturunkan BPS Surabaya, menunjukkan kompleksitas tugas ini. Mereka harus mengunjungi berbagai tempat, seperti kantor perusahaan, rumah tangga yang berubah menjadi pusat usaha, ruang kerja virtual, dan bahkan platform daring yang menjadi tempat beroperasi pelaku ekonomi kreatif.
Kebutuhan Ulang Data dalam Era Digital
Dalam situasi ini, data tidak lagi sekadar angka, tetapi menjadi kunci untuk membaca keberlanjutan dan arah pertumbuhan ekonomi. Transformasi digital mengubah pola usaha, membuat batas antara bisnis formal dan informal semakin kabur. Sebagai contoh, penjual makanan bisa beroperasi dari dapur rumah, layanan desain grafis bekerja lintas kota, dan transaksi barang dilakukan sepenuhnya di ruang digital. Hal ini memicu pertanyaan: Apakah usaha yang bergerak di ruang virtual bisa dihitung secara tepat dalam sensus?
“Sensus ini tidak hanya menghitung, tetapi juga menafsirkan ulang apa yang disebut sebagai ‘usaha’,” ujar seorang pejabat dari BPS Surabaya. “Karena definisi usaha kini lebih fleksibel, sensus harus mencakup variabel yang lebih luas.”
Perubahan perilaku ekonomi ini menjadi tantangan utama dalam proses pendataan. Metode konvensional yang biasa digunakan tidak lagi memadai, karena banyak pelaku usaha digital belum terakomodasi secara utuh. Akibatnya, terdapat kekosongan data yang bisa berdampak pada kebijakan yang kurang tepat. Misalnya, program bantuan usaha mungkin tidak mencapai sektor yang sedang berkembang, atau pelatihan kerja tidak sesuai kebutuhan pasar yang berubah.
Struktur Baru dalam Pengumpulan Informasi
Untuk mengatasi kekurangan tersebut, sensus 2026 dirancang dengan pendekatan lebih holistik. BPS Surabaya dan Pemkot Surabaya menambahkan variabel-variabel baru seperti nomor induk berusaha, karakteristik usaha, jumlah tenaga kerja, dan aspek keuangan seperti pendapatan serta aset. Selain itu, sensus juga mencakup elemen-elemen yang sebelumnya diabaikan, seperti usaha yang berbasis platform digital dan usaha-usaha kecil yang beroperasi di luar wilayah teritorial.
Kehadiran data yang lebih lengkap diharapkan memberikan gambaran jelas tentang struktur ekonomi Surabaya. Dengan memahami bagaimana usaha kecil dan besar berinteraksi dalam lingkungan digital, pemerintah dapat merancang kebijakan yang lebih responsif. Misalnya, mengevaluasi kebutuhan pelaku usaha yang mengalami pertumbuhan pesat, atau menyesuaikan program bantuan dengan kondisi sebenarnya di lapangan.
Peran Data dalam Pengambilan Kebijakan
Di balik kegiatan pendataan, Sensus Ekonomi 2026 memiliki makna yang lebih dalam. Ia menjadi alat untuk melacak pergeseran kekuatan ekonomi, memahami kontribusi sektor informal terhadap perekonomian kota, dan mengidentifikasi peluang serta ancaman dalam keberlanjutan pertumbuhan. Data yang akurat akan memastikan bahwa kebijakan tidak hanya berjalan di permukaan, tetapi juga menjangkau akar permasalahan.
Sebagai contoh, jika data usaha digital tidak tercatat secara utuh, maka kebijakan pendidikan vokasi mungkin tidak mengakomodasi kebutuhan sektor ini. Hal ini bisa menyebabkan ketidaktepatan antara kebijakan dan kebutuhan nyata. Dengan sensus, pemerintah bisa memperkirakan pergeseran struktur tenaga kerja, menilai dampak transformasi digital terhadap kesejahteraan masyarakat, dan merancang strategi pengembangan ekonomi yang lebih inklusif.
Langkah Pemkot dan BPS Surabaya
Partisipasi pelaku usaha menjadi salah satu faktor kritis dalam keberhasilan sensus. Pemkot Surabaya dan BPS berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kontribusi mereka dalam membangun data ekonomi. Mereka juga menyiapkan langkah-langkah seperti pelatihan pendataan, penggunaan teknologi untuk mempermudah proses, dan keterlibatan komunitas lokal dalam memverifikasi informasi.
Tantangan terbesar tetap terletak pada keinginan pelaku usaha untuk berpartisipasi. Banyak usaha kecil dan menengah, terutama yang berbasis digital, belum terbiasa dengan metode pendataan tradisional. Namun, dengan pendekatan yang lebih fleksibel dan adaptif, sensus ini diharapkan menjadi titik balik dalam membangun sistem informasi ekonomi yang lebih baik. Data yang dihimpun akan menjadi panduan untuk menyesuaikan kebijakan dengan realitas ekonomi yang terus berubah, sekaligus memastikan bahwa tidak ada sektor yang terabaikan dalam upaya pengembangan kota.
Transformasi digital tidak hanya mempercepat pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menantang sistem pendataan untuk tetap relevan. Sensus Ekonomi 2026 menjadi jawaban atas tantangan ini, dengan menggabungkan pendekatan modern dan tradisional untuk memetakan semua bentuk usaha yang ada. Dengan demikian, data akan menjadi arah kota, mengarahkan pembangunan menuju masa depan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
