Skip to content
Newsletter

Menelisik Operasi Pengaruh di Ruang Digital

Maya Rahman - tempatdonasi.com 3 mins read

Menelisik Operasi Pengaruh di Ruang Digital Latest Program - Selamat datang, pembaca setia nawala Cek Fakta Tempo!

Menelisik Operasi Pengaruh di Ruang Digital

Menelisik Operasi Pengaruh di Ruang Digital

Tempatdonasi.com – Selamat datang, pembaca setia nawala Cek Fakta Tempo! Dalam kurun waktu hampir satu minggu sejak insiden penyiraman air keras kepada Andrie Yunus, Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), terjadi lonjakan aktivitas di platform media sosial. Ratusan akun palsu mulai bergerak aktif di TikTok dan X, menyebarkan narasi yang seragam. Mereka berupaya memoles citra bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI) bergerak cepat dalam menangkap empat anggotanya yang menjadi tersangka dalam kasus percobaan pembunuhan tersebut.

Menjelang akhir Mei 2026, data menunjukkan sedikitnya seribu akun anonim telah mengunggah total 10 ribu konten di kedua platform tersebut. Pesan yang disampaikan konsisten, yakni membangun narasi positif yang mendukung TNI dalam penanganan kasus Andrie Yunus. Gelombang unggahan tidak organik ini membanjiri ruang digital di tengah kritik luas dari masyarakat sipil terhadap pengadilan militer yang selama ini dinilai menjadi ruang impunitas bagi para anggota militer.

Disinformasi dan Legitimasi Peradilan Militer

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menilai narasi pelegitiman peradilan militer tersebut sebagai bentuk disinformasi yang disengaja. Propaganda ini disebarkan dengan tujuan mengaburkan tuntutan agar anggota militer yang terlibat penyerangan terhadap Andrie Yunus diadili di peradilan sipil, bukan di pengadilan militer. Hal ini menjadi penting karena pengadilan militer sering kali dianggap kurang transparan dan cenderung melindungi anggotanya dari hukuman yang adil.

Pengungkapan jaringan akun tidak organik ini merupakan hasil kolaborasi Tim Cek Fakta Tempo bersama Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet) dan Data & Democracy Research Hub. Investigasi ini merupakan bagian dari program pemantauan operasi pengaruh domestik digital yang mengancam demokrasi Indonesia. Operasi pengaruh domestik merupakan kampanye terkoordinasi oleh otoritas negara untuk memengaruhi opini politik dalam negeri melalui media sosial. Kontennya dirancang agar tampak alami seolah-olah dibuat oleh pengguna biasa, sehingga sulit dibedakan dari konten organik.

Sejarah dan Struktur Pasukan Siber

Praktik manipulasi ini bukan hal baru dalam politik Indonesia. Peneliti Wijayanto dan tim sebelumnya telah mendokumentasikan operasi serupa pada era Presiden Jokowi melalui tiga studi kasus. Riset selama lima tahun itu kemudian dibukukan oleh LP3ES dengan judul “Pasukan Siber: Operasi Pengaruh dan Masa Depan Demokrasi Indonesia”. Buku ini menjadi referensi penting dalam memahami bagaimana teknologi digital digunakan untuk memanipulasi opini publik.

Struktur pasukan siber ini bergerak dari atas ke bawah secara hierarkis. Di puncak komando, ada klien selaku pemesan dan penyandang dana operasi. Di bawahnya, koordinator bertugas mengarahkan gerakan, menyusun narasi kampanye dan tagar, serta merekrut personel. Alur berlanjut ke pembuat konten yang merancang visual berupa meme, gambar, dan teks khusus. Narasi utama kemudian ditiupkan oleh pemengaruh (influencer) yang bermodal basis pengikut besar. Kasta paling bawah diisi oleh pasukan siber, yakni individu-individu pengelola ratusan akun palsu yang bertugas mengamplifikasi pesan pada waktu tertentu menggunakan bantuan bot semi-otomatis.

Dampak terhadap Demokrasi dan Debat Publik

Peneliti Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) Belanda, Prof. Ward Berenschot, mengingatkan keberadaan pasukan siber merusak kualitas debat publik karena isu-isu disetir sesuai agenda pemberi kerja. Kebebasan berekspresi warga dan aktivis pun terancam oleh serangan digital terstruktur yang semakin canggih.

Dampak lainnya, akuntabilitas demokrasi melemah lantaran opini publik dimanipulasi untuk membenarkan kebijakan penguasa. Walhasil, posisi oligarki kian kokoh karena hanya elite bermodal besar yang mampu mengoperasikan pasukan siber ini. Hal ini menciptakan ketidakseimbangan dalam ruang publik di mana suara rakyat sering kali tenggelam di bawah gelombang narasi yang direkayasa.

Bagaimana jaringan pasukan siber ini bekerja dalam kasus Andrie Yunus? Baca laporan selengkapnya di Tempo Interaktif: Operasi Pro-TNI dalam Kasus Andrie Yunus.

Dalam sepekan terakhir, klaim yang beredar di media sosial memiliki beragam isu, mulai dari isu internasional, politik, hukum, hingga kesehatan. Buka tautannya ke kanal Cek Fakta Tempo untuk membaca hasil periksa fakta berikut:

Kenal seseorang yang tertarik dengan isu disinformasi? Teruskan nawala ini ke surel mereka. Punya kritik, saran, atau sekadar ingin bertukar gagasan? Layangkan ke sini. Ingin mengecek fakta dari informasi atau klaim yang anda terima? Hubungi Tipline kami.

Ikuti kami di media sosial:

WhatsApp Channel | Facebook | Twitter | Instagram

Join the discussion