KSAD Respon Isu Penggusuran Sekolah di NTT untuk KDMP
Latest Program – Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak membantah isu bahwa personel Bintara Pembina Desa (Babinsa) menggusur bangunan sekolah di Ende, Nusa Tenggara Timur, untuk dijadikan koperasi desa merah putih. Menurut Maruli, kabar tersebut tidak masuk akal dan perlu diklarifikasi lebih lanjut. Ia menekankan bahwa tidak mungkin ada pihak yang sengaja membubarkan sekolah, apalagi jika institusi tersebut sudah terdaftar di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat.
“Enggak itu, banyak berita yang harus kami klarifikasi, ya. Kayaknya enggak mungkin se-ekstrem itu, ya. Masak ada sekolah ditiadakan seperti itu,” ujar Maruli di kompleks DPR, Senayan, Jakarta, pada Rabu, 10 Juni 2026.
Menurut Maruli, kejadian penggusuran sekolah bisa jadi hanya penyimpangan kecil atau kesalahan penggunaan alat berat, bukan tindakan besar yang menggusur seluruh fungsi pendidikan. Ia menyebut bahwa alat berat yang digunakan mungkin hanya untuk memudahkan akses ke lokasi pembangunan, bukan untuk menghancurkan sekolah secara permanen. “Menurut saya, enggak normal kalau ada orang membubarkan sekolah, sedangkan sekolahnya kan pasti sudah terdaftar di P&K,” lanjutnya.
Video Viral di Media Sosial Mengguncang Publik
Isu ini semakin memanas setelah video berdurasi sekitar 30 detik memicu perbincangan di berbagai platform media sosial. Video tersebut menunjukkan dua bagian yang berbeda: awalnya, seorang TNI menginspeksi plafon bangunan sekolah yang rusak, sementara di depannya terdapat eskavator yang tidak memiliki pengemudi. Selanjutnya, terlihat seorang pria berbadan tegap berdiri di eskavator sambil berdebat dengan sejumlah orang. Narasi di bawah video menyebutkan bahwa para orang tua dan tokoh adat di sekitar sekolah mengkritik rencana penggusuran yang dilakukan TNI.
Kejadian ini terjadi di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Wolomoni, Desa Niawula, Kabupaten Ende, pada Sabtu, 6 Juni 2026. Meski video tersebut menjadi perbincangan publik, Maruli menegaskan bahwa tidak semua yang terekam dalam video menggambarkan realitas utuh. “Realistisnya, kan, enggak mungkin ada sekolah yang sudah terdaftar di P&K, terus ditiadakan. Wah, ini bisa kena tuntutan hukum dia,” kata Maruli dalam wawancara yang sama.
Pembelaan Kepala Pusat Penerangan TNI
Kepala Pusat Penerangan Markas Besar TNI, Brigadir Jenderal Muhammad Nas, juga memberikan penjelasan terkait narasi yang menyebar di media sosial. Menurut Nas, video tersebut hanya menggambarkan sebagian kecil dari kejadian yang sebenarnya terjadi. “Yang bahaya caption-nya, yaitu Babinsa lebih mengutamakan KDMP dari pada sekolah,” ujarnya dalam jumpa pers di Mabes TNI, Jakarta Timur, pada Selasa, 9 Juni 2026.
Nas menegaskan bahwa pembangunan koperasi desa merah putih tidak memperluas kejadian penggusuran, tetapi justru dilakukan di belakang area sekolah. “Ia menyebut pembangunan koperasi dilakukan di belakang area sekolah tersebut dan bukan untuk menggantikan fungsi sekolah,” tambah Nas. Namun, ia mengakui bahwa akses ke lokasi pembangunan sempit, sehingga alat berat harus melintasi bangunan sekolah. Proses ini menimbulkan kontroversi, terutama setelah salah satu tiang sekolah tertabrak oleh eskavator.
Dalam situasi tersebut, Babinsa setempat berkoordinasi dengan pihak sekolah dan pemerintah daerah untuk menyesuaikan kegiatan pembangunan. Nas menjelaskan bahwa kesalahan itu tidak disengaja dan tindakan menggeser tiang sekolah hanya untuk menghindari gangguan pada operasional koperasi. “Karena itu, tindakan Babinsa tersebut dilakukan secara bertanggung jawab,” katanya.
Protes Warga Berawal dari Insiden Alat Berat
Menurut Nas, kemarahan warga yang terekam dalam video bermula dari insiden eskavator mengenai dahan pohon durian milik seorang ibu. “Alat berat kena pohon durian orang, katanya sebesar jempol kaki. Tapi ibu itu marah-marah, teriak-teriak karena ada alat berat di situ,” ujarnya. Meski demikian, Nas menegaskan bahwa pihak TNI tidak sengaja merusak bangunan sekolah, tetapi hanya berusaha mempercepat proses pembangunan.
Maruli juga membenarkan bahwa alat berat digunakan untuk membantu perluasan area koperasi, tetapi dengan upaya yang memperhatikan keberadaan sekolah. “Kita bisa bantu bangun koperasi merah putih, tapi jangan sampai sekolah bisa hilang begitu saja,” katanya. Ia menambahkan bahwa pihak TNI terus melakukan koordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan tidak ada kehilangan fungsi pendidikan yang signifikan.
Dalam konteks ini, Maruli menyoroti pentingnya sekolah sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia. “Sekolah itu sarana utama untuk membentuk generasi masa depan, jadi harus dijaga. Jangan sampai kebijakan kita justru merusak peran pendidikan,” tegasnya. Ia mengimbau agar pihak-pihak yang terlibat dalam rencana penggusuran sekolah tetap transparan dan menjelaskan prosesnya secara jelas.
Penjelasan Singkat dari KSAD
Mengenai kejadian tertabraknya tiang sekolah, Maruli menyatakan bahwa ini hanya kebetulan dan tidak menjadi alasan untuk menggusur seluruh bangunan. “Kita bisa bantu bangun koperasi merah putih, tapi jangan sampai sekolah bisa hilang begitu saja,” ulangnya. Ia juga menegaskan bahwa TNI berkomitmen untuk menjaga keberlanjutan pendidikan di daerah-daerah yang dipimpinnya.
Kepala Pusat Penerangan Nas menambahkan bahwa pihaknya sedang mengecek detail kejadian tersebut. “Kita sudah mulai verifikasi, dan hasilnya akan kami sampaikan ke publik,” jelas Nas. Ia berharap masyarakat dapat memahami bahwa tindakan TNI dalam penggusuran sekolah bukanlah untuk keuntungan pribadi, tetapi sebagai bagian dari upaya pembangunan yang lebih luas.
Dengan demikian, isu penggusuran sekolah di Ende, NTT, masih dalam proses klarifikasi. KSAD dan Kepala Pusat Penerangan TNI berjanji untuk menyelesaikan masalah ini secara transparan. “Kita pasti memberikan penjelasan yang jelas, agar tidak ada kesalahpahaman,” pungkas Maruli. Dengan langkah ini, pihak TNI berharap dapat memperbaiki citra dan menjaga hubungan baik dengan masyarakat setempat.
