Latest Program: AS ingin China dan Rusia jadi bagian perjanjian nuklir baru
AS Mengusulkan China dan Rusia Ikut Perjanjian Nuklir Baru
Latest Program – Kota New York, PBB (ANTARA) – Amerika Serikat (AS) mengungkapkan keinginan untuk melibatkan Rusia dan China dalam perjanjian pengendalian persenjataan nuklir yang akan datang, menurut Christopher Yeaw, Asisten Menteri Departemen Luar Negeri AS yang bertugas di Biro Pengendalian Senjata dan Nonproliferasi, pada Jumat (1/5). Yeaw menyampaikan hal ini dalam Konferensi Peninjauan Para Pihak terhadap Traktat Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT), yang berlangsung di New York. “Presiden Donald Trump menegaskan bahwa perjanjian pengendalian senjata di masa depan harus diperbarui, dengan melibatkan dua negara nuklir utama, yaitu Rusia dan China, bukan hanya satu negara,” jelas Yeaw. Ia menekankan bahwa komitmen dari kedua negara tersebut sangat penting untuk menjaga keseimbangan keamanan global.
“Negara-negara yang memiliki senjata nuklir harus menunjukkan keseriusan dalam memenuhi kewajiban Pasal 6 perjanjian. Ini bukan hanya sekadar retorika, tetapi tindakan konkret,” tambah Yeaw.
Konferensi Peninjauan NPT dan Perjanjian New START
Perjanjian New START, yang merupakan kesepakatan pengurangan senjata strategis antara AS dan Rusia, akan berakhir pada 5 Februari 2026. Pada bulan September, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan bahwa Moskow siap melanjutkan kepatuhan terhadap pembatasan dalam perjanjian tersebut selama setahun dan mengusulkan agar AS juga melakukan hal serupa. Namun, hingga saat ini, AS belum memberikan respons resmi, sehingga perjanjian ini akhirnya berakhir tanpa perpanjangan. Kehilangan New START dikhawatirkan akan memengaruhi stabilitas hubungan nuklir antara kedua negara, terutama dalam konteks persaingan strategis yang semakin intens.
Dalam konferensi peninjauan NPT, Yeaw menyoroti kebutuhan untuk memperkuat kerja sama antar-negara nuklir utama. Ia menekankan bahwa China, yang kini menjadi negara nuklir terbesar keempat di dunia, harus dianggap sebagai pihak penting dalam perjanjian baru. “China memiliki peran yang tidak terpisahkan dalam keamanan global, dan mereka harus dipertimbangkan sebagai bagian dari pengendalian persenjataan nuklir yang lebih luas,” ujarnya. Hal ini sejalan dengan usulan yang telah dipertimbangkan oleh para pihak sejak lama, namun belum terwujud secara konkret.
Langkah Rusia dan Potensi Kolaborasi Tiga Negara
Kepala delegasi Rusia dalam konferensi peninjauan NPT, Andrey Belousov, menyatakan bahwa langkah Moskow akan ditentukan berdasarkan analisis kebijakan militer Barat serta situasi strategis secara keseluruhan setelah Washington menolak usulan perpanjangan New START. Di sisi lain, Wakil Menteri Luar Negeri AS Thomas DiNanno mengatakan bahwa terdapat peluang untuk menciptakan kerangka kerja tiga pihak, dengan AS, Rusia, dan China bekerja sama dalam mengawasi persenjataan nuklir global. “Kolaborasi antar-tiga negara nuklir utama bisa menjadi langkah penting dalam menjaga keseimbangan kekuatan nuklir di masa depan,” imbuh DiNanno.
Traktat Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT) dan Perannya
Traktat Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT) merupakan perjanjian internasional yang bertujuan mencegah penyebaran senjata nuklir, mendorong penggunaan teknologi nuklir untuk keperluan damai, serta mempercepat proses perlucutan senjata. Perjanjian ini ditandatangani pada tahun 1968 dan mulai berlaku pada 1970, menjadi fondasi utama bagi keamanan internasional. NPT memiliki tiga pilar utama: non-proliferasi, perlucutan senjata, dan penggunaan damai.
Pertama, non-proliferasi mencakup upaya mencegah negara-negara yang belum memiliki senjata nuklir untuk memproduksi atau memperolehnya. Kedua, perlucutan senjata menuntut negara-negara nuklir untuk mengurangi jumlah senjata mereka dan pada akhirnya memusnahkannya. Ketiga, penggunaan damai memberi hak kepada anggota perjanjian untuk mengembangkan teknologi nuklir demi energi dan tujuan non-militernya. Hampir semua negara di dunia telah menandatangani NPT, menjadikannya perjanjian dengan jumlah anggota terbanyak sepanjang sejarah.
NPT mengakui lima negara – AS, Rusia, China, Inggris, dan Prancis – sebagai pemilik resmi senjata nuklir karena mereka telah meledakkan senjata tersebut sebelum tahun 1967. Hal ini membuat negara-negara tersebut memiliki kewajiban lebih besar dibandingkan negara-negara lain dalam mengurangi jumlah senjata nuklir mereka. Selain itu, Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) bertugas memastikan bahwa bahan nuklir tidak digunakan untuk tujuan persenjataan tanpa izin, serta mengawasi penggunaan teknologi nuklir di seluruh dunia.
Kehilangan perjanjian New START memicu kekhawatiran bahwa AS dan Rusia akan kembali ke jalur peningkatan senjata nuklir, yang berpotensi memperburuk ketegangan global. Dengan mengajukan usulan perjanjian baru yang melibatkan China, AS berharap dapat menciptakan mekanisme pengendalian yang lebih inklusif dan efektif. Namun, beberapa ahli mengingatkan bahwa keberhasilan perjanjian ini bergantung pada kemampuan para pihak untuk menyelesaikan masalah politik dan strategis yang masih ada, terutama dalam konteks hubungan AS-Rusia yang terus berubah.
Dalam konteks ini, Yeaw menekankan bahwa NPT tetap menjadi pedoman utama, meskipun perlu diadaptasi sesuai dengan tantangan era baru. “Kita harus menggabungkan komitmen dari tiga negara nuklir utama untuk menciptakan sistem yang lebih seimbang dan berkelanjutan,” katanya. Di sisi lain, Putin menyatakan bahwa Rusia tetap bersedia menjadi bagian dari perjanjian baru, asalkan AS juga menunjukkan keseriusan dalam mengurangi jumlah senjata nuklirnya. Kedua belah pihak sepakat bahwa keterlibatan China akan memberikan dampak signifikan dalam menyeimbangkan kekuatan nuklir di dunia.
Menurut sumber dari Sputnik/RIA Novosti-OANA, perjanjian NPT telah menjadi pilar utama dalam memastikan bahwa senjata nuklir tidak terus berkembang secara tidak terkendali. Namun, dengan berakhirnya New START dan ketegangan antara AS-Rusia yang meningkat, perlu diadakan perjanjian baru yang mencakup ketiga negara nuklir utama. “Kolaborasi antar-tiga pihak bisa menjadi solusi untuk mengatasi kekhawatiran mengenai kenaikan jumlah senjata nuklir di masa depan,” ujar Yeaw. Kebutuhan ini semakin mendesak karena jumlah senjata nuklir global terus bertambah, meskipun masih ada kebijakan pengendalian yang berlaku.
Sebagai tambahan, Yeaw menyoroti pentingnya verifikasi internasional dalam mengawasi penggunaan bahan nuklir. “Kita perlu mekanisme yang transparan dan akuntabel untuk memastikan bahwa semua negara mematuhi prinsip NPT,” katanya. Dengan melibatkan China dan Rusia, AS berharap dapat menciptakan perjanjian yang lebih inklusif dan mencerminkan dinamika kekuatan global saat ini. Meskipun ada tantangan, keberhasilan perjanjian ini akan menjadi langkah penting dalam menjaga
