Bisnis

Tahun Baru Islam – Stok LPG 3 Kg di Jateng-DIY Ditambah

Tahun Baru Islam, Pertamina Tambah Stok LPG 3 Kg di Jateng-DIY Tahun Baru Islam - Dalam rangka menghadapi libur Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah

Desk Bisnis
Published Juni 17, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Tahun Baru Islam, Pertamina Tambah Stok LPG 3 Kg di Jateng-DIY

Tahun Baru Islam – Dalam rangka menghadapi libur Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah, Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah melakukan peningkatan pasokan bahan bakar LPG 3 kilogram sebanyak 1,33 juta tabung di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Tambahan stok tersebut didistribusikan melalui mekanisme distribusi fakultatif, yang merupakan bentuk penyaluran di luar jadwal biasa, pada Selasa, 16 Juni 2026.

Menurut Taufiq Kurniawan, Area Manager Communication, Relations, and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah, tindakan menambah stok LPG subsidi ini bertujuan untuk memastikan kelancaran akses energi bagi masyarakat. Dia menjelaskan bahwa kebijakan ini dilakukan sebagai antisipasi terhadap kenaikan permintaan bahan bakar rumah tangga yang mungkin terjadi selama masa libur nasional dan libur panjang. “Kami ingin menjaga kestabilan pasokan agar kebutuhan masyarakat tidak terganggu,” kata Taufiq kepada wartawan.

“Dari total tambahan 1.339.560 tabung, 1.201.040 tabung dialokasikan untuk Jawa Tengah, sedangkan 138.520 tabung ditujukan untuk DIY,” ujarnya.

Taufiq menambahkan, penambahan stok ini setara dengan 84,79 persen dari konsumsi normal harian LPG 3 kilogram di kedua wilayah tersebut. Dengan persiapan ini, Pertamina memastikan bahwa stok bahan bakar subsidi tetap mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama acara Tahun Baru Islam. “Kami melakukan penambahan ini agar tidak ada kekurangan pasokan di tengah lonjakan penggunaan,” imbuhnya.

Perusahaan juga menjelaskan bahwa pengawasan distribusi LPG dilakukan hingga ke tingkat pangkalan resmi. Langkah ini bertujuan untuk memastikan penyaluran berjalan lancar dan menghindari penumpukan permintaan di beberapa daerah. “Kami memantau secara real-time untuk mengantisipasi fluktuasi kebutuhan dan meminimalkan risiko kelangkaan,” tambah Taufiq.

Dalam upaya mendukung pemanfaatan subsidi energi secara optimal, Pertamina mendorong masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi untuk menggunakan produk nonsubsidi, seperti Bright Gas dengan ukuran 5,5 kg atau 12 kg. “Perpindahan ke produk nonsubsidi dapat membantu mengurangi beban subsidi pada kelompok yang lebih membutuhkan,” jelas Taufiq.

Menurutnya, kebijakan ini penting untuk memastikan subsidi dapat mencapai sasaran yang tepat. “Dengan membagi konsumsi berdasarkan kemampuan ekonomi, kami dapat menyeimbangkan kebutuhan masyarakat dan mempertahankan ketersediaan energi untuk yang paling rentan,” kata Taufiq. Pertamina juga menekankan pentingnya membeli LPG 3 kg melalui pangkalan resmi agar harga tetap sesuai dengan ketentuan pemerintah.

Pembelian di tempat penyaluran resmi, seperti agen atau pangkalan, dinilai lebih terjangkau dan menjamin kualitas produk. “Konsumen yang membeli melalui jalur resmi akan mendapatkan harga yang stabil serta produk yang terjamin keaslian dan kualitasnya,” ujar Taufiq. Selain itu, ia menambahkan, penggunaan LPG subsidi hanya diperuntukkan bagi masyarakat yang layak mendapatkannya, sehingga mendorong kelompok yang mampu untuk beralih ke produk nonsubsidi.

Pilihan Editor: Seperlima Orang Kaya Indonesia Menikmati Subsidi BBM

Kebijakan subsidi energi di Indonesia sering kali menimbulkan diskusi mengenai efektivitas pemanfaatan. Editor memilih untuk menyoroti fakta bahwa sekitar 20% dari populasi masyarakat yang termasuk dalam kategori ekonomi kuat masih mengakses subsidi bahan bakar minyak (BBM). Angka ini menunjukkan bahwa meski subsidi dibuat untuk meringankan beban masyarakat berpenghasilan rendah, penggunaannya tetap merata.

Taufiq Kurniawan menegaskan bahwa Pertamina terus berupaya untuk meningkatkan efisiensi distribusi energi. “Kami berharap dengan distribusi yang lebih terarah, subsidi dapat benar-benar mengalir ke masyarakat yang paling membutuhkan,” ujarnya. Ia juga menyebutkan bahwa pihaknya melakukan evaluasi berkala terhadap kebijakan subsidi, termasuk melalui program pengimbangan atau alokasi ulang.

Menurut data yang dihimpun, jumlah orang kaya di Indonesia terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi. Namun, jumlah mereka yang masih menggunakan subsidi BBM tidak terlalu besar. “Pertamina mengupayakan agar subsidi tidak hanya menjadi bantuan sementara, tapi juga membantu masyarakat dalam jangka panjang,” tambah Taufiq. Hal ini menjadi dasar bagi kebijakan pengalihan ke produk nonsubsidi yang diharapkan bisa memperkuat keberlanjutan program subsidi.

Sebagai bentuk antisipasi, Pertamina juga menyatakan akan terus memantau kondisi pasokan dan distribusi LPG selama masa libur Tahun Baru Islam. “Kami ingin memastikan bahwa setiap titik distribusi tetap siap memberikan layanan optimal,” jelas Taufiq. Dengan langkah-langkah ini, perusahaan berharap masyarakat dapat menjalani libur dengan nyaman tanpa mengalami gangguan pasokan energi.

Langkah penambahan stok ini juga sejalan dengan strategi pertamina untuk menjaga ketersediaan energi selama masa krisis atau acara besar. Taufiq mengungkapkan bahwa perusahaan memiliki sistem pengawasan yang ketat, termasuk penggunaan teknologi digital untuk memantau distribusi real-time. “Dengan demikian, kami bisa segera merespons perubahan kebutuhan di lapangan,” katanya.

Sebagai bagian dari komitmen dalam mengelola energi secara efektif, Pertamina juga berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang manfaat penggunaan LPG nonsubsidi. “Produk ini bisa menjadi alternatif yang lebih ekonomis dan membantu mengurangi beban subsidi,” kata Taufiq. Ia menambahkan, dengan mengimbau masyarakat yang mampu untuk beralih, Pertamina dapat memastikan subsidi tetap terarah ke kelompok yang paling membutuhkan.

Leave a Comment