Agenda Utama: Menyaksikan Kota Wamena dari ketinggian Tugu Salib
Menyaksikan Kota Wamena dari Ketinggian Tugu Salib
Kota Wamena, yang terletak di daerah pegunungan dengan ketinggian 1.600 hingga 1.800 meter di atas permukaan laut, menjadi pusat pemerintahan Provinsi Papua Pegunungan serta Kabupaten Jayawijaya. Kota ini juga dikenal dengan keunikan budaya dan keindahan alam yang tak terbantahkan, serta komunitas penduduk yang cenderung religius.
Asal Usul Nama Wamena
Nama “Wamena” berasal dari bahasa Dani, suku asli Lembah Baliem. Kata ini merupakan gabungan dari “wam” yang berarti babi dan “ena” yang menunjukkan tempat. Nama tersebut pertama kali diucapkan oleh warga setempat kepada misionaris Belanda yang datang pada 1950-an. Sejak saat itu, nama Wamena diadopsi secara resmi dan tetap dipakai hingga kini.
Sejarah dan Makna Tugu Salib Wio Silimo
Tugu Salib Wio Silimo, sebuah monumen modern di tengah kota, dibangun pada 2016 dengan dana sebesar Rp150 miliar. Tinggi bangunan mencapai sekitar 54 meter, angka yang memiliki makna khusus. Tahun 1954, misionaris pertama kali membawa ajaran Injil ke Lembah Baliem, yang menjadi alasan di balik pemilihan ketinggian 54 meter sebagai simbol.
“Daerah ini sangat indah karena berada di pedalaman Pegunungan Tengah Papua,” kata Bupati Jayawijaya Atenius Murib.
Tugu Salib ini tidak hanya menjadi landmark kota, tetapi juga simbol spiritual masyarakat yang menjunjung nilai keagamaan. Dengan keberadaan monumen tersebut, masyarakat setempat menggambarkan harmoni antarumat beragama, yang terus dipupuk dalam kehidupan sehari-hari.
“Keberadaan tugu ini harus dijaga dan dilestarikan dengan baik oleh masyarakat,” ujar Bupati Jayawijaya Atenius Murib.
Monumen ini juga terlihat jelas dari ketinggian gunung-gunung yang mengelilingi Wamena, menjadi titik fokus bagi pengunjung maupun pejabat negara yang berkunjung. Selain itu, kota ini sering disebut sebagai “kuali raksasa” karena dikelilingi deretan bukit yang berfungsi sebagai penghalang alami bagi aktivitas di dalamnya.
