Nasional

Main Agenda: BGN Kaji Ulang Sasaran Penerima MBG

rima MBG Main Agenda - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang merupakan salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, kini menjadi

Desk Nasional
Published Juni 19, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Main Agenda: BADAN Gizi Nasional Kaji Ulang Sasaran Penerima MBG

Main Agenda – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang merupakan salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, kini menjadi fokus perhatian BADAN Gizi Nasional (BGN). Dalam rangka menyesuaikan dengan kondisi sosial ekonomi yang semakin dinamis, BGN sedang mengkaji ulang skema penentuan sasaran penerima MBG 2027. Fokus utama dari Main Agenda ini adalah memastikan program tersebut tidak hanya mencakup jumlah penerima manfaat yang tepat, tetapi juga menjangkau kelompok yang benar-benar membutuhkan, dengan memperhatikan kerentanan gizi dan akses pangan yang terbatas. Pilihan editor: Sekolah Baru Prabowo: Sekolah Nasional Terintegrasi

Penyesuaian Sasaran Penerima MBG Berdasarkan Desil

BGN, melalui juru bicara Agustina Arumsari, menyatakan bahwa desil—yang menggambarkan distribusi pendapatan masyarakat—akan menjadi salah satu indikator penting dalam penentuan sasaran. Namun, desil tidak akan menjadi acuan tunggal, melainkan dipadukan dengan parameter lain seperti tingkat kerentanan gizi dan kemampuan akses masyarakat terhadap pangan bergizi. “Desil itu hanya salah satu indikator. Nanti ada kerentanan gizi, kondisi sosial ekonomi yang salah satu parameternya adalah desil, kemudian akses terhadap pemenuhan gizi,” jelas Arumsari dalam konferensi pers di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Kamis, 18 Juni 2026. Penyesuaian ini bertujuan untuk mengoptimalkan distribusi bantuan, sehingga memperkuat Main Agenda pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat.

Kriteria Penentuan Sasaran yang Lebih Komprehensif

Dalam upaya mengukur kebutuhan anggaran MBG tahun depan, BGN sedang menyusun kriteria penentuan sasaran yang lebih beragam. Arumsari menegaskan bahwa kelompok masyarakat yang berada di wilayah dengan tingkat kerentanan gizi tinggi, pendapatan rendah, dan akses terhadap pangan yang terbatas, akan menjadi prioritas. “Kalau memang dia berada di daerah yang rentan gizi, kondisi sosial ekonominya rendah, dan akses terhadap pemenuhan gizinya rentan, itu bisa menjadi pertimbangan bagi kami untuk melakukan refocusing kepada pihak lain yang lebih membutuhkan,” tambahnya. Meski demikian, BGN belum menetapkan kelompok desil mana yang akan diprioritaskan, karena masih terus mengolah data dan menguji berbagai skenario.

Perubahan ini juga mencerminkan upaya BGN untuk meningkatkan keadilan dalam distribusi bantuan. Sebelumnya, asumsi jumlah penerima manfaat sebanyak 81 juta orang yang menjadi dasar usulan anggaran MBG 2027, dinilai berpotensi terlalu besar jika dibandingkan dengan kebutuhan riil dan kondisi fiskal saat ini. Arumsari menuturkan bahwa BGN sedang menyusun ulang sejumlah asumsi, termasuk mekanisme penargetan yang lebih akurat. “Angka itu lahir dari asumsi 81 juta penerima manfaat. Angka tersebut masih kami anggap terlalu besar,” katanya. Dengan Main Agenda ini, pemerintah berharap dapat mengalokasikan dana lebih efisien, sehingga manfaat program MBG bisa lebih optimal.

Penyesuaian sasaran MBG juga diharapkan mampu mengurangi kesenjangan antara kelompok yang lebih mampu dan yang kurang mampu. Selain desil, BGN menimbang berbagai faktor seperti tingkat konsumsi gizi, tingkat kesulitan ekonomi, dan kebutuhan spesifik masyarakat tertentu. Misalnya, anak-anak di bawah usia lima tahun atau lansia yang rentan defisiensi gizi, akan menjadi target utama dalam penyesuaian ini. Pilihan editor: Benarkah Ada Upaya Penggembosan Demonstrasi Mahasiswa

Arumsari menekankan bahwa keputusan akhir tentang skema penyaluran MBG 2027 akan diambil setelah analisis mendalam dilakukan. “Kajian tersebut dilakukan di tengah upaya BGN mengevaluasi kebutuhan anggaran program MBG tahun depan,” ujarnya. Dalam proses ini, BGN bekerja sama dengan Kementerian Keuangan untuk menyusun formula yang lebih tepat dan responsif terhadap kondisi masyarakat. Main Agenda ini menjadi bagian dari kebijakan yang bertujuan untuk memastikan program MBG tidak hanya sekadar simbol, tetapi benar-benar memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan dan kesehatan masyarakat.

Sebagai bagian dari Main Agenda, kajian ulang sasaran MBG juga melibatkan pengumpulan data dari berbagai sumber, termasuk survei lapangan dan analisis kebutuhan makanan bergizi. BGN ingin memastikan bahwa penerima manfaat tidak hanya dilihat dari pendapatan, tetapi juga dari aspek kesehatan dan risiko tertentu yang mereka alami. Dengan mempertimbangkan semua faktor ini, BGN berharap dapat merumuskan skema yang lebih inklusif dan berkelanjutan, sehingga program MBG bisa terus berjalan sesuai dengan tujuan awalnya yaitu meningkatkan kualitas hidup masyarakat miskin dan rentan.

“Main Agenda ini adalah langkah penting untuk memastikan bahwa program MBG tidak hanya melayani kelompok tertentu, tetapi juga mencakup semua lapisan yang membutuhkan,” kata Arumsari. Ia menambahkan bahwa hasil kajian ini akan menjadi dasar untuk pengambilan keputusan yang lebih rasional dan berbasis bukti.

Leave a Comment