ESDM: Kegempaan Gunung Awu di Kepulauan Sangihe-Sulut meningkat

ESDM: Aktivitas Kegempaan di Gunung Awu Kepulauan Sangihe Sulut Mengalami Peningkatan

ESDM – Manado, Rabu – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa intensitas kegempaan di Gunung Awu, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara (Sulut), telah mengalami kenaikan. Pada periode pengamatan 4 Mei 2025, tercatat sebanyak 74 kejadian gempa vulkanik dangkal, menunjukkan adanya perubahan pola aktivitas vulkanik di area tersebut.

Laporan dari Badan Geologi

Dalam pernyataan yang dibagikan oleh Kepala Balai Pemantauan Gunung Api dan Mitigasi Bencana Gerakan Tanah Sulawesi dan Maluku, Badan Geologi, Juliana DJ Rumambi, dijelaskan bahwa aktivitas kegempaan Gunung Awu saat ini berada dalam kondisi yang lebih dinamis dibandingkan sebelumnya. Pemimpin tugas dari Badan Geologi, Lana Saria, menegaskan bahwa peningkatan ini harus diwaspadai karena dapat menjadi indikator awal dari kemungkinan erupsi.

“Pemantauan kegempaan pada tanggal 4 Mei 2025 menunjukkan terjadinya peningkatan kegempaan pada gempa vulkanik dangkal yang mencapai 74 kejadian,” ujar Lana Saria dalam laporan yang diunggah.

Data Kegempaan Pada 5 Mei 2025

Pada 5 Mei 2025, dari pukul 00.00 hingga 12.00 WITA, tercatat 15 kejadian gempa vulkanik dangkal, 2 kali gempa vulkanik dalam, dan 23 kejadian gempa tektonik jauh. Selain itu, ditemukan gempa-gempa berfrekuensi rendah yang berkaitan dengan aliran fluida di dalam sistem magma, meski hingga saat ini belum teramati secara signifikan.

Embun asap kawah Gunung Awu masih teramati berwarna putih dan tipis, dengan ketinggian antara 20 hingga 200 meter di atas kubah lava. Peningkatan aktivitas ini dikaitkan dengan beberapa faktor, termasuk keadaan sistem magma yang masih aktif serta peningkatan gempa tektonik di wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara sejak April 2026.

Peringatan untuk Masyarakat

Kepala Balai Pemantauan Gunung Api dan Mitigasi Bencana Gerakan Tanah Sulawesi dan Maluku, Badan Geologi, menyarankan masyarakat untuk tidak memasuki area dalam radius tiga kilometer dari pusat kawah Gunung Awu. Hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko paparan terhadap bahaya erupsi magmatik atau freatik yang dapat terjadi jika tekanan di dalam sistem magma mengalami perubahan signifikan.

Badan Geologi juga mengingatkan masyarakat agar tetap tenang dan mematuhi rekomendasi yang dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Selain itu, disarankan untuk tidak terpengaruh oleh informasi tidak akurat atau berita yang menyebarkan ketakutan tanpa dasar.

Sejarah Aktivitas Gunung Awu

Gunung Awu, yang merupakan gunung api aktif, telah menunjukkan kecenderungan peningkatan aktivitas kegempaan sejak April 2024. Salah satu momen signifikan terjadi pada tanggal 24 dan 25 Agustus 2024, saat diobservasi sebanyak 364 kejadian gempa vulkanik dangkal dalam satu hari. Kondisi ini menunjukkan adanya swarming yang menjadi perhatian para ahli.

Peningkatan frekuensi gempa vulkanik tersebut berdampak pada tingkat waspada yang lebih tinggi. Saat ini, Gunung Awu berada dalam Level II (Waspada), yang menandakan aktivitasnya masih dalam batas normal namun memerlukan pemantauan lebih ketat. Kesadaran masyarakat untuk menghindari area berpotensi bahaya sangat penting untuk mencegah dampak serius.

Kemungkinan Bahaya dan Rekomendasi

Potensi erupsi magmatik atau freatik dari Gunung Awu tetap menjadi ancaman yang perlu diwaspadai. Peningkatan gempa vulkanik dangkal menjadi indikator bahwa sistem magma sedang bergerak, dan jika tekanan meningkat drastis, mungkin terjadi pelepasan energi yang menyebabkan erupsi.

Dengan mengacu pada tingkat aktivitas yang stabil di Level II, Badan Geologi memberikan peringatan bahwa masyarakat harus tetap berhati-hati. Area sekitar kubah lava bisa mengalami perubahan tajam jika terjadi peningkatan tekanan dalam sistem magmatik. Maka, untuk mengurangi risiko, diharapkan masyarakat menghindari akses ke zona berbahaya hingga kondisi stabil.

Respons dari Pihak Terkait

Kepala Balai Pemantauan Gunung Api dan Mitigasi Bencana Gerakan Tanah Sulawesi dan Maluku, Badan Geologi, secara aktif memberikan pemutakhiran terkait aktivitas Gunung Awu. Tim pemantau terus memantau kondisi gempa dan kubah lava untuk memastikan informasi yang diberikan tepat dan dapat diandalkan.

Dalam konteks ini, Badan Geologi mengimbau masyarakat tidak mengabaikan peringatan yang diberikan. Penyebaran informasi yang akurat sangat penting untuk meminimalkan kepanikan dan menjaga kesehatan serta keselamatan publik. Peningkatan kegempaan di Gunung Awu bukan hanya fenomena lokal, tetapi juga terkait dengan dinamika geologis yang lebih luas di wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara.

Kesimpulan dan Pentingnya Kewaspadaan

Kemajuan teknologi pemantauan di Gunung Awu memberikan kemampuan untuk mendeteksi perubahan kecil dalam aktivitas vulkanik. Peningkatan frekuensi gempa vulkanik dangkal, serta sinyal dari gempa tektonik jauh, membentuk gambaran bahwa Gunung Awu masih dalam fase fluktuasi.

Perlu diingat bahwa Gunung Awu memiliki sejarah erupsi yang tercatat, dan kegempaan yang meningkat bisa menjadi tanda bahwa aktivitasnya mulai berubah. Dengan memperhatikan pola gempa dan keadaan asap, serta mengikuti arahan instansi terkait, masyarakat bisa lebih siap menghadapi potensi bahaya yang mungkin muncul.

Saat ini, pihak Badan Geologi tetap optimis bahwa Gunung Awu masih dalam kondisi yang dapat dikendalikan. Namun, langkah-langkah pencegahan seperti pembatasan akses ke area terdampak tet