Main Agenda: Wakil Ketua MPR tekankan penguatan semangat kolektif tata pendidikan nasional
Wakil Ketua MPR Tekankan Penguatan Semangat Kolektif dalam Tata Pendidikan Nasional
Main Agenda – Di Jakarta, Rabu, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat (Rerie) menyoroti pentingnya memperkuat kesatuan tujuan dalam perbaikan sistem pendidikan nasional. Menurutnya, upaya ini bertujuan membentuk generasi muda yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, nilai karakter yang kuat, serta semangat kebangsaan yang tinggi. “Kita sedang berada di titik kritis, di mana prinsip pendidikan nasional masih belum sepenuhnya diterapkan dalam kurikulum yang digunakan sehari-hari,” jelas Rerie dalam pernyataannya. Hal tersebut disampaikan saat membuka diskusi daring dengan tema “Dilema Pendidikan Masa Depan dan Masa Lalu: Ke Mana Arah Pendidikan Indonesia” yang diadakan oleh Forum Diskusi Denpasar 12.
Menjadi Pilar Pendidikan Berbasis Amanat Konstitusi
Menurut Rerie, pendidikan nasional tidak boleh hanya mengikuti dinamika pasar, tetapi harus berakar pada visi yang diamanatkan dalam konstitusi. “Pendidikan harus menjadi fondasi untuk memajukan kehidupan bangsa secara keseluruhan, bukan sekadar menghasilkan tenaga kerja yang siap mengisi industri,” tegasnya. Selain itu, ia menyoroti bahwa sistem pendidikan perlu dirancang agar mampu mengembangkan kekuatan intelektual dan emosional siswa sekaligus memperkuat nilai-nilai budaya yang menjadi bagian dari identitas nasional.
Peran Perguruan Tinggi dalam Masa Depan
Menyambut diskusi, Direktur Kelembagaan Ditjen Pendidikan Tinggi Kemendiktisaintek Mukhamad Najib menambahkan bahwa penguatan pendidikan tinggi menjadi bagian penting dalam mewujudkan visi Indonesia pada tahun 2045. Ia menyebutkan, hingga 2025, jumlah perguruan tinggi di Indonesia akan mencapai 4.416 institusi, yang secara tahunan menghasilkan sekitar 1,7 juta lulusan. Namun, ia mengingatkan bahwa sebagian besar perguruan tinggi masih bersifat sebagai lembaga pengajaran (teaching university) dan belum sepenuhnya bertransformasi menjadi pusat riset (research university) yang mampu menghasilkan inovasi berbasis penelitian.
“Diperlukan penyesuaian besar dalam kualitas pendidikan tinggi agar mampu menangani tantangan era digital dan globalisasi,” ujar Najib.
Kebutuhan Pendidikan yang Lebih Luas
Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia Melani Budianta menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh hanya direduksi menjadi alat memenuhi permintaan pasar. Menurutnya, sistem pendidikan perlu berperan aktif dalam menjawab perubahan global yang kompleks, seperti pergeseran lingkungan, migrasi urban, digitalisasi, dan krisis kohesi sosial. “Masyarakat kita saat ini rentan terhadap dampak dari berbagai transisi multidimensi ini,” kata Melani.
“Sistem pendidikan saat ini mulai kehilangan peran dalam membentuk ingatan kolektif dan pewarisan budaya yang menjadi fondasi pembentukan karakter,” tambahnya.
Strategi untuk Menghadapi Tren Global
Di sisi lain, Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Universitas Negeri Surabaya (UNESA) Martadi mengingatkan bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan memproduksi SDM yang siap bekerja, tetapi juga sebagai alat membangun kemampuan kehidupan yang lebih luas. Ia menekankan perlunya kesiapan mempersiapkan siswa agar mampu menghadapi perubahan global dalam dua dekade mendatang, termasuk integrasi dunia, penggabungan ilmu pengetahuan, dan percepatan pengembangan teknologi. “Tugas negara adalah menjaga keseimbangan antara pendidikan akademik, nilai agama, dan tradisi budaya,” ungkap Martadi.
Pengaruh Kebijakan Pasar terhadap Pendidikan
Pakar pendidikan Indra Charismiadji memberikan perspektif lain, menyoroti bahwa penyesuaian program studi berdasarkan kebutuhan industri perlu dilakukan secara cermat. Ia mencatat, ketimpangan antara jumlah pencari kerja dan peluang kerja masih berlangsung setiap tahun. “Kebijakan ini bisa berdampak pada kesetaraan pendidikan, terutama jika tidak didasari analisis mendalam terhadap kebutuhan jangka panjang,” jelas Indra.
Kesejahteraan Guru sebagai Penentu Keberhasilan
Seorang wartawan senior, Saur Hutabarat, menekankan pentingnya kesejahteraan guru sebagai faktor utama dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Ia mengusulkan peningkatan gaji guru hingga tiga kali upah minimum regional, agar mereka mampu berkontribusi optimal dalam proses belajar-mengajar. “Guru yang tidak memiliki penghasilan yang memadai akan kesulitan memenuhi tuntutan pendidikan yang semakin dinamis,” tambah Saur.
Perspektif Global dalam Pendidikan Nasional
Melalui diskusi ini, berbagai pandangan mengemuka tentang peran pendidikan dalam membentuk generasi penerus bangsa. Rerie mengingatkan bahwa perubahan kurikulum dan metode pembelajaran harus berorientasi pada semangat kolektif, yang melibatkan kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat. “Kita harus mengejar pendidikan yang mengintegrasikan kecerdasan intelektual dengan kekuatan moral dan budaya,” katanya.
Langkah untuk Memperkuat Nilai Budaya
Dalam konteks ini, Melani Budianta menekankan bahwa nilai-nilai budaya tidak boleh diabaikan. Ia mengkritik ketidakseimbangan antara fokus pada materi akademik dengan pengembangan karakter, yang berujung pada penurunan peran pendidikan dalam membangun identitas nasional. “Kita perlu menciptakan sistem pendidikan yang bisa memupuk rasa nasionalisme sejak dini, melalui pendekatan holistik,” jelas Melani.
Transformasi Sistem Pendidikan dalam Perspektif Global
Indra Charismiadji menyoroti bahwa kebutuhan pasar bisa menjadi alat untuk mengoptimalkan sistem pendidikan, tetapi tidak boleh mengabaikan aspek ekonomi dan sosial yang lebih luas. “Program studi harus dirancang agar mampu menghasilkan lulusan yang mampu beradaptasi
