Menko Airlangga: Ekonomi RI tetap kuat di tengah ketidakpastian global
Menko Airlangga: Ekonomi RI tetap kuat di tengah ketidakpastian global
Jakarta – Dalam acara Kick Off Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI) di Kantor Pusat Bank Indonesia, Senin, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menunjukkan daya tahan yang baik, meski dihadapkan pada tantangan global. Menurutnya, ekonomi nasional memiliki kapasitas untuk berkembang bahkan dalam kondisi ketidakpastian.
Pertumbuhan Ekonomi dan Indikator Kunci
Airlangga menyoroti beberapa indikator yang menunjukkan stabilitas ekonomi, termasuk tingkat inflasi, konsumsi domestik, dan struktur pembiayaan dalam negeri. “Fundamental ekonomi Indonesia tetap stabil. Pertumbuhan ekonomi tahun lalu mencapai 5,11 persen, sementara target untuk 2026 adalah 5,4 persen,” tutur Airlangga. Ia menambahkan, pertumbuhan pada kuartal pertama 2026 berpotensi melebihi 5,5 persen.
“Beberapa lembaga menilai probabilitas resesi Indonesia di bawah 5 persen, angka yang lebih rendah dibanding negara-negara seperti Amerika Serikat, Jepang, atau Kanada,” ujarnya.
Stabilitas Eksternal dan Ketergantungan Energi
Dari sisi eksternal, Airlangga menyebut bahwa neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus selama 70 bulan, mencapai 148,2 miliar dolar AS. Rasio utang luar negeri terhadap PDB berada di 29,9 persen, sementara kepemilikan surat berharga negara (SBN) didominasi investor lokal sebesar 87,4 persen dan investor asing sekitar 12,6 persen. Menurutnya, keadaan ini membantu menjaga keseimbangan ekonomi.
Airlangga juga menekankan bahwa Indonesia relatif lebih tahan terhadap gangguan energi global akibat dinamika geopolitik di Timur Tengah. Hal ini karena ketergantungan energi terhadap wilayah tersebut lebih rendah dibanding sejumlah negara Asia lainnya.
Penilaian Institusi Internasional
Menurut Airlangga, lembaga internasional seperti Dana Moneter Internasional (IMF) masih melihat Indonesia sebagai salah satu titik cahaya di Asia. Sementara Asian Development Bank (ADB) memperkirakan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) pada 2026 mencapai 5,2 persen. Ia menambahkan, konsumsi dalam negeri tetap menjadi penopang utama, dengan kontribusi sekitar 54 persen terhadap PDB.
Airlangga menegaskan bahwa pemerintah harus terus memperkuat kerja sama antarlembaga untuk mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan demikian, ekonomi Indonesia tetap dianggap sebagai salah satu yang cukup kuat di tengah lingkungan global yang tidak menentu.
