Skip to content
Seleb

Material Keramik Albert Yonathan dalam Lorong Waktu

Wahyu Kurniawan - tempatdonasi.com 4 mins read

nathan dalam Lorong Waktu Solution For - Seorang seniman dari Bandung, Albert Yonathan Setiawan (43), kembali mempersembahkan karya-karyanya ke Indonesia

Material Keramik Albert Yonathan dalam Lorong Waktu

Material Keramik Albert Yonathan dalam Lorong Waktu

Tempatdonasi.com – Seorang seniman dari Bandung, Albert Yonathan Setiawan (43), kembali mempersembahkan karya-karyanya ke Indonesia setelah tinggal di Jepang hampir sepuluh tahun. Kali ini, ia memamerkan karya-karyanya dalam sebuah pameran solo di Ara Contemporary, Senopati, Jakarta Selatan. Pameran berjudul Hypnagogia|Tracing Time ini akan berlangsung dari 22 Mei hingga 28 Juni 2026.

Karakteristik Karya dan Kekhasan Material

Albert dikenal konsisten menggunakan bahan keramik, dengan pendekatan yang mencerminkan karakteristik arsitektural. Karya-karyanya menggabungkan garis, diagonal, serta irasionalitas, menciptakan visual yang memikat dan menantang. Selain itu, ia juga menghadirkan elemen yang meminta penonton untuk merenung tentang konsep waktu.

Untuk memperkaya tekstur, Albert menggunakan tanah liat putih yang biasanya dipakai dalam pembuatan keramik. Bahan ini dicampur dengan mangaan, menghasilkan warna coklat gelap yang mengubah kepadatan material menjadi lebih cair. Proses ini memudahkan pengerjaannya di cetakan gypsum, yang menjadi media utama dalam memproduksi karya-karyanya.

Inspirasi dan Visual Estetik

Karya-karya yang dipajang menghadirkan ilusi visual yang menarik. Beberapa di antaranya terlihat seperti garis-garis jauh, sementara yang lain mengingatkan pada miniatur jendela. Ada juga yang memperlihatkan struktur fasad bertingkat, seolah menggambarkan bangunan yang hidup dalam ukuran mikroskopis. Ia mengulang motif-motif ini menjadi bentuk-bentuk utuh, menciptakan karya yang sekaligus realistis dan surreal.

Menurut Albert, keestetisan karya-karyanya terletak pada kombinasi warna. “Saya ingin tampilan yang padat, tapi dari karakter warna ada estetikanya, karakteristik kering,” ujarnya dalam wawancara dengan Tempo, 22 Mei 2026. Warna coklat muda hasil campuran tanah liat putih dan mangaan mengingatkan pada kardus kering, memberikan kesan yang unik dan misterius.

Konteks Inspirasi dan Karya Khusus

Karya-karya ini terinspirasi dari pemandangan kota Tokyo, Jepang, khususnya fasad-fasad bangunan perkantoran dan apartemen yang memagari jalanan. Tidak seperti Kyoto, tempat ia tinggal sebelumnya, pemandangan ini terasa akrab tapi juga asing. “Saat naik kereta atau bersepeda, selalu terlihat bangunan-bangunan itu. Mereka mengingatkanku pada sesuatu yang familiar, namun juga tak logis,” kata Albert.

Menurutnya, keirasionalitas dari visual tersebut muncul karena banyak manusia yang tinggal di dalam “kotak-kotak” tersebut. “Jendela-jendela kecil yang ada, seperti organisme konkret. Ada kehidupan, tapi terasa surreal,” imbuhnya. Karya-karya ini menggambarkan hubungan antara manusia dan ruang, dengan nuansa kehidupan yang tak biasa.

Karya Khusus dan Teknik Membuat

Salah satu karya dalam pameran ini diberi judul From Constants-Spatial Tesselation-#14 Windows Frames (2026), sementara karya lainnya bernama From Constants-Spatial Tesselation-#9 (Pillar and stairs, 2026). Kedua karya ini menggambarkan bentuk-bentuk arsitektural yang terlihat seperti ceruk dan bangunan bertingkat. Albert mengulang proses cetakan untuk menghasilkan karya-karya ini.

Untuk menghidupkan visual karya yang mirip miniatur jendela dan fasad, ia menggunakan teknik cahaya. Dengan memainkan sinar lampu, ia menciptakan bayangan yang memperkaya dimensi karya. Sinar ini dianggap seperti matahari pagi atau sore yang menyinari sebagian bangunan, menciptakan ilusi waktu yang mengalir.

Bahan dan Proses yang Berbeda

Dalam pameran ini, Albert menghadirkan 310 karya cetakan mikroskopis. Tingginya hanya mencapai sekitar 10 sentimeter, tetapi kehadirannya tetap mencuri perhatian. Ia tetap menggunakan tanah liat putih sebagai bahan dasar, namun kali ini juga menambahkan tanah merah pada beberapa karya. Kombinasi ini memberikan variasi tekstur dan warna.

Karya-karyanya yang berjudul Annica menggunakan satu cetakan untuk memproduksi semua satuan. Cetakan ini menampilkan landasan kecil berbentuk bunga teratai, mengingatkan pada bentuk-bentuk alami yang terkait dengan kehidupan. Albert mempertahankan konsep ini sebagai pengulangan motif yang sekaligus menggambarkan irama alamiah dan arsitektural.

Perjalanan Seniman dan Pengakuan Internasional

Albert pernah mewakili Indonesia dalam gelaran seni internasional, seperti Venice Biennale. Pengalaman ini membantu ia mengembangkan pendekatannya terhadap material dan konsep seni. Dalam pameran Hypnagogia|Tracing Time, ia menggabungkan pengalaman tersebut dengan inspirasi lokal, menciptakan karya yang terasa hangat namun tetap berani.

Menurutnya, pameran ini juga menjadi kesempatan untuk mengeksplorasi bagaimana waktu memengaruhi persepsi seni. “Karya ini seperti lorong waktu, menggambarkan perjalanan dari kehidupan nyata ke bentuk-bentuk abstrak,” ujarnya. Hal ini terlihat jelas dalam setiap detail karya yang menyimpan makna lebih dari sekadar bentuk fisik.

Komentar Editor dan Penekanan Karya

Pilihan Editor: – Wajah Seni Keramik Indonesia – Mengenal Dolorosa Sinaga, Seniman Patung yang Karyanya Dikagumi Megawati

Instalasi karya Albert Yonathan Setyawan dalam pameran Hypnagogia|Tracing Time di Ara Contemporary, Kebayoran Baru, Jakarta, 22 Mei 2026. Tempo/Muhammad Zaki Fauzi

Proses pembuatan karya-karyanya menunjukkan keahlian dalam manipulasi material. Dengan menggabungkan tanah liat putih dan mangaan, ia menciptakan warna yang kontras dan tekstur yang menarik. Karya-karya ini bukan hanya sekadar benda, tapi menjadi representasi dari perjalanan waktu dan ruang.

Dalam pameran ini, Albert menunjukkan bagaimana kreativitasnya mengubah bahan sederhana menjadi karya yang mendalam. Kombinasi antara teknik tradisional dan interpretasi modern membuatnya unik, memberikan pesan yang berkembang dari konteks Jepang ke lingkungan seni Indonesia.

Join the discussion