Nasional

Solving Problems: Unggahan Pride Month SUMA UI, Humas: Bukan Sikap Kampus

Unggahan Pride Month SUMA UI, Humas: Bukan Sikap Kampus Pernyataan Erwin Agustian Panigoro Solving Problems - Direktur Hubungan Masyarakat, Media, Pemerintah

Desk Nasional
Published Juni 14, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Unggahan Pride Month SUMA UI, Humas: Bukan Sikap Kampus

Pernyataan Erwin Agustian Panigoro

Solving Problems – Direktur Hubungan Masyarakat, Media, Pemerintah, dan Internasional Universitas Indonesia, Erwin Agustian Panigoro, mengklarifikasi bahwa unggahan terkait Pride Month dan isu orientasi seksual serta identitas gender yang diterbitkan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Suara Mahasiswa atau SUMA UI tidak mencerminkan sikap resmi kampus. “Isi unggahan tersebut berasal sepenuhnya dari pandangan organisasi kemahasiswaan, bukan wakil dari Universitas Indonesia secara keseluruhan,” jelas Erwin dalam wawancara pada Sabtu, 13 Juni 2026.

“Konten tersebut tidak mencerminkan sikap resmi Universitas Indonesia maupun keseluruhan sivitas akademika UI,” ujar Erwin.

Erwin menegaskan bahwa kebebasan berpendapat menjadi bagian integral dari lingkungan akademik yang demokratis. Menurutnya, kemahasiswaan diberi ruang untuk menyampaikan gagasan secara kritis dan bertanggung jawab. “Mahasiswa bebas mengekspresikan pandangan mereka, tetapi harus tetap menghormati prinsip-prinsip etika akademik dan keharmonisan,” tambahnya.

Konteks dan Penjelasan Lebih Lanjut

Sebagai institusi pendidikan tinggi, UI berpegang pada nilai-nilai Pancasila, peraturan perundang-undangan, dan norma sosial yang berlaku di Indonesia. Erwin menyebutkan bahwa kampus berkomitmen pada integritas, martabat manusia, serta lingkungan akademik yang aman dan kondusif. “Nilai-nilai tersebut menjadi dasar mutlak dalam menjabarkan Tri Dharma Perguruan Tinggi,” lanjutnya.

“UI menjunjung tinggi integritas, penghormatan terhadap martabat manusia, serta senantiasa mengupayakan terciptanya lingkungan akademik yang aman, tertib, dan kondusif,” papar Erwin.

Erwin menjelaskan bahwa Pride Month, yang dibahas dalam unggahan SUMA UI, mencerminkan upaya untuk menyuarakan isu-isu keadilan dan hak asasi manusia. Namun, ia menekankan bahwa tidak semua anggota masyarakat kampus setuju dengan pandangan tersebut. “Kampus adalah tempat di mana berbagai pandangan bisa bertemu, tetapi tetap dalam kerangka yang terukur dan terpimpin oleh etika akademik,” imbuhnya.

Di sisi lain, SUMA UI dalam unggahannya menyoroti adanya diskriminasi dan persekusi terhadap komunitas LGBTQ+ di Indonesia, termasuk di lingkungan kampus. Mereka menilai bahwa kebebasan berbicara tentang isu ini adalah wujud dukungan terhadap keadilan dan perlindungan hak individu. “Pandangan SUMA UI bertujuan untuk menekankan pentingnya melawan kekerasan dan menjaga martabat manusia,” kata Erwin.

Keseimbangan Kebebasan dan Tanggung Jawab

Erwin menambahkan bahwa kebebasan berekspresi harus diiringi tanggung jawab sosial. “Kita harus memastikan bahwa setiap pendapat yang disampaikan tidak menyebabkan polarisasi atau perpecahan di tengah masyarakat,” tegasnya. Ia mengingatkan bahwa kampus memiliki peran penting dalam menciptakan ruang dialog yang sehat, di mana berbagai pandangan bisa dipertukarkan tanpa melupakan kepentingan kolektif.

“Kebebasan berekspresi harus selalu diiringi dengan tanggung jawab sosial agar perbedaan pandangan tidak memicu polarisasi atau perpecahan di tengah masyarakat,” demikian Erwin.

Erwin juga menyebutkan bahwa pimpinan UI sedang menindaklanjuti dinamika yang muncul akibat unggahan tersebut. Langkah ini dilakukan untuk mengevaluasi apakah kegiatan kemahasiswaan sudah sesuai dengan Kode Etik dan Tata Tertib Mahasiswa UI. “Proses peninjauan dilakukan bersama tim otoritas kampus terkait, agar semua aktivitas senantiasa sejalan dengan prinsip kebebasan akademik yang bertanggung jawab,” kata Erwin.

Langkah Evaluasi Internal

Menurut Erwin, penelaahan internal terkait unggahan Pride Month dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah faktor. Pertama, kesesuaian unggahan dengan nilai-nilai Pancasila, terutama sila kedua yang berisi kemanusiaan adil dan beradab. Kedua, pengamatan terhadap dampak sosial yang dihasilkan oleh konten tersebut. “Kita ingin memastikan bahwa setiap kegiatan kemahasiswaan tidak hanya menggambarkan kebebasan individu, tetapi juga memberi manfaat bagi seluruh komunitas,” jelasnya.

“Proses ini dilakukan bersama otoritas kampus terkait untuk memastikan bahwa setiap aktivitas kemahasiswaan senantiasa sejalan dengan Kode Etik dan Peraturan Tata Tertib Mahasiswa UI, serta berpedoman pada koridor kebebasan akademik yang bertanggung jawab,” papar Erwin.

Dalam upaya menjaga harmoni, Erwin menegaskan bahwa UI tetap mendukung dialog yang konstruktif. “Kampus harus menjadi tempat di mana semua suara bisa terdengar, tetapi tidak mengorbankan keberagaman dan toleransi,” imbuhnya. Ia berharap melalui langkah-langkah evaluasi, muncul kesepakatan bersama antara mahasiswa, dosen, dan pihak berwenang untuk menciptakan lingkungan yang seimbang.

Persatuan dan Aspirasi Konstruktif

Erwin mengajak seluruh sivitas akademika dan masyarakat untuk saling menghormati. “UI percaya bahwa iklim kampus yang sehat dibangun melalui penyampaian aspirasi yang baik dan penghormatan terhadap nilai-nilai luhur yang menjadi dasar kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” tegas Erwin.

“UI mengajak seluruh sivitas akademika dan masyarakat luas agar saling menghormati dan menjaga persatuan,” demikian Erwin memungkas.

Kepala Humas UI ini menekankan bahwa kebebasan berpendapat bukan berarti kebebasan untuk mengabaikan norma. “Kita bisa berbeda pendapat, tetapi harus tetap menjaga komunikasi yang santun dan memperhatikan dampaknya terhadap keharmonisan,” ujarnya. Ia mengatakan bahwa evaluasi internal akan memperkuat kebijakan kampus dalam menjaga keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab.

Dalam konteks global, Pride Month sering dianggap sebagai momentum penting untuk menyoroti hak-hak LGBTQ+. Namun di Indonesia, isu ini masih menghadapi tantangan dalam penerimaan masyarakat luas. Erwin menyebut bahwa SUMA UI mencoba memperkenalkan pendekatan kritis terhadap topik ini, sekaligus memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menjelaskan visi mereka. “Pemahaman tentang orientasi seksual dan identitas gender harus terus diperluas, agar tidak menjadi bahan kontroversi yang

Leave a Comment