Skip to content
Dunia

Israel Siap Gelar Pemilu pada 27 Oktober 2026

Wahyu Kurniawan - tempatdonasi.com 3 mins read

Israel Siap Gelar Pemilu pada 27 Oktober 2026 Israel Siap Gelar Pemilu pada 27 Oktober 2026 - Parlemen Israel atau Knesset secara resmi membubarkan diri pada

Israel Siap Gelar Pemilu pada 27 Oktober 2026

Israel Siap Gelar Pemilu pada 27 Oktober 2026

Tempatdonasi.com – Parlemen Israel atau Knesset secara resmi membubarkan diri pada dini hari Jumat, 17 Juli 2026. Keputusan historis ini diambil setelah lembaga legislatif mengesahkan sejumlah rancangan undang-undang yang menuai kontroversi di hari-hari terakhir pemerintahan koalisi yang dipimpin oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Pembubaran Knesset ini membuka jalur menuju pemilihan umum yang telah ditetapkan untuk dilaksanakan pada 27 Oktober 2026 mendatang.

Berdasarkan laporan yang dihimpun dari The New Arab, Knesset yang semula dijadwalkan memasuki masa reses musim panas pada hari Jumat, 17 Juli, tidak akan kembali bersidang hingga proses pemilihan umum digelar pada bulan Oktober. Hal ini menandai berakhirnya satu periode legislatif yang cukup signifikan dalam sejarah politik Israel. Masa reses yang panjang ini memberikan waktu bagi para partai politik untuk melakukan persiapan intensif dalam menghadapi pertarungan politik yang akan datang.

Parlemen Menyelesaikan Masa Jabatan Sepenuhnya

Ketua Knesset, Amir Ohana, menyatakan bahwa parlemen berhasil menyelesaikan masa jabatannya secara penuh selama empat tahun. Pencapaian ini tergolong langka dalam sejarah politik Israel. Ohana menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh anggota parlemen atas kepercayaan yang diberikan selama periode ini. Ia menekankan bahwa pencapaian ini merupakan hasil kerja keras kolektif seluruh anggota legislatif.

Kami menyelesaikan masa jabatan empat tahun, meloloskan sembilan anggaran dan ratusan undang-undang. Saya berterima kasih atas kepercayaan yang Anda berikan kepada saya sehingga bersama-sama kita berhasil mempertahankan masa jabatan penuh selama empat tahun, ujar Ohana saat mengumumkan pembubaran parlemen.

Penyelesaian masa jabatan penuh selama empat tahun merupakan peristiwa yang jarang terjadi di Israel. Terakhir kali pemerintahan menyelesaikan masa jabatannya sesuai jadwal terjadi pada tahun 1988. Sebaliknya, sepanjang periode 2019 hingga 2022, warga Israel harus mengikuti lima kali pemilihan umum akibat berulangnya krisis politik dan rapuhnya koalisi pemerintahan yang terbentuk. Kondisi ini menunjukkan betapa stabilnya pemerintahan saat ini dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya.

Pada hari Selasa sebelum pembubaran, parlemen juga menyetujui dua paket pendanaan baru yang bertujuan untuk memperluas permukiman Israel di Tepi Barat yang saat ini diduduki. Menteri Keuangan Bezalel Smotrich bersama Menteri Orit Strock mengumumkan kebijakan-kebijakan penting tersebut kepada publik. Kedua menteri ini telah lama menjadi pendukung kuat ekspansi permukiman di wilayah yang disengketakan.

Paket pendanaan pertama mencakup alokasi sebesar 1,3 miliar Shekel Israel atau setara dengan sekitar US$ 431 juta. Dana ini sebelumnya telah disetujui pada bulan Juni untuk membangun 34 permukiman baru di wilayah yang disengketakan. Selain itu, parlemen juga menyetujui tambahan anggaran sebesar 1,075 miliar Shekel atau sekitar US$ 358 juta untuk membangun jalan-jalan baru yang akan menghubungkan permukiman-permukiman Israel di wilayah pendudukan Tepi Barat. Investasi besar ini diharapkan dapat memperkuat kehadiran Israel di wilayah tersebut.

Dukungan terhadap Netanyahu Mulai Melemah

Sementara itu, dukungan terhadap koalisi Netanyahu terus menunjukkan penurunan menjelang pemilihan umum. The Arab Weekly, mengutip hasil survei Maariv yang dipublikasikan pada hari Jumat, melaporkan bahwa blok oposisi diproyeksikan meraih 62 kursi di Knesset. Angka ini melampaui ambang mayoritas 61 kursi yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan baru. Proyeksi ini memberikan harapan bagi oposisi untuk membentuk pemerintahan alternatif.

Sebaliknya, blok pendukung Netanyahu diperkirakan hanya memperoleh 48 kursi, sementara partai-partai Arab menguasai 10 kursi. Survei tersebut juga memperkirakan bahwa Partai Likud yang dipimpin Netanyahu akan memperoleh 22 kursi, jumlah yang sama dengan partai baru Yashar yang dipimpin oleh mantan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Gadi Eisenkot. Persaingan ketat antara kedua partai besar ini akan menjadi sorotan utama dalam kampanye pemilu mendatang.

Aliansi mantan Perdana Menteri Naftali Bennett diproyeksikan meraih 16 kursi, disusul Partai Demokrat pimpinan Yair Golan dengan 11 kursi dan Yisrael Beiteinu yang dipimpin Avigdor Lieberman dengan sembilan kursi. Survei yang melibatkan 500 responden Yahudi dan Arab Israel itu juga menunjukkan bahwa 55 persen responden tidak yakin pemerintah mampu mengambil keputusan yang tepat menjelang pemilu. Sebaliknya, hanya 38 persen yang menyatakan masih memiliki kepercayaan terhadap pemerintah saat ini.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa situasi politik Israel berada dalam fase transisi yang penting, dengan kemungkinan perubahan besar dalam komposisi pemerintahan setelah pemilihan umum mendatang. Israel Siap Gelar Pemilu pada 27 Oktober 2026 akan menjadi momen krusial bagi masa depan politik negara tersebut.

Join the discussion