Gubernur Jatim: Satoria Pharma jamin pasokan infus 14 RS milik pemprov
Gubernur Jatim: Satoria Pharma Pastikan Pasokan Infus untuk 14 Rumah Sakit Milik Pemprov
Peresmian Pabrik Baru di Pasuruan
Gubernur Jatim – Di Pasuruan, Jawa Timur, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan bahwa pabrik infus Line 4 milik Satoria Pharma memberikan jaminan pasokan cairan infus untuk 14 rumah sakit yang dikelola Pemerintah Provinsi Jatim. Pabrik ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem kesehatan daerah dan meningkatkan ketersediaan bahan medis. “Kami sangat mengapresiasi, terlebih karena pabrik ini berpotensi menjadi mitra strategis dalam memenuhi kebutuhan infus bagi 14 rumah sakit milik Pemprov Jatim,” ujarnya dalam acara peresmian tersebut, Selasa.
“Sesungguhnya seluruh energi anak bangsa memungkinkan untuk meningkatkan penyediaan farmasi serta produksi bahan baku dalam negeri. Tentu harapan kami hal tersebut dapat beriringan dengan penguatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), terutama pada peningkatan kualitas derajat kesehatan masyarakat di Indonesia, khususnya di Jawa Timur,” ujarnya.
Pabrik Line 4, yang merupakan bagian dari PT Satoria Aneka Industri, menjadi tantangan baru dalam upaya meningkatkan kapasitas produksi di sektor farmasi. Khofifah menjelaskan bahwa keberadaan pabrik ini tidak hanya memperkuat pasokan infus, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan industri manufaktur lokal. “Dengan kapasitas produksi yang ditingkatkan, Satoria Pharma mampu memenuhi permintaan rumah sakit secara lebih stabil, sekaligus mendukung kemandirian industri farmasi nasional,” tambahnya.
Kerja Sama dan Penyerapan Produk Lokal
Kerja sama antara pabrik dan rumah sakit menjadi fokus utama dalam upaya meningkatkan kemandirian. Khofifah menyatakan bahwa 14 rumah sakit milik Pemprov Jatim akan menjadi bagian penting dalam menggandeng produsen lokal untuk mendistribusikan produk dalam negeri. “Kami berharap kerja sama ini mendorong penyerapan produk buatan Indonesia, termasuk infus yang diproduksi secara mandiri,” katanya.
Menurut Khofifah, pabrik Line 4 berperan dalam mengurangi ketergantungan pada impor, terutama dalam pasokan bahan farmasi. Dengan memperkuat produksi lokal, industri dapat menyesuaikan kebutuhan pasar sekaligus meningkatkan daya saing nasional. “Pabrik ini menjadi contoh nyata bagaimana hilirisasi bahan baku dapat dijalankan secara efektif,” lanjutnya.
Penguatan Sistem Kesehatan dan Kemandirian Industri
Khofifah menekankan bahwa keberadaan Satoria Pharma memberikan manfaat signifikan bagi sistem kesehatan Jatim. Dengan pasokan infus yang lebih stabil, pihaknya berharap pasien dapat menerima perawatan secara optimal. “Ketersediaan cairan infus yang terjamin dapat mendukung keberlanjutan layanan kesehatan, terutama pada masa darurat kesehatan seperti pandemi,” katanya.
Pabrik Line 4 juga diharapkan menjadi penopang bagi industri farmasi nasional. Pemprov Jatim akan memastikan bahwa rumah sakit yang menjadi mitra pabrik ini berperan aktif dalam menyerap produk-produk lokal. “Kami yakin bahwa 14 rumah sakit milik Pemprov Jatim akan menjadi pelopor dalam penggunaan produk dalam negeri,” ujarnya.
Peran Strategis dalam Substitusi Impor
Kehadiran Satoria Pharma menunjukkan kemajuan dalam upaya substitusi impor di sektor farmasi. Khofifah menyatakan bahwa pabrik ini berkontribusi pada pengurangan ketergantungan pada barang dari luar negeri. “Dengan memproduksi infus secara mandiri, kita bisa mengurangi biaya impor serta menjamin kualitas produk sesuai standar nasional,” katanya.
Pertumbuhan kapasitas produksi PT Satoria Aneka Industri, melalui unit bisnis Satoria Pharma, dianggap perlu didukung oleh sektor kesehatan. Khofifah menekankan bahwa kolaborasi antara produsen dan rumah sakit menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem industri yang sehat. “Rumah sakit harus menjadi bagian dari jaringan pemasaran produk dalam negeri, terutama untuk menciptakan ekonomi lokal yang lebih mandiri,” ujarnya.
Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Manusia
Dalam sambutannya, Khofifah menyebutkan bahwa peningkatan pasokan infus berdampak langsung pada kualitas layanan kesehatan masyarakat. “Dengan bahan baku yang diproduksi secara lokal, ketersediaan obat dan cairan infus bisa dijaga dengan lebih baik, terutama di daerah-daerah yang sering mengalami keterbatasan logistik,” katanya.
Khofifah juga menyoroti pentingnya penguatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) melalui peningkatan akses layanan kesehatan. “IPM menjadi tolok ukur kesuksesan pembangunan, dan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat adalah bagian penting dari hal tersebut,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kemandirian industri farmasi akan membantu mencapai tujuan pembangunan manusia yang lebih adil dan merata.
Tantangan dan Prospek di Masa Depan
Satoria Pharma, sebagai salah satu produsen infus terbesar di Indonesia, telah melakukan langkah strategis dengan memperluas kapasitas produksi. Khofifah menyebutkan bahwa pabrik ini berpotensi menjadi pusat distribusi yang mengurangi risiko keterlambatan pasokan. “Dengan produksi yang lebih besar, kita bisa memastikan kebutuhan rumah sakit tidak pernah terganggu,” katanya.
Kehadiran pabrik Line 4 juga berdampak pada perekonomian lokal. Khofifah menuturkan bahwa pengembangan industri manufaktur seperti ini bisa menyerap tenaga kerja dan meningkatkan nilai tambah dalam rangka hilirisasi. “Ini adalah langkah penting dalam menciptakan keberlanjutan ekonomi, sekaligus mendorong kemajuan teknologi produksi,” ujarnya.
Di sisi lain, Khofifah mengingatkan bahwa peningkatan kapasitas produksi perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas standar layanan kesehatan. “Kita tidak hanya fokus pada kuantitas, tetapi juga kualitas. Dengan memastikan pasokan yang teratur, layanan kesehatan bisa lebih efektif,” tutupnya.
